Malulah Dengan Subuh

Sebagai orang muda penuh gairah semangat dan harapan yang tinggi tentu malu apabila tak mernah melihat riuh nya subuh. Semakin malu apabila benar – benar tahu dan merasakan riuh nya orang – orang beraktivitas di subuh hari sedangkan dia sebelumnya tak tahu. Ibu – ibu tua mengayuh sepedah serta membawa setumpuk sayur yang akan dijual ke pasar, Nenek – nenek tua berjalan penuh semangat ingin hidup, yang tentu berharap umurnya kelak menjadi lebih panjang.

Gambaran tersebut tak akan kita jumpai dilain waktu kecuali subuh hari. Betapa malu kita, sebagai muda yang semangat masih saja berselimut dan bermimpi indah diatas tempat tidur, tak pernah melihat riuh subuh itu. Sungguh malu benar – benar malu.

Kalau orang yang lebih berumur dari kita bisa seperti itu, kenapa kita tak melakukannya sama. Kenapa harus menunggu tua. Bukannya kita sama – sama tahu bahwasannya subuh adalah pintu rejeki mulai dibuka. Kenapa kita tak tertarik dengannya. Sungguh aneh benar – benar aneh.

Sebagian muda yang lain, subuh adalah waktu pulang . Waktu yang tak diharap. Subuh adalah akhir dari sebuah kenikmatan. Baginya subuh harusnya tak perlu datang. Biarkan gelap malam terus bersamanya, bersenang – senang dengannya. Sungguh merugi orang demikian. Menjadikan malam hanya luapan nafsu. Kelak mereka akan sadar. Karena nafsunya membawa dia kepada penyesalan. Sungguh.

Pagi dan siang akan pasti terlewatkan . Dan ia akan terus bertemu malam dan kemudian bercumbu nafsu dengannya lagi terulang. Lagi dan lagi terus begini sampai dia akan merasa bosan. Lalu bertanya kemana saja aku kemarin? Duh rugilah muda yang demikian.

Kami dapatkan Subuh ini. Ini jelas punya-MU demikian juga kebesaran yang ada didalamnya. Semua yang aku lihat, segala urusan manusia, malam dan siang dan segala yang terjadi pada keduanya, semuanya kepunyaan-MU. maka dari itu jadikan ini permulaan hari suatu kebaikan. Semoga.

Iklan