Ayah & Teman Jailnya

Lahir dijaman awal kemerdekaan, Dia adalah anak laki – laki pertama dari 6 saudara. Ayahnya meninggal ketika sekolahnya baru duduk di kelas 6 SD. seingatnya demikian. Sebagai anak laki-laki yang mempunyai 5 saudara dan diantaranya jarak umur tidak terpaut jauh. Bayangkan betapa susahnya keluarga ini. Keluarga janda dijaman itu. Sandang pangan papan begitu sulit. Tak ada yang gampang seperti sekarang. Tulang punggung keluarga harus ditanggungnya sendiri. maklum saudaranya yang lain 4 perempuan dan adik laki- lakinya masih kecil pula. Dengan keadaan seperti ini jiwa tanggung jawab tentu muncul begitu saja, tanpa harus diperintah. Keinginan merubah nasib, ingin menjadi lebih baik adalah hasrat yang terus meluap sepanjang waktu.

Bisa bersekolah adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa baginya. Tentu tak semua orang mau untuk sekolah di jaman itu. Tapi tidak baginya. Dia bertekad merubah nasib dengan bersekolah sebaik mungkin. Walaupun pikirannnya tidak fokus pada pendidikan saja, karena harus memikir nasib bagaimana adik – adiknya , keluarganya makan dan bagaimana keluarganya agar terus bisa hidup. Pulang sekolah bukan waktu untuk bermain. Diselatan rumah mereka terdapat gunung, hutan dan pantai. Disinilah sumber makanan ada. Setiap pulang sekolah dia pergi ke pantai dan gunung. Mencari apa saja yang bisa dimakan. Memancing, membantu nelayan menarik jala dilaut, Lalu pulang dengan harapan membawa lauk ikan untuk santapan makan keluarga besarnya. Keluarga dirumah menanti, Harap – harap cemas apakah ada makanan yang biasa dimakan hari ini. Berdoalah mereka. Dan ini adalah kegiatan rutin setiap hari, setidaknya sampai mereka semua bener – bener sudah punya keluarga sendiri- sendiri.

Ujian akhir sekolah atau sekarang disebut Ebtanas adalah kenangan tersendiri baginya, Ingat betul dia. Karena ada satu cerita yang tidak mungkin lupa begitu saja. saat itu kakeknya adalah seorang ketib. Ketib adalah pembantu bidang keagaaman setingkat desa. Keluarga ini jelas sangat menekankan kehidupan yang berpegangan dengan prinsip religius. Zaman itu kita semua tentu ingat, Komunisme sangat besar sekali. Orang – orang yang mengaku dari golongan komunis selalu percaya diri dan leluasa. Jadi jangan heran ketika kita dari golongan religius selalu dapat intimidasi ketika menjalankan ibadah setiap harinya. Termasuk juga keluarga ini.

Dia punya temen satu sekolah yang selalu mengolok – ngoloknya. “ngapain sujad sujud kayak begitu”. Intimadasi keagaaman terus terjadi. Membiarkan dan diam adalah  cara untuk melawan. Tapi ada hal yang menarik ketika pengumuman hasil ujian akhir sekolah keluar. Orang jail tersebut tidak lulus sehingga tak bisa melanjutkan sekolah lebih lanjut, Dan alhamdullilah satu dari segelintir orang yang lulus dari sekolah adalah orang yang dijailinya. Kala itu arti sebuah kelulusan sangatlah besar sekali. beda dengan jaman sekarang. Tak ada itu namanya nyontek. Jangankan nyontek .. berkata hus pun sama guru saja bisa mala petaka besar. Zaman yang penuh kekerasan tetapi hasilnya juga lebih membahagiakan dibanding sekarang. Ketidak lulusan orang jail tersebut membuatnya takut sama keluarga, lalu bagaimana ia mengatasinya. Ia bertemu dengan teman yang selalu dijailinya. Minta tolong untuk meminjam ijazah. untuk dicopy alias dibajak. Hahh orang nggak tahu malu kali ya? Dalam keadaan terburuk ia minta tolong tetapi dalam keadaan baik ia mencela. Orang seperti apa ini? Lalu sikap apa yang ditunjukan orang yang dimintai tolong tersebut.

Dengan sukarela dia menyerahkan ijazahnya. Ijazah yang didapatkan dari hasil belajar dengan keras. Tanpa meminta syarat apapun. Hah.. apa yang dipikirnya saat itu? Kenapa ia begitu gampang memberikan ijazahnya kepada orang yang setiap hari menjailinya. Baginya membantu orang yang meminta tolong itu lebih baik dan utama daripada mendendam orang. Itulah satu – satunya alasan. Tak ada alasan lain selain itu. Akhirnya dengan ijazah hasil bajakan ini orang jail bisa melanjutkan sekolahnya ke pendidikan PGSD . Dan sekarang sudah menjadi pensiunan kepala sekolah. Beruntuhlah kamu. Sangat beruntung sekali punya teman sebijak itu.

Iklan