Kalimat Terakhirnya …

Senja yang muncul sore hari tentu indah bagi mata yang melihat. Warnah merah kadang ungu nampak menghiasi akhir siang kita, siang penuh aktivitas manusia dengan segala kesibukan duniawai. Mengartikan senja sebagai akhir dan awal sebuah kehidupan tentu ada alasannya. Begitupun aku. Aku yang mencintai senja melebihi waktu – waktu yang lain. Senja adalah ingatan, ingatan dimana ibuku mengucapkan kalimat untuk yang terakhir kali. Tak mudah memang menjumpai orang meninggal dalam keadaan sadarkan diri. “Sepertinya waktu sudah sampai senja, tak lama lagi aku berpulang. Tolong kasih aku pelajaran. Pelajaran apa saja yang sekiranya belum diajarkan kepadaku” Itulah pertanyaan ibu kepada ayah sesaat sebelum meninggalkan kita semua. “Semua yang ilmu yang aku tahu sudah aku ajarkan kepadamu. Sudah semua. semua yang aku mampu. Sekarang tinggal ucapkanlah laaillahaillallah dan syahadat.” Ayah menjawab pertanyaan tersebut. Alhamdulilah beliau bisa mengucapkan kalimat – kalimat yang mensucikan Allah sebelum memejamkan matanya untuk yang terakhir kalinya. Walaupun kami kehilangan, tetapi keikhlasan untuk merelakan itu muncul begitu memaksa. Seperti halnya mengantar orang pergi ke tempat yang lebih baik, jadi mana mungkin kita tak merelakannya. Senyum dan tangis bercampur menjadi satu. Sungguh pengalaman spiritual yang benar – benar nyata datang padaku.

Orang yg punya firasat begitu kuat sudah pergi meninggalkan kita semua, orang yang punya telepati kuat sudah tak ada lagi. Dulu sewaktu masih bersama, aku seperti diawasi setiap hari dimanapun aku berada. Ia tahu, merasa dan benar – benar tahu. Firasatnya sungguh seperti orang punya kaca sihir. Jarak yang jauh bukan alasan untuk membohongi. Malu kalau aku mengingat, betapa kadang – kadang tak jujur kepadanya. Tapi ia tak marah melainkan malah menasehati dan menangis. Yapz , menangis adalah senjata pamungkas beliau untuk berkomunikasi dengan anak – anaknya. Tangis membuat kita semua tak tega, itulah ibu. Pendiam, Tak pernah berkata bosan walau rutinitasnya sebenarnya terlihat membosankan. tak pernah hidup dalam keadaan mengeluh.  Bukan lulusan sarjana melainkah hanya pendidikan pertama. Menikah dengan guru agamanya di sekolah itu. Dan selalu menganggap dirinya murid sampai terakhir hidupnya. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di alam yang katanya indah itu. Maka dari itu lihatlah kami, lihatlah betapa kami susah untuk mencari bekal menuju kesana. Dan tolong tetaplah sabar menunggu kita datang 🙂 . Tak usah mencemaskan kita, kita disini baik dan sempatkanlah datang ketika mata kita terpejamkan dalam tidur. Thanks Bund …

Iklan