Bertiga Di Atas Atap Sebuah Mall

Malam itu aku berdiri bersama perempuan cantik di atas atap sebuah mall di kota B. Jelas banget ingatanku tentangnya. Matanya berbinar, wajahnya riang. penuh canda tawa kita. Menikmat pentas musik diatas gedung. Sungguh benar – benar romantis kan? Iyalah … bahagialah aku waktu itu. Asal tahu saja, Ajakan menonton pentas musik datang dari dia. Senang tentunya. Cewek cantik broh yang ngajakin, bukan saya.

Berdiri kita di kerumunan manusia yang berteriak – teriak melihat Artis Idolanya bernyanyi. Aku tak peduli sama semuanya yang ada dikanan kiriku, aku hanya fokus pada bibirnya yg berbicara lembut. Ingin aku segera menyentuhnya dengan bibirku, mumpung semua orang tak terlalu peduli dengan orang sekitar. Dan kemudian ia menarik tanganku. “Agak maju yuk, didepan sepertinya lebih bagus” . Kuikuti tarikan tanggannya yang lembut itu. Dihati berdebar – debar mimpi apa aku semalam. Bisa nonton musik di atas gedung bertingkat,diatas atap pula(secara event-event seperti ini jarang sekali ada) bersama wanita cantik dan diajak pula. Sungguh perasaanku meledak – ledak tak karuan.

Duarr…. Mataku tak berkedip beberapa detik. Siapa yang ku lihat dihadapku. Ini jelas tak mungkin. Jelas ia kesini mengajakku sendiri, tak bermaksut untuk nonton bersama yang lain. Lagian menurut sepengatahuanku keduanya lagi tak baik hubungannya. Kalau memang ia ingin ngajakin pria lain kenapa harus ngajakin aku pula. Aku masih punya bukti di pesan messangger. Serius, aku tak mengada – ngada tentang itu. Benar aku masih punya buktinya. Tetapi siapa orang yang kulihat didepan mata sekarang. Pria yang jelas aku kenal. Siapa dia tak penting untuk diceritakan. Aku pura – pura saja tak tahu tentangnya. Dan aku memaksakan menikmati pensi, walau agak kikkuk tapi terus aku paksakan. Jelas gensi dong tapi juga campur bingung. Nggak ngeh apa yg ada dipikiran perempuan aneh ini.

selingkuh2-300x225

Sumber Ilustrasi : mbah Google.com

Duarrrr , aku merasa ada kepala yang bersandar. Jelas ini bukan Kepala dia, tak mungkin ini. Seandainya ia mau bersandar tentu bukan kepadaku, melainkan ke pria yang  …. kampret itu. Pura-puralah aku seperti patung yang tak kuasa menahan angin. Lalu kupaksakan untuk melihat siapa yag bersandar, iya aku sedikit terkejut, benar ia wanita itu. Lemas ,,,, sungguh hilang jiwa keganasan seorang laki-laki saat mata melihat benar ia yang ada di padaku sekarang. Tapi anehnya beberapa saat kemudia  ia menyandarkan kepalanya ke pria yang datang tak diundang tadi. Coba bayangkan kira – kira apa yang ada dipikiran perempuan ini? Anjrit seketika hatiku seperti bercampur aduk . Harga diri seperti di injak – injak . Masak ia laki – laki dua wanitanya satu. Kagak lucu kan.  Kisah roman manapun juga nggak bakal ada yang kayak gini. Sungguh diluar kemampuanku untuk menerka – nerka maksudnya apa…

Seketika kaki ingin berlari mencari jalan keluar untuk pulang, pulang melupakan kejadian malam itu. Sungguh malu, Mungkin bulan sedang tertawa dan mungkin tersedu melihat ketiga manusia yang ada dibawah sinarnya. Tiga anak manusia yang memalukan. Belum lagi malu kepada mata orang yang melihat fenomena yang terjadi dihadap mereka. Sungguh benar – benar kampretlah malam itu. / candi_olo

Iklan