Bulan: Agustus 2014

Secangkir Kopi Sahabat

Mita tertawa terkekeh – kekeh, di sudut kantin, di bawah ruang laboratorium Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang. Mendengarkan cerita Syarif yang baru pulang dari Jakarta. Lagi – lagi bercerita tentang pengalaman menjadi penyanyi yg hampir rekaman dan nyaris terkenal. “Hampir ? …..” Tanya Mita kemudian tertawa.

51946477c2f9b_51946477c4cacDi sela – sela cerita, syarif berbicara menyoal eksistensi band – band baru yg lagi ngeHits di telinga anak muda saat ini.

“Lagu Tulus keren – keren, Unik lagi …. Masak iya sepatu sama gajah dijadikan judul lagu. Mungkin dia kekurangan stock judul kali. Hahaha” ungkap syarif di tengah perbincangan.

“Ojo ngenyek kon. Tulus Iso dadi artis mergo usahane dewe. Ora koyok band – band liane seng mek tinggal mbayar mene ne langsung kondang neng TV nasional” Tegas Mita menimpali.

“Haloo … Halo….. Apa itu maksutnya kok bawa – bawa nama Tulus segala” Bimbi berkomentar sambil tersenyum mendengarkan kedua temannya mengulas masalah musik. Maklum Bimbi sangat ngefans berat sama musik terutama musik jazz. Sepertinya ia tak rela kalau mendengar nama Tulus dicatut dalam perbincangan tanpa mengikutsertakan pendapatnya.

Silang sengkarut menjamurnya groub dan penyanyi serta artis karbitan. Modal tampang, suara pas – pasan. Tapi lagunya bisa ngehits. Inilah yang bisa dirasakan di Indonesia sekarang. “Kok bisa ya, lagu yang jaman soekarno dulu dibilang musik ngak ngik ngok, sekarang bisa dengan mudah diputar di radio dan menduduki chart papan atas tiap minggu”.

“Ya nggak terkenal gimana,Kalau Lagunya diputer terus di TV secara paksa. Ditambah lagi artisnya mejeng terus di mana –mana, di banner, spanduk, baliho besar di tengah kota sampai – sampai dibungkus kartu perdana im3 juga ada. Belum lagi yang di iklan – iklan televisi, Koran, majalah dan tabloid”

Syarif sangat antusias membahasnya. Entah itu karena memang dia paham betul dengan masalah musik atau mungkin karena rasa kesalnya yang gagal rekaman di Jakarta karena kurang duit. Sekarang kalau sudah punya duit banyak, besoknya kita tinggal datangi produser, lalu bikin album. Paginya tampil di acara musik promo yang tayang di tv. Jangan lupa mengundang penontong bayaran. Minimal itu dulu yang dilakukan kemudian bisa sukses,

“kopinya di minum dulu… keburu dingin lhoh.”

Syarif meneruskan pendapatnya “Masalah terkenal itu sudah bisa diatur sama budget, tangan produser serta cukong – cukong cina. Inilah kejahatan musik yang terjadi sekarang ini. Semua dikuasai para cukong dan mafia. Nggak hanya dunia birokrasi pemerintahan saja yang sedang dilanda. Bahkan ruang – ruang publik serta ruang – ruang kreativitas juga sedang mengalami hal serupa.

“Wah…” Kalau itu benar terjadi, artinya sangat menggangu dong. Terutama bagi kebangkitan industri kreatifitas bangsa kita. Bukannya Industri Kreatif lagi digadang menjadi tumpuan baru bagi sumber pendapatan devisa Negara nantinya. Tapi kok realitanya malah terbalik gitu. Negara sepertinya diam melihat realitas yang terjadi di depan mata mereka. Ungkap Bimbi dari sudut pandangnya sebagai akademisi teknik industri.

“Jelas ini penjajahan intelektual. Masak iya bangsa kita terus dijejali musik – musik yang jauh dari kata berkualitas. Parahnya lagi, mereka menjajah setiap hari lewat ruang – ruang public yang harusnya ada peran Negara disitu.” Syarif berkomentar dengan pedas. Mungkin komentar ini masih bercampur emosi dikarenakan dia gagal terkenal karena kurang duit saat mau rekaman di Jakarta. Hehehe

Bimbi kembali tersenyum mendengarkan komentar syarif yang begitu berapi – api. Bimbi memang tidak menyukai musik – musik yang katanya populis itu. Kalau nggak percaya. coba tanya dia “band apa saja yang tampil di dahsyat/inbox pagi tadi?” . Kalau dia disuruh wajib menjawab. Pastilah jawaban itu Abdul And Coffe Theory atau Nggak ya Endah and Rheza. Jawabnya ngawur mengira – mengira. Dia memang suka musik – musik indie daripada musik populis. Memang saat ini kualitas musik indie jauh lebih baik. Tak heran kalau band – band seperti Navicula, The Sigit , Atau Endah and Rheza malah sering tampil di luar negeri daripada di dalam negeri. Lalu apa Negara Tidak tahu dengan Realitas ini? Entahlah …………….

Kuping Mita sedikit terbakar mendengar celoteh dan uneg – uneg Syarif. Tapi mau dikata apa, Syarif adalah sahabatnya dari SMA. Lagian keduanya pernah ngeband bareng waktu SMA. Ditambah lagi keduanya 2 tahun dalam kelas yang sama. Jadi bagi Mita, uneg – uneg seperti itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. Kopi sudah kelewat dingin. Bimbi pergi sebentar ke penjaga kantin untuk memesan Kopi untuk yang kedua kali, meniggalkan kedua temannya yang serius berdiskusi mengenai musik.

***

urlxSyarif, Mita dan Bimbi masih antusias membahas Topik yang sama. Mita sesekali bernyani dan bermain guitar supaya perbincangan itu tak terasa membosankan disamping syarif dan bimbi yang sibuk ngecek jalur linimasa di halaman twitter.

“Masak Iya, Artis ecek – ecek kayak gini punya Follower jutaan. Paling – paling yang follow kalau nggak setan ya dedemit” Syarif berdesis saat mengecek twitternya.

“Opo eneh rif?” Tanya Mita dengan Tegas.

“Rif… Mendingan kamu buat cover – cover lagu di youtube, siapa tahu dengan cara itu kamu bisa dikenal orang lain. Lagian Cover lagu nggak pakai biaya mahal kan. Daripada sensi terus-terusan gitu” Hayohhh….. Bener nggak? ”, Saran Bimbi menimpali.

Syarif terdiam sejenak dan merenungkan ide Bimbi tersebut, Sepertinya benar apa yang dikatakan Bimbi. Daripada buang – buang duit hanya untuk menjadi terkenal. Mendingan uangnya dibelikan Kamera dan alat Recording sendiri. Dengan Youtube, menjadi terkenal bukan hal yang mustahil kan.

***

Nampak diluar kantin hujan sudah berhenti, kopi yang kedua pun juga sudah habis. “Mbak mau asistensi laporan praktikum progkom, Boleh?” adik tingkat Bimbi mendatangi meja tempat ketiga teman tersebut ngopi di kantin. “Iya sebentar ya,” jawab Bimbi di iringi senyum ramah kepada adik tingkatnya. Memang begitu dia, kepada siapa pun ia tak sungkan – sungkan berbagi senyum manisnya. Maka tak jarang banyak dari adik tingkatnya kesengsem sama mbak yu yang satu ini. #abaikan

Mita dan Syarif pun lantas mengakhiri perbincangan mereka. “Kopi sudah tak bayar” dan ketiganya kemudian pergi dari kantin lab. Tak lama mita Meninggalkan meja, Telepon berdering lalu diangkatnya. “Iya pak.. Siap“ Jawab mita dalam genggaman teleponnya. Nampaknya Manajer Mita sedang mengabari jadwal promo album untuk minggu depan. Mengenai hal ini syarif tak tahu menahu kalau Mita sudah gabung dalam kelompok Girlband bersama Tina toon and the gank sebulan yang lalu. Mita pun langsung mencari tiket pesawat untuk ke Jakarta menyelesaikan promo albumnya ditengah – tengah kesibukannya kuliah di malang. Sedangkan Syarif pergi melenggang begitu saja, katanya sih mau ke basecamp anak – anak EO di sebelah lapangan basket kampus.

Sekian dulu ceritanya, lain kali saya lanjutkan. Quota internet gue sudah habis nih, hehehe ….

( Cerita ini 90 persen Fakta, sedangkan yg 10 persen Ngopinya )

 

Iklan

Cerita Ruang 402 .

Makan di kantin kampus yang sesak, kemudian mbak yang dagang teriak lantang “Mass …. Nasinya nambah dua ya?” . Rasanya pengen di telan syahrini. #abaikan. Begitulah tweet teman saya yg membuat saya tersenyum dan sedikit lupa tugas – tugas kuliah hari ini.

BELAJAR GUITAR [80 X 100 Cm]Jadwal kuliah memang terasa agak panjang. Setelah sholat dhuhur usai, 6 SKS mata kuliah siap berjalan estafet. Ini sudah biasa, terutama bagi siapa saja yg sedang mengambil kuliah 24 sks atau mengulang SKS yg gak lulus tahun sebelumnya. Saya masuk golongan yang kedua.

Ruang 402, Ruang kuliah yg ada di puncak gedung kampus kami. Naiknya masih manual. Tentunya,Ini bisa membakar kalori buat mereka yang lagi menjalani program diet. Berbahagialah mereka. 15 Menit kami terlambat memulai mata kuliah “Otomasi Industri”. Ya selalu begitu. Entah kapan bangsa ini bisa terlepas dari budaya karet.

Sudah hampir 2 SKS Dosen berbicara menggebu – gebu, bak penjajah mau nyerang kita saja. Apa nggak lelah bu? Entahlah … Mungkin beliau sedang datang bulan. Wanita selalu begitu. Bukannya proses belajar mengajar adalah proses dimana 2 kepentingan bisa berdialog, bertukar pikiran dengan baik. Tak ada yang dominan disitu. Harusnya kan gitu ya? Tapi ini tidak,bu dosen nyrocos terus, padahal gelarnya juga masih Insyiur.

Sayapun jadi nglantur. Pikiran kemana – mana. Cucian sudah dua minggu di londri, MU kalah semalam lawan Swansea. Yahhh ….. Luis Van Gal memang suka Humor. Oh iya Bang Haji Muhidin sudah pulang haji belum ya?. Begitulah pikiran kalau kurang fokus.

“ Nasi campur mak roh sebungkus, lauknya ayam” . Ini ada sms masuk ke handphone saya.

Teman saya di Kos sendirian, motornya ku pinjam dari pagi. Dan baru sekarang dia nitip makanan.

Anak mahasiswa selalu begini, Sarapan sama makan siang di rampel jadi satu. Derita yang selalu diwariskan. Apa begini yang disebut merdeka itu?. Di kampung kami bisa makan teratur, tapi tidak kala di perantauan. Tapi anehnya banyak dari teman kita yg selalu nulis status “ sedang menjalani program diet”. Hah diet, ? .

Wahai anak – anak mami yang manja. Tolong dong sesekali kalian tanya kepada teman seperjuangan kalian di kampus. Berapa hari mereka makan? Seberapa bergizinya makanan itu? Pernah nggak ? Memang …. Anak mami. Selalu apatis dan tak ingin tahu dunia social sekitar. Teganya, pamer bilang kalau dirinya kebanyakan Gizi dan takut gendut. Dietlah mereka. Sudah …. Sudah , saya mencoba berdamai dengan pikiran saya. Ke inget teriakan mbak penjaga kantin yg nanyain nasinya 2 tadi. Hahaha.

Mungkin pikiran ini terlalu sensi buat kalangan penggemar Status sedang diet. Tapi saya juga kasihan sama Lutfi yg mesan nasi campur tadi. Bayangkan saja, Dia baru makan sekali karena menghemat jatah uang kiriman bulanan orang tuanya. Dan di dunia lain banyak yg nggak kober makan karena takut dibilang gendut. Sudah … sudah ……. Bu Dyah nerangin Otomasi Industri tadi sudah sampai mana?

Nggak loh, kok bisa MU kalah semalam . Bukannya Luis Van Gaal kasih kejutan saat kejuaran pra musim?. Liverpool bisa kita gilas 1-3. Apa mungkin Luis Van Gaal sedang memperingati agustusan. Kalah berarti berada di bawah klasemen. #Salam 20 jari, 20 tangga yang harus dinaiki. Naik berarti ke puncak. Lalu apa bedanya dengan panjat pinang ? Iya. Luis Van Gaal paham betul makna itu, Makna kesuksesan berarti di akhir bukan di awal. Awal adalah kesengsaraan. Akhir adalah kebahagiaan. Dan untuk meraih kebahagiaan 20 tangga posisi klasemen harus dinaiki sedikit demi sedikit. Masih ada waktu kok, Kita hanya perlu bersabar tiap minggu. Liverpool 25 tahun saja sabar. Konsistensi dan kesabaran belajarlah ke mereka.

“Tugas dikumpulin minggu depan” ujar Bu Dyah mengakhiri kuliah “Otomasi Industri”.

Ternyata sudah hampir 5 jam saya ngelantur di dalam ruangan 402 ini. Tapi alhamdulilah kuliahpun terasa lebih cepat. J .

Jauh Lebih Baik Gabung Liverpudlian

Ini IMHO lho yah…. (anak FN tahu bener istilah itu) nggak banget untuk ledekin atau jatuhin pilihan politik yang berbeda pandangan dengan gue. Pagi yang masih segar gini aku coba menyalakan televisi. Dengan tujuan dapat berita up to date pagi ini. Pilihan kali ini beda. TV one, kumantabkan hati ini untuk menyaksikannya.

“ Mbak Sinta rambutnya sudah agak panjangan sekarang, terlihat anggun.” Tanpa mengurangi rasa hormat. Mbak memang benar lebih cantik pagi ini, beda ketika rambutnya masih pendek dulu.

Bentar dulu mbak SInta ya, di dapur saya kayaknya ada suara minyak mendidih. Oh iya tadi aku mau buat Tahu goreng. Menyusul Cabe dan Kopi sudah siap menemani. Dengan kopi, Tahu goreng bersama Cabe sudah cukup buat pagi terasa lebih santai. Sederhana mudah kok. Memang begini kalau satu keluarga laki – laki semua. Hal urusan dapur terpaksa memahami. Ibu sudah lama absen. Kurang lebih 4 tahunan. Beliau lebih tepatnya sudah Resign dari dapur. Kabar terbaru sih katanya lagi kongkow – kongkow di Café sebelah sama Malaikat Ridwan. J

Ini Ikhwal pak Prabowo sebenarnya, Bukan masalah dapur saya. Konon kabarnya waktu ada unjuk rasa di patung kuda saat putusan MK kemarin, beliau sempet – sempetin nengok pendukungnya di Rumah Sakit. Beliau kasihan sama pendukungnya yang katanya TV one di hajar babak belur sama pak polisi. Kronologisnya saya kurang paham. Karena “paham” tanpa melihat , mendengar dan menyaksikan pasti akan termentahkan pula di depan Hakim.

Pak prabowo yang saya hormati. Hendaknya kalau bapak perhatian dan kasihan sama pendukung bapak sedari dulu. Pilihan Legowo dari awal dan tidak menurunkan massa di jalanan mungkin putusan yg lebih baik buat bapak. Toh nyatanya putusan MK juga tidak berpihak pada bapak. Harusnya memang dari awal ya pak? …. Tapi kenapa bapak terkesan abai.

Saya kok malah lebih mengapresiasi bapak kalau seandainya Bapak mau mengucapkan kemenangan kepada Presiden Terpilih kita Bapak Joko Widodo, daripada buat berita yg meliput bapak merasa kasihan sama pendukung bapak yg di hajar polisi tadi. Walaupun sebenernya Nengokin Ormas pendukung bapak kala mereka babak belur nggak ada salahnya juga.

Bapak harusnya bangga seperti yang dirasakan kita semua, bagaimana tidak, sekarang DKI sudah punya Gubernur keren. Bapak Ahok kami cintai pak, dan kami tahu beliau kader Bapak. Maka dari itu kebahagiaan itu harusnya bisa dirasakan bareng kan pak. Kami melihat segenggam harapan itu ada kala Bapak Ahok, Bapak Joko Widodo, Ridwan Kamil, Bima Arya, Ganjar Pranowo serta Ibu Risma muncul memimpin bangsa ini. Saya yakin bapak juga bangga kan ………

Yuk pak mari, kita move on bareng – bareng. Lima tahun bukan waktu lama untuk memujudkan lagi impian bapak yg sempat terhenti. Masalah menunggu dan sabar kita bisa berguru bareng ke teman saya liverpudlian. 25 Tahun justru mereka bergembira. Dua puluh lima tahun pak……. J

Untung ada Dik Raisa ……….

Umur kita tak beda jauh, lebih afdolnya kupanggilah dia “dik”

raisa_by_evarinys-d6rrcfn“Dik” Raisa mau kemana? tanyaku.
Ke Hatimu Kak, …
Oke baiklah…
Maka dari itu jangan iri kalian.

Apa jadinya kalau televisi tak ada senyum dik Raisa. Walau senyum ibu Iriana sudah cukup manis buat tayangan Apa Kabar Indonesia, tapi belum lengkap kalau belum melihat senyum dik raisa buat pagi ini.

Amerika boleh pede menyebut dirinya pengendali kedamaian di muka bumi. Tapi tidak buat kami. “Dik Raisalah” sebenar – benarnya pengendali itu. Orang jangan cepat – cepat percaya kalau Israel menyerang Palestina karena agama, boleh jadi Tentara – tentara itu sama sekali tak pernah paham betul betapa merdunya suara dik raisa adriana,sehingga mereka menyiptakan suara – suara rudal untuk memecah kesunyian malamnya.

Sapa tahu Prabowo menggugat hasil Pilpres bukan untuk mencari keadilan, tapi hanya untuk mencari sedikit perhatian dik raisa agar supaya harapan atas kesendiriannya bisa berakhir. Sapa tahu masalah anak kuliah tak lulus – lulus bukan karena malas ngerjain skripsi. Tetapi mereka males lulus karena masih kerasan bisa menyaksikan konser Raisa di Aula kampus tiap Disnatalis. Ya semua itu serba “siapa tahu” yang jelas Tuhan Maha Asyik karena pernah menyiptakan dik Raisa Adriana dengan tujuan membuat orang – orang yang melihatnya bisa merasakan kedamaian. Bukannya begitu gaeeesss …………?

Maaf,Tak menerima Diskon ISIS. Pancasila sudah Cukup kok ,,,.. !

Khilafah Islamiyah menjadi isu yg hangat bagi ABBA di kampus – kampus. ABBA ini singkatan dari Anak Baru Belajar Agama. Nggak jauh – jauh, Malang saja sudah banyak korban pergerakan mendukung Khilafah. Yang masih malu – malu kucing sampai ekstream pun ada disini. Memang dunia kampus menjadi lahan subur untuk berkembangnya pergerakan ini. Anak kampus yg masih hangat – hangatnya belajar agama tanpa dulu di awali belajar dari pondok pesantren atau MA/Mts pasti mudah terhipnotis dengan paham khilafah. Percaya deh… kebanyakan dari mereka memang baru – baru ini tertarik belajar agama lebih dalam lagi. Sayangnya mereka belajar dari sumber yg terlalu ekstream. ( Saya nggak mau menjgecap mereka salah, lebih tepatnya ekstream saja) . Kalau saja mereka belajar ke guru – guru NU/Muhammadiyah/Persis mungkin akan beda pemikirannya.

Sumber: mbah Google.com

Sumber: mbah Google.com

Baru beberapa minggu lalu, kabarnya di masjid Muhajirin dekat Matos Malang digelar pengajian yg intinya mendukung gerakan ISIS. Saya nggak habis pikir, masak iya anak kampus mudah tertipudaya dengan kampanye gerakan – gerakan ekstream ini. Harusnya sih anak kampus bisa berfikir analistis. Seperti yg kita tahu, Gerakan ISIS berawal dari Irak dan Suriah. Dimana mereka di negara asalnya di cap sebagai pemberontak. Lagian cara – cara yg mereka pilih untuk mendirikan negara islam juga memakai pemaksaan kehendak orang lain. Tak senggan untuk membunuh atau menyiksa bagi siapa yg tidak sepaham dengannya.

Bagi saya Khilafah Islamiyah itu adalah semacam romantisme sejarah masa silam. Menurutnyaku, Pendirian Khilafah bukan hal yang dianggap keharusan. Selagi kita masih bisa menjalankan hal – hal pokok dalam beragama tanpa diganggu golongan lain bahkan diganggu Negara, saya rasa Pancasila masih menjadi Landasan yg tak harus dipermasalahkan.

Coba kita ingat – ingat lagi. Apa dulu Nabi Muhammad melakukan pemaksaan kehendak dalam memilih ideologi yg dianutnya dalam meneruskan pemerintahannya. Ketika Nabi Muhammad Wafat, para sahabat dan ahlul bait berunding untuk memutuskan siapa yg pantas meneruskan kursi pemegang kendali kuasa. Dengan kata lain mereka melakukan musyawarah secara mufakat. Lalu apa bedanya denga Demokrasi yg kita anut? Tooh juga sama – sama berdasarkan musawarah kan sebelum mengambil voting. 🙂 . Seandainya khilafah dianggap suatu keharusaan, apa susahnya Nabi Muhammad menunjuk/membaiat penerusnya secara langsung sebelum beliau meninggal, tapi nyatanya itu tidak dilakukan nabi. Dengan kata lain nabi memberi kebebasan kepada orang – orang yg ada disekelilingnya untuk menentukan seperti apa pemerintahan yang akan dilanjutkan.

Kalau mau tahu banyak hal bagaimana perjalanan Khilafah masa lampau, pasti kita nggak mau kan kalau Kholifah – Kholifah atau Pemimpin – Pemimpin berganti karena saling bunuh antar pendukungnya. Sistem ini menjadikan golongan satu dengan golongan lain saling menjigal untuk berebut kekuasaan. Itu pengalaman yg bisa diambil. Bahkan peninggalan dari perebutan kepentingan semasa Kekhalifaan masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Syiah dan Sunni adalah Dua kelompok yg saling mengklaim dirinya sebagai kelompok yg seharusnya berhak atas Kepemimpinan setelah sepeninggalnya Nabi Muhammad.

Bukannya Negara Indonesia dengan pancasilanya menjadikan Umat berbeda golongan,agama,ras dan suku bisa hidup berdampingan. Soal Idealisme, Indonesia nggak harus mengadopsi sistem yg buruk yg ada diluar sana. Karakter bangsa Indonesia jelas beda dengan karakter Timur tengah yg terkenal keras. Kita bangsa yg memiliki manusia – manusia dengan peradaban jauh lebih luhur dibanding bangsa lain. Percayalah matahari itu terbit dari timur, Jadi tak usah kalian minder dengan Pancasila yg sudah menjadi kesepakatan ulama – ulama pejuang kemerdekan dulu,

Jadi tak perlu lah kalian puja – puja ISIS, cukup buang sampah sembarangan, tak tawuran di kampus – kampus, tak korupsi, tak melanggar lampu merah dan juga belajar dengan baik akan membuat bangsa ini jauh lebih mulia lagi dibandingkan ISIS yg berada jauh nun disana. Sekali lagi mari kita dukung gerakan Say No To ISIS di negeri tercinta NKRI.

Bukan maksut mau bilang Pancasila itu lebih baik  dan lebih benar dari pada Sistem Kekhalifahan. Menurut pemahamanku kebenaran berarti sebuah kesepakatan yg disepakati. Karena Kebenaran Hakiki hanya milik Dzat yang Maha Benar. Dan bagiku pancasila adalah salah satu contoh kesepakatan yg sudah menjadi Kebenaran bangsa Indonesia ini.

Bromosaurus ,

Awalnya gak ada niat maen ke Bromo..
Tapi gara – gara syarif nylethuk ngajak ke sono,
ya gue iyain ajahh dah berangkat …
Ini pertama kali kami maen ke sono.
Banyak cerita yg berkesan. Salah satuya bermalam di villa bukit teh. Hororr banget gaess… sampai – sampai kalau di buat Striping nggak bakal muat tuh di jam primetime televisi.. Serius….

Sore hari kami berangkat ke Bromo, bagi yg sudah pernah kesana pasti heran, kok berangkat sore? normalnya orang akan berangkat jam 12 malam kelesss. Semua juga tahu, kecuali kami. Datang untuk pertama kali hanya berbekal sok tahu. Udah sok tahu .. nggak ngerti jalan pula. Akibatnya berangkat nggak lewat akses malang ke tumpang tapi malah lewat pasuruan. lhah ini kan muter jauh jadinya, Harusnyanya bisa hemat waktu 2 sampai 3 jam kan.

Nggak cukup berhenti disini, waktu berangkat cuaca lagi hujan, iya.. baru nyampek jalan soekarno hatta depan poltek cuaca sudah mendung, tapi mau dikata apa?. lha namanya juga ngebet buanget, ya hajar aja.. gaesss… Berangkatlah kami kesono tanpa jaz hujan dan tanpa penghangat tubuh (yg dibonceng gaess itulohh / sabuk pengaman,tahukan maksutnya apa?? ). Berhubung nekat. baru nyampek pertigaan purwosari saja sudah nanya jalan arah ke bromo kemana?.. Lhah ini nanti berapa kali kami harus nanya orang biar tahu jalan.

Jaman segitu nggak sempet keless ngakses google map, lagian android juga belum ada. Seingat gue orang-orang banyakan makai motorola daripada samsung. Oke deh … langsung aja ya cerita sampai di Bromo ngapain aja kita.

IMG_7852Sampai penanjakan jam 10 malam, Kira – kira jam segitu..
Behh … dinginnya nggak ketulung.. jaketpun juga nggak pakek dobel.
Bagi temen saya yg bawa penghangat tubuh sih oke – oke aja , lhah gue ? (nasib tukang dokumentasi alias tukang poto keliling) maksimal ya megangin gelas kopi buat cari gantinya.

Kami pun bengong, masak sih bromo sepi ? di kanan kiri kami cuma ada beberapa orang. itupun penjaga villa dan penjaga warung, eh nggak tahunya kita bener2 salah jadwal berangkat..

Daripada mati kedinginan nunggu matahari terbit yg masih lama, kami putuskan untuk mencari dan menginap di villa. Takut, curiga dan nggak mudah percaya sama orang membut kami hati-hati bener untuk mencari villa mana yg cocok. Juga pas buat dompet. ” Eh bapak yg berdiri disana sepertinya nggak asing deh” Ungkap Daniel. (Daniel ini kakaknya syarif, Kuliah di UMM jg. Mereka berdua warga asing, Mangkanya ngebet banget pengen ke bromo). Saya yg jadi juru anternya.

Foto Yang tengah , jaket biru.. adalah bapak penjaga villa yg kami ceritakan..

Foto Yang tengah , jaket biru.. adalah bapak penjaga villa yg kami ceritakan..

Iya bapak itu yg jadi gaet karyawan trans 7 saat liputan di bromo… Kata Daniel sih gitu… Si Daniel yakin bener hingga akhirnya kamipun dapat villa, Gue kira sih jarak penanjakan ke villa hanya 1 km atau lebih dikit, eh nggak tahunya harus lewat akses jalan tikus , kuburan bahkan jalan berbukit-bukit. Nggak cuma itu, sepertinya akses ke villa sangat – sangat mencurigakan. Jalan nya nggak lebih dari jalan gang kampung, kecil banget gaesss. itu yg membut kami kawatir. Khawatir akan keamanan kami. Maklum beberapa dari kami masih perjaka.dan montor yg kami pakai juga montor pinjeman teman 🙂

Alhamdulilah ternyata kekawatiran kami tak terbukti, villa memang benar adanya. Tak ditipu kita. syukurlah…..

” Lingsir wengi…… (lagu semacam gitulah pokoknya ” terdengar dari musik radio di dalam villa. Mungkin ini musik penyambutan atau apa, kami nggak tahu…. yang jelas memang ada. Pak, bapak disini sendiri atau dengan siapa? Sendiri mas.. saya yg menjaga villa ini. Ohhhh ………… 

Gini mas ya , saya ada satu permintaan.. tolong Mas dan mbak jangan bertanya tentang apapun yang ada di rumah ini, (bapak ini berbicara sambil membalikkan foto – foto tua yang ada di tembok villa).

Aneh..Horor..Mencurigakan…Misterius………

Ya memang itu yg kami rasakan,
Bagi kalian yang penasaran atas villa kebun teh tersebut, monggo silahkan aja dicoba.

Villa ini bener – bener luas dan harganya pas buat kantong mahasiswa perantau.
Sepertinya sih, yg punya orang belanda,. secara sekelibat mata saya melihat foto noni belanda.
Bagi kalian yg punya nyali dan suka dengan dunia lain, mungkin villa tersebut recommended untuk dicoba. Sayang waktu itu saya nggak ngajakin mbak citra prima. Jadinya gak sempet main uji nyali :).
Dan sekalian saja nanti kalau kesana saya nitip tanyain ke penjaga villa.
Kenapa harus nggak ada pertanyaan di villa itu? Tolong tanyain ya gaess…

Setelah pulang dari bromo, tak satupun orang yg pernah ke bromo paham benar keberadaan villa kebuh teh, bahkan temen saya yg bertahun – tahun jadi gaet pun tak paham.

Saya yang jadi juru fotonya :(

Saya yang jadi juru fotonya 😦

Lebaran Kali Ini ………..

Selamat merayakan hari raya mas brow dan mbak bra…
Minal Aidzin Wal Faidzin ya..

Lebaran ..
Lebaran mungkin menyenangkan bagi setiap muslim, tapi tidak bagi muslim yg jomblo ditambah lagi muslim yg kuliah kagak lulus – lulus.
Bagi mereka Lebaran adalah “Teror” , teror yg lebih mengerikan dibanding ISIS ataupun Israel.
Okelah Teror ini sudah terlalu mainstream bagi netizen yg baca blog ini, secara di kaskus sudah menjadi hot threads plus sudah ada penangkalnya untuk menghindar dari teror yg saya maksud barusan.
Oleh sebab itu saya nggak akan membahasnya lagi.

Lebaran kali ini terasa beda dengan tahun – tahun sebelumnya.
Tak ada kamus mudik dalam keluarga saya. memang tak ada.
Kami tak banyak punya sanak saudara yg ada di luar kota. Ya namanya juga orang ndeso, keluarganya ya paling jauh beda RT doang.. itupun nggak sampai naik pesawat untuk mengunjunginya.

Sepi ….
Tak ada lagi tradisi kunjung mengunjungi ke sanak saudara yg lebih tua, yang memang lebaran kali ini saya banyakan tidur di rumah sih 🙂 .
Tak maksud menghindar dari “teror” tapi memang kakek, nenek dan ibu sudah tak punya lagi.

Berbahagialah kalian yg masih mempunya keluarga lengkap. Karena itu adalah nikmat yg saya sendiri sudah tak bisa merasakannya..
Nikmatilah selagi masih bisa liburan bareng sama ibu , bercanda dan berfoto bersama sama nenek kakek kalian. mumpung masih ada syukurilah…

Selagi lagi saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. 🙂 gaesss ……

a