Secangkir Kopi Sahabat

Mita tertawa terkekeh – kekeh, di sudut kantin, di bawah ruang laboratorium Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang. Mendengarkan cerita Syarif yang baru pulang dari Jakarta. Lagi – lagi bercerita tentang pengalaman menjadi penyanyi yg hampir rekaman dan nyaris terkenal. “Hampir ? …..” Tanya Mita kemudian tertawa.

51946477c2f9b_51946477c4cacDi sela – sela cerita, syarif berbicara menyoal eksistensi band – band baru yg lagi ngeHits di telinga anak muda saat ini.

“Lagu Tulus keren – keren, Unik lagi …. Masak iya sepatu sama gajah dijadikan judul lagu. Mungkin dia kekurangan stock judul kali. Hahaha” ungkap syarif di tengah perbincangan.

“Ojo ngenyek kon. Tulus Iso dadi artis mergo usahane dewe. Ora koyok band – band liane seng mek tinggal mbayar mene ne langsung kondang neng TV nasional” Tegas Mita menimpali.

“Haloo … Halo….. Apa itu maksutnya kok bawa – bawa nama Tulus segala” Bimbi berkomentar sambil tersenyum mendengarkan kedua temannya mengulas masalah musik. Maklum Bimbi sangat ngefans berat sama musik terutama musik jazz. Sepertinya ia tak rela kalau mendengar nama Tulus dicatut dalam perbincangan tanpa mengikutsertakan pendapatnya.

Silang sengkarut menjamurnya groub dan penyanyi serta artis karbitan. Modal tampang, suara pas – pasan. Tapi lagunya bisa ngehits. Inilah yang bisa dirasakan di Indonesia sekarang. “Kok bisa ya, lagu yang jaman soekarno dulu dibilang musik ngak ngik ngok, sekarang bisa dengan mudah diputar di radio dan menduduki chart papan atas tiap minggu”.

“Ya nggak terkenal gimana,Kalau Lagunya diputer terus di TV secara paksa. Ditambah lagi artisnya mejeng terus di mana –mana, di banner, spanduk, baliho besar di tengah kota sampai – sampai dibungkus kartu perdana im3 juga ada. Belum lagi yang di iklan – iklan televisi, Koran, majalah dan tabloid”

Syarif sangat antusias membahasnya. Entah itu karena memang dia paham betul dengan masalah musik atau mungkin karena rasa kesalnya yang gagal rekaman di Jakarta karena kurang duit. Sekarang kalau sudah punya duit banyak, besoknya kita tinggal datangi produser, lalu bikin album. Paginya tampil di acara musik promo yang tayang di tv. Jangan lupa mengundang penontong bayaran. Minimal itu dulu yang dilakukan kemudian bisa sukses,

“kopinya di minum dulu… keburu dingin lhoh.”

Syarif meneruskan pendapatnya “Masalah terkenal itu sudah bisa diatur sama budget, tangan produser serta cukong – cukong cina. Inilah kejahatan musik yang terjadi sekarang ini. Semua dikuasai para cukong dan mafia. Nggak hanya dunia birokrasi pemerintahan saja yang sedang dilanda. Bahkan ruang – ruang publik serta ruang – ruang kreativitas juga sedang mengalami hal serupa.

“Wah…” Kalau itu benar terjadi, artinya sangat menggangu dong. Terutama bagi kebangkitan industri kreatifitas bangsa kita. Bukannya Industri Kreatif lagi digadang menjadi tumpuan baru bagi sumber pendapatan devisa Negara nantinya. Tapi kok realitanya malah terbalik gitu. Negara sepertinya diam melihat realitas yang terjadi di depan mata mereka. Ungkap Bimbi dari sudut pandangnya sebagai akademisi teknik industri.

“Jelas ini penjajahan intelektual. Masak iya bangsa kita terus dijejali musik – musik yang jauh dari kata berkualitas. Parahnya lagi, mereka menjajah setiap hari lewat ruang – ruang public yang harusnya ada peran Negara disitu.” Syarif berkomentar dengan pedas. Mungkin komentar ini masih bercampur emosi dikarenakan dia gagal terkenal karena kurang duit saat mau rekaman di Jakarta. Hehehe

Bimbi kembali tersenyum mendengarkan komentar syarif yang begitu berapi – api. Bimbi memang tidak menyukai musik – musik yang katanya populis itu. Kalau nggak percaya. coba tanya dia “band apa saja yang tampil di dahsyat/inbox pagi tadi?” . Kalau dia disuruh wajib menjawab. Pastilah jawaban itu Abdul And Coffe Theory atau Nggak ya Endah and Rheza. Jawabnya ngawur mengira – mengira. Dia memang suka musik – musik indie daripada musik populis. Memang saat ini kualitas musik indie jauh lebih baik. Tak heran kalau band – band seperti Navicula, The Sigit , Atau Endah and Rheza malah sering tampil di luar negeri daripada di dalam negeri. Lalu apa Negara Tidak tahu dengan Realitas ini? Entahlah …………….

Kuping Mita sedikit terbakar mendengar celoteh dan uneg – uneg Syarif. Tapi mau dikata apa, Syarif adalah sahabatnya dari SMA. Lagian keduanya pernah ngeband bareng waktu SMA. Ditambah lagi keduanya 2 tahun dalam kelas yang sama. Jadi bagi Mita, uneg – uneg seperti itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. Kopi sudah kelewat dingin. Bimbi pergi sebentar ke penjaga kantin untuk memesan Kopi untuk yang kedua kali, meniggalkan kedua temannya yang serius berdiskusi mengenai musik.

***

urlxSyarif, Mita dan Bimbi masih antusias membahas Topik yang sama. Mita sesekali bernyani dan bermain guitar supaya perbincangan itu tak terasa membosankan disamping syarif dan bimbi yang sibuk ngecek jalur linimasa di halaman twitter.

“Masak Iya, Artis ecek – ecek kayak gini punya Follower jutaan. Paling – paling yang follow kalau nggak setan ya dedemit” Syarif berdesis saat mengecek twitternya.

“Opo eneh rif?” Tanya Mita dengan Tegas.

“Rif… Mendingan kamu buat cover – cover lagu di youtube, siapa tahu dengan cara itu kamu bisa dikenal orang lain. Lagian Cover lagu nggak pakai biaya mahal kan. Daripada sensi terus-terusan gitu” Hayohhh….. Bener nggak? ”, Saran Bimbi menimpali.

Syarif terdiam sejenak dan merenungkan ide Bimbi tersebut, Sepertinya benar apa yang dikatakan Bimbi. Daripada buang – buang duit hanya untuk menjadi terkenal. Mendingan uangnya dibelikan Kamera dan alat Recording sendiri. Dengan Youtube, menjadi terkenal bukan hal yang mustahil kan.

***

Nampak diluar kantin hujan sudah berhenti, kopi yang kedua pun juga sudah habis. “Mbak mau asistensi laporan praktikum progkom, Boleh?” adik tingkat Bimbi mendatangi meja tempat ketiga teman tersebut ngopi di kantin. “Iya sebentar ya,” jawab Bimbi di iringi senyum ramah kepada adik tingkatnya. Memang begitu dia, kepada siapa pun ia tak sungkan – sungkan berbagi senyum manisnya. Maka tak jarang banyak dari adik tingkatnya kesengsem sama mbak yu yang satu ini. #abaikan

Mita dan Syarif pun lantas mengakhiri perbincangan mereka. “Kopi sudah tak bayar” dan ketiganya kemudian pergi dari kantin lab. Tak lama mita Meninggalkan meja, Telepon berdering lalu diangkatnya. “Iya pak.. Siap“ Jawab mita dalam genggaman teleponnya. Nampaknya Manajer Mita sedang mengabari jadwal promo album untuk minggu depan. Mengenai hal ini syarif tak tahu menahu kalau Mita sudah gabung dalam kelompok Girlband bersama Tina toon and the gank sebulan yang lalu. Mita pun langsung mencari tiket pesawat untuk ke Jakarta menyelesaikan promo albumnya ditengah – tengah kesibukannya kuliah di malang. Sedangkan Syarif pergi melenggang begitu saja, katanya sih mau ke basecamp anak – anak EO di sebelah lapangan basket kampus.

Sekian dulu ceritanya, lain kali saya lanjutkan. Quota internet gue sudah habis nih, hehehe ….

( Cerita ini 90 persen Fakta, sedangkan yg 10 persen Ngopinya )

 

Iklan