Bulan: September 2014

Iyoye #ShameOnYouSBY

Bapak ketua partai yang terhormat, bukan urusan saya mau pilkada langsung atau kagak.. Itu terserah bapak – bapak bagaimana mengurusnya, yang penting bagi saya saat ini adalah : hak saya untuk berpartisipasi dalam dunia politik tak dikebiri oleh elite politik. Itu sudah cukup pak … 🙂 plus bapak – bapak para elite kagak korupsi lagi …

gitar-SBYGimana, tagar #shameonyouSBY sudah turun belum dari baliho di linimasa, kalau belum pasti memalukan ya buat bapak presiden?. Tapi asal tahu saja ya, kami sebagai rakyat biasa malah lebih malu lohh pak, ketika bapak kepala negara hobi bener main drama di republik ini. Iyadeh pak … , pak presiden juga berpredikat sebagai ketua partai yang berarti juga sidejob sebagai politisi. Tapi nggak gitu – gitu juga dong pak mainnya. Tunjukan dong sikap kenegarawanmu. Biarkan yang manuver – manuver itu si ruhut atau si Sutan batugana saja.

Kami malu sikap ambigu bapak presiden, nampak di mata kami bapak orangnya suka bohong dan peragu. Dan kenapa pula selalu pas urusan rakyat gini, bapak berada di luar negeri. jadi ingat kasus century dah … Pak asal tahu saja ya, kemarin waktu sidang paripurna pembahasan RUU Pilkada, rakyat menyaksikan langsung loh lewat televisi. Jadi kami bisa mengira – ngira siapa yang sesungguhnya pembohong itu.

Segitu dulu tulisan pendek ku kali ini, ya ngikut – ngikut ngramein #ShameOnYouSBY saja biar kayak anak twitter, gitu …

Tenang dan santai saja pak, jangan dianggap serius tulisan jelekku ini, Toh Rakyatmu masih bisa makan kok, walau ditinggal dan dikibulin melulu sama presidennya … 🙂

Iklan

Iyoye Menulis Penting ?

“ Menulis itu tak sulit, seperti orang naik sepeda, tak perlu banyak teori. Cukup niat dan mempraktekan langsung. Lihat saja bagaimana orang memulai mengayuh sepeda lalu mengayunkan kakinya. Jatuh berkali – kali sudah lumrah. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Barulah anda mahir mengendarai. “Itulah sedikit pesan Goenawan Muhammad”

445px-Lady_Murasaki_writingBelakangan ini menulis menjadi sebuah hal yang mulai berkurang dilakukan. Kecuali menulis status facebook atau twitter. Mungkin ini salah satu dampak perkembangan teknologi kali ya. Orang enggan lagi menulis hal – hal yang mempunyai manfaat bagi orang lain. Yang ada cuma tulisan – tulisan “ngrasani” kolega kerjanya, bicarakan masalah orang lain , bicarakan masakan tetangganya dan sebagainya. Yang saya rasakan sekarang orang cenderung pasif. Lebih banyak orang membaca daripada menulis.

Sebagai contoh lagi, anak – anak sekolah sekarang menggunakan notebook sebagai pengganti buku. Dulu kita selalu menulis apa yang baru di tulis dipapan tulis. Sekarang dengan tersedianya notebook, anak sekolah tak lagi memperlukan pena dan buku. Cukup copy paste dari file guru tentang apa yang akan dan sudah diajarkan. Padahal menulis secara fisik itu tetap penting loh. Serius, bahkan beberapa ahli menganggap tulisan pena seseorang itu bisa menggambarkan karakternya pula. Nah kalau menulis saja menjadi jarang, lalu bagaimana karakter itu bisa terbentuk? Iyakan …

Makanya, Selain menulis itu berhubungan dengan karakter seseorang, sudah saatnya kita semua mulai mengubah secara perlahan tapi pasti. Budaya bicara (talking habit) menjadi budaya menulis (writing habit). Para aktivis khususnya perlu memperhatikan berlebih pada program yang berorientasi menumbuhkan semangat membaca, menganalis dan menulis. Tanpa itu, hanya akan menguap di warung – warung kopi, meja seniman, dan mimbar khutbah yang cepat dilupakan khalayak.

Manusia Berkemaluan

Runtuhnya budaya malu di negeri sudah tak bisa di elakkan lagi, Ketua partai jadi tersangka korupsi tapi masih gagah perkasa pecat sana – pecat sini. Capres sujud syukur padahal tahu kalau kemenangannya bohongan. Artis bangga karena video bokepnya dengan Angggota DPR bisa dinikmati rakyat seantero tanah air.

urlNah melihat fenomena tersebut apa iya sebagai manusia modern kita benar – benar menjadi manusia yang modern seutuhnya. Apa seolah – olah modern? mari kita berfikir dan berintropeksi bersama…

Kita boleh dong menoleh kebelakang, lihat orang – orang sebelum kita, bagaimana mereka mengajarkan hidup beretika. Beretika itu sebenarnya berangkat dari rasa malu. pun sopan santun dan ramah tamah.

Tapi nyatanya kita kembali ke zaman purbakala, nilai – nilai kebaikan yang diajarkan tersebut menghilang. Orang lebih menjunjung tinggi hukum. padahal diatasnya itu ada etika. Kehidupan nggak hanya soal benar ataupun salah . tapi juga mengandung unsur pantas atau tidak pantas. Nah disitu etika berada.

Sebenarnya nabi sebagai panutan kita sudah jauh – jauh hari mengajarkan etika yang sesuai. Kita tahu dan paham itu. sayangnya cuman jadi hafalan dalam ilmu pengetahuan sejarah tanpa mempraktekan nilai – nilai yang diajarkannya dalam kehidupan sehari – hari. parahnya Amir dan Ulama banyak yang nggak sadar juga memperlihatkan ketidakmaluan mereka. Khususnya ulama – ulama yang sidejob jadi politisi ….

Pak Surya Darma tahu betul tentang ini, iya kan pak? … heuheu

Terjerat Kemunafikan

Maaf tak kenal anda, Siapa tuh artis – artis baru yang terkenal karena membintangi sebuah sintron. Sinetronnya njiplak pula dari luar. Nggak malu … ? prengas – prenges di layar kaca bak artis hollywood. Bener nggak Malu? woe bangun – bangun .. , Kalian diliput dari infotainment bayaran loh . So .. kalian terkenal abal – abal pula.

urlMemang nalar manusia kita sudah rusak. kita tak mampu berfikir secara nalar dan sistematis . Coba lihat fenomena berikut . Kita semua setuju anti plagiasi, kemudian ada karya sinetron ngehits banget padahal hasil karya plagiat. Saking ngehitsnya sinetron tersebut, esoknya tv  lain membuat acara serupa. Nah lucunya mereka yang terlibat dalam pembuatan sinetron tersebut kembali meneriakan anti pembajakan di lain hari.

Apa ini nggak menjengkelkan? kita sebagai orang biasa dianggap bodoh. ini benar – benar kejahatan dalam mempermainkan logika manusia. Tak cuma sinetron pula, politisi – politisi juga berperilaku sama. Dalam satu hari bisa teriak anti korupsi dan berperilaku korup dalam waktu yang bersamaan. Kurang ajaib apa negara ku kini…

Sebenarnya fenomena seperti ini bukan masalah sepele loh. Ini masuk katagero TSM ( Terstrukrur , sistematis dan Masif ), Lihat dampaknya ke orang awam seperti kita – kita. Masyarakat teriak – teriak bosan banjir dan macet, disaat bersamaan mereka penyebab banjir dan macet pula. Dan ini sudah menjerat dari kalangan atas sampai bawah. Dari pemimpin sampai yang dipimpin. Presiden bicara ketegasan kepada rakyat, padahal sesunggunya kewenangan berbuat tegas ada pada dirinya. hadeuhhh …..

Meniru Ahok

Ahok adalah ahok. Ceplas – ceplos , bernalar tinggi dan mudah marah. Tapi tunggu dulu karakter tersebut muncul karena ahok sudah di didik dari kecil seperti itu. Karakternya natural muncul begitu saja. Tanpa terlihat dibuat – buat atau terlihat pencitraan. Tapi yang aneh sekarang , banyak pemimpin – pemimpin daerah yang meniru gaya ahok tersebut. Sayangnya yang ditiru cuma marahnya saja. Dan rata- rata dari mereka malah ditertawaain rakyat.

urlBagi peniru ahok. Jangan harap mendapat perhatian lebih dari masyarakat, ahok mendapatkan itu karena ia membangunnya sudah cukup lama. Membangun pro anti korupsi, pro anti birokrat mbulet dan pro masyarakat yang beradab. Dan kalian para peniru mencoba marahnya saja tanpa mau membuka kekayaan kalian. Busiiit … dah …

Selama ahok tetap mau transparan dan anti korupsi. rakyat akan terus ada dibelakangnya. Tak peduli dia cina, non islam atau tak lagi di backing Prabowo. Dan kalian para peniru kalau mau rakyat ada di belakang kalian. Syaratnya cukup mudah. Buka harta kalian ke publik dan siap melakukan pembuktian terbalik. Berani? Kalau nggak, ya jangan coba tiru marah – marah …

 

Nikmatnya Keterbatasan

Begitu mudahnya teknologi sekarang. membuat kenikmatan menjadi sulit dirasakan. Kenikmatan seperti apa yang dimaksud? Ambil contoh begini. Ketika kita mendengarkan musik melalui mp3 yang ada di smartphone, apakah kita merasakan kenikmatan saat mendengarnya. Bandingkan dengan zaman 90’an dahulu. Ketika mendengar musik melalui radio, mencari kaset dengan menabung terlebih dahulu. serta menunggu tayangan musik setiap akhir pekan di televisi. Artinya nilai kenikmatan hilang sekarang karena kita terlalu mudah mendapatkan sesuatu hal. Semakin era dan teknologi terbuka, semakin pula nilai – nilai menjadi biasa – biasa saja. Itulah yang setidaknya saya rasakan sekarang.

olegshuplyak1Lalu bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan itu kembali? jawabnya mudah. Ingatlah pesan nabi Muhammad SAW. bagaimana ia mengajarkan nilai ketercukupan. Pesannya “ Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Pesan nabi ini sangat berkorelasi dengan keadaan zaman sekarang. Jangan sampai karena mudahnya manusia mendapatkan sesuatu hal membuat kita tak mengenal batas. Percayalah ketika kita selalu memegang nilai “batas” atas segala sesuatu maka disaat itupula kita akan mengerti dan merasakan akan sebuah “kenikmatan”. Ketika zaman 90 an musik – musik dibatasi oleh Orde Baru. Maka disaat itupula kita mengenal karya – karya yang luar biasa. Lihatlah Iwan Fals, Dewa 19, Slank dan lain sebagainya. Marilah kita merenung sejenak, Kapan terakhir kita merasakan nilai – nilai kenikmatan itu? apa memang kita tak lagi bisa merasakan karena nilai – nilai itu sudah menjadi hal yang biasa – biasa saja.

Pingpong ROTG

Beberapa minggu di kampoeng. Kegiatan sore gue kalau nggak sepakbola ya pingpong. Sesekali jogging di PLTA niyama. Namanya juga pas jadi pengangguran. Pengangguran mah bebas – bebas saja mau ngapain. Selagi itu positif dan nggak ganggu orang, halal hukumnya. Olahraga itu baik, baik untuk nylimur masalah yang menimpa loe atau juga bisa jadi salah satu cara pelarian masalah yang mujarab daripada melamun atau drug.

image_t6Baiklah… curhat gue di awal sangat tak memberi manfaat bagi yang membaca. Lebih baik gue membahas bagaimana bermain pingpong yang benar, daripada meneruskan cerita curhat yg nggak penting itu. mengingat teman – teman di kampoeng mainnya pada ngawur semua.

Posisi yang benar ketika main pingpong. Berdiri agak jongkok ( membentuk kuda – kuda ). Lutut di tekuk sedikit dan nyaman serta terasa kuat. Nah Kalau sudah tahu bagaimana berdiri yang benar, lanjut bagaimana serve yang benar. Serve yang benar adalah pertama bola dilemparkan ke atas minimal 16 cm dengan tangan memegang bola terbuka. Saat bola dilemparkan ke atas, bola harus dalam keadaan diam. tak boleh berputar. oh iya. Pelaku serve harus berada di belakang garis meja.

Permainan pingpong sekarang menggunakan poin 11. Kalau dulu kan 21 ya ? Biasanya setiap pertandingan terdiri dari 5 sampai 7 set. Itu sedikit hal yang gue tahu tentang pingpong.