Sebatang Ketengan

Hanya karena rokok ketengan naik dua ratus lima puluh rupiah, warung pun ditinggal pergi pelanggan. Inilah yang menimpa tetanggaku. Mas Wadi namanya. Ketengan dulu harganya seribu lalu dinaikin tanpa sepertujuan “Dewan Ketengan”. Sedikit demi sedikit rejekinya kemudian mampet. Kenaikan berapapun pastilah memukul kami wong cilik. GDP kami tak lebih dari 2 dollar per hari . Tentu ini berat. Rokok adalah kebutuhan primer bagi kami, Disamping nonton MU.

1378287447Nasib Mas Wadi begitu memilukan. Pendapatan terus berkurang tiap hari. Anaknya dua, dan dua-duanya kuliah bersamaan. Kurang berat apa tanggungan ini. Dengan tanggung jawab yg berat ditambah lagi pendapatan warung berkurang. Dari sinilah tekanan batin muncul. Mas Wadi belum paham mengenai penyebab warungnya sepi. Maklum dia tak belajar ilmu “Strategi Bisnis” . Mungkin kalau dia Paham Strategi SWOT dia akan ngerti lebih dulu penyebab Bisnisnya bangkrut. Tekanan inilah yang membuat dirinya jatuh sakit. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dirawat di Rumah Sakit. Kena “Liver” dia. Bukan “Liverpool” lhoh … tapi Liver hati.

Merayakan lebaran pun di Rumah Sakit. Hiburannya cuma nonton “Warkop DKI”. Bahagia lebaran sedikit kurang sempurnya. Tapi tak dikira sebelumnya, esok hari pelanggan “Warkop”datang menjenguk. Rasa sakit sedikit berkurang. Esoknya dokter membolehkan dibawa pulang.

Belum sempat Mas Wadi buka warung kembali. Berita Duka tentangnya menghampiri kita. Ia pulang ke Maha Kuasa lebih cepat, Usianya masih muda padahal. Saya salah satu dari pelanggan warung kopi Mas Wadi. Dan sayapun belum menyempatkan menjenguk ketika ia sakit. Rahasia dan Perjalanan hidup memang tak ada yang tahu. Kita hanya bisa mengharap yang terbaik. Pun keluarganya harus berfikir begitu.

Siapa kira perihal kenaikan harga Ketengan membuat bisnis orang gulung tikar. Kemudian berpulang. Memang sedari dulu nasib wong cilik selalu begitu. Wong cilik hanya perlu meratapi dan terus sabar. lalu besoknya BBM dinaikan. Modaarrr kita.

Sabar harus selalu di isi ulang seperti pulsa. Agar hidup kita terkesan Barokah. gitu ……

( abdul azis hasan/ @candi_olo )

Iklan