Iyoye Menulis Penting ?

“ Menulis itu tak sulit, seperti orang naik sepeda, tak perlu banyak teori. Cukup niat dan mempraktekan langsung. Lihat saja bagaimana orang memulai mengayuh sepeda lalu mengayunkan kakinya. Jatuh berkali – kali sudah lumrah. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Barulah anda mahir mengendarai. “Itulah sedikit pesan Goenawan Muhammad”

445px-Lady_Murasaki_writingBelakangan ini menulis menjadi sebuah hal yang mulai berkurang dilakukan. Kecuali menulis status facebook atau twitter. Mungkin ini salah satu dampak perkembangan teknologi kali ya. Orang enggan lagi menulis hal – hal yang mempunyai manfaat bagi orang lain. Yang ada cuma tulisan – tulisan “ngrasani” kolega kerjanya, bicarakan masalah orang lain , bicarakan masakan tetangganya dan sebagainya. Yang saya rasakan sekarang orang cenderung pasif. Lebih banyak orang membaca daripada menulis.

Sebagai contoh lagi, anak – anak sekolah sekarang menggunakan notebook sebagai pengganti buku. Dulu kita selalu menulis apa yang baru di tulis dipapan tulis. Sekarang dengan tersedianya notebook, anak sekolah tak lagi memperlukan pena dan buku. Cukup copy paste dari file guru tentang apa yang akan dan sudah diajarkan. Padahal menulis secara fisik itu tetap penting loh. Serius, bahkan beberapa ahli menganggap tulisan pena seseorang itu bisa menggambarkan karakternya pula. Nah kalau menulis saja menjadi jarang, lalu bagaimana karakter itu bisa terbentuk? Iyakan …

Makanya, Selain menulis itu berhubungan dengan karakter seseorang, sudah saatnya kita semua mulai mengubah secara perlahan tapi pasti. Budaya bicara (talking habit) menjadi budaya menulis (writing habit). Para aktivis khususnya perlu memperhatikan berlebih pada program yang berorientasi menumbuhkan semangat membaca, menganalis dan menulis. Tanpa itu, hanya akan menguap di warung – warung kopi, meja seniman, dan mimbar khutbah yang cepat dilupakan khalayak.

Iklan