Bulan: November 2014

Jangan Sebut Diriku Pahlawan

Kemarin kita baru memperingati Hari Pahlawan. Hari yang sangat berkenan bagi rakyat Indonesia. Terutama kita arek – arek jawa timur. Tak bisa dipungkiri suara – suara bung tomo masih melekat pada telinga kita, kala menyebut hari pahlawan. Yoo ra ….

pahlawandiponegoroTapi apa masih relevan suara bung tomo diperdengarkan terus menerus saat ini, lha wong nyatanya anak – anak tak lagi tahu siapa bung tomo itu … miris kan? Ini masalah kita, masalah yang melanda manusia Indonesia sekarang, kita tak lagi tahu apa nilai kepahlawanan dalam diri masing – masing. sehingga kita menjadi manusia acuh tak acuh terhadap lingkungan sosial sekitar.

Nah ini ada lagi sebutan “ Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” , apa benar guru sekarang tak lagi berfikir imbalan jasa yang diperolehnya. Sama seperti bung tomo yang tak menuntut dirinya diakui sebagai pahlawan nasional, hingga akhirnya memang diakui. Sedangkan tiap hari kita selalu baca berita tentang sogok menyogok SK pengangakatan kepegawaian, masih sering nemu guru mencabuli anak didiknya, masih juga dipertontonkan keluh kesah gaji guru honorer dan sebagainya. Dan saya boleh bertanya apa ini yang disebut pahlawan sekarang ini?

Belum lagi tentang “ Pahlawan Devisa Negara”. Yang katanya jasa mereka sangat berperan terhadap pembangunan negara ini. Tapi disisi lain nasib TKI banyak yang memprihatinkan, mereka menuntut hak sebagai buruh migran yang harusnya dilindungi oleh negara. Lalu kita boleh bertanya. Siapa yang menjadi pahlawan dan siapa yang yang diperjuangkan? Kalau memang mereka pahlawan, kenapa harus repot – repot nuntut macem – macem kepada negara. Pahlawan memperjuangkan negaranya bukan menuntut sebaliknya. Oleh sebab itu kalau negara acuh terhadap mereka ya wajar saja. karena mereka memang pahlawan. Namanya saja pahlawan, jadi wajar kalau mati ditanah perjuangan. Bahkan pahlawan tak menuntut dirinya dikasihani ketika berjuang.Pahlawan tak menuntut penghargaan. Yooo Raaa?, lha wong namanya saja pahlawan….? Atau Jangan – jangan sebutan “Pahlawan Devisa Negara” adalah akal – akalan negara untuk lari dari tanggung jawab kepada warga negaranya ketika warga negaranya mendapat masalah di negeri orang. Kalau memang benar demikian saya akan usul kepada teman – teman TKI. Mulai sekarang jangan mau deh disebut “Pahlawan Devisa Negara” . Tak cukup dengan menyematkan predikat pahlawan, lalu masalah menjadi beres. Padahal harga diri mereka dipertaruhkan di muka dunia. Yooo raaa …. ?

Iklan

Ghaitsa Akan Di Kenang

Selamat buat persib bandung yang akhirnya mengangkat trophy setelah menunggu selama 19 tahun, dan buat Rangga Cinta yang akhirnya bisa reonian kembali setelah harus nunggu waktu 12 tahun, juga aku ucapin selamat. Kalau melihat kisah persib dan rangga cinta, ternyata sabar itu mengasikan. Tapi nggak usah bawa – bawa Liverpool.  Sabarnya mereka bukan tingkatan awam. maka nggak perlu dibahas lagi.

artworks-000067530189-6w5psd-t500x500Padahal niatan awal mau nulis ” Ghaitsa Kenang “, Ituloh bro, peserta Rising Star Indonesia yang kalau nyanyi pasti sambil selalu bawa gitar. Gimana ? Cantik ya dia… Parasnya mirip sama Raisa. Menurut aku gitu. Sebelas dua belaslah… Dan aku berani taruhan, kelak dikemudian hari pasti dia jadi musisi terkenal di indonesia.  Karena, Gaitsa punya attitude yang baik diatas panggung. Selain punya khas suara yang orang tak perlu melihatnya ketika ingin mengenalnya.

Kalau masalah kapabilitas dia dalam bermusik, tak usahlah di perdebatkan kembali. Googling saja, disana terpampang nyata prestasinya. Kalau D’masiv pernah disebut Raja Festival, maka Ghaitsa boleh jadi adalah Ratunya… hehehe . So kita tunggu saja bagaimana ia akan berkembang nantinya. Jadi tak sabar untuk menyebut diri gue fans berat Ghaitsa Kenang. Tapi sebelum itu, harus ada syarat yang terpenuhi. apa itu ? … Ghaitsa Kenang harus tampil bareng sama Raisa dan manggung di Kota dingin Malang. Simple kan syaratnya 🙂

Nah kalau masih penasaran suaranya do’i … Nih gue share souncloud Ghaitsa Kenang :