Bulan: Januari 2015

Humanisme Dalam Secangkir Kopi

8114d“Mak … , Kopinya satu. Gulanya sedikit. “

Diponrantos mas, sekedap”, Jawab Mak Ten dengan bahasa jawa halus.

Minum kopi itu selalu nikmat, sebari mengobrol dan berbincang hal – hal yang nggak penting. Asal gak mengandung Ghibah, ya boleh – boleh saja to. Nah sambil menunggu kopi pesananku datang, izinkan saya berbagi sedikit tentang tulisan yg barusan saya baca dalam kolom suara muhammadiyah barusan.

Tahukan sampean apa itu humanisme?, kalau saya sendiri mengenal humanisme ada dua sisi. Sisi pertama dari sudut pandang Sekulerisme dan kedua dari sudut pandang Islam (agama saya). Pemikiran humanisme melahirkan doktrin trinitas, yaitu Kebebasan (liberty), persaudaraan (fathernity), dan persamaan (equality). Humanisme pada awalnya lahir di italia abad ke 14. Humanisme lahir dengan tujuan untuk mendobrak kebekuan dalam hegemoni gereja yang memasung kebebasan, kreativitas, dan nalar manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan ROmawi dan Yunani. Humanisme mengembangkan antroposentrisme, yang artinya bahwa paham yang mendewakan manusia melawan teotrisme (paham serba tuhan).

Auguste Comte memperkenalkan kepada kita tentang filsafat positivisme sebagai era baru pasca alam pikiran mitos dan metafisika, yang memperkenalkan “religion humanitarian” atau agama kemanusiaan. Sedangkan, Nietshzhe dan Ludwig van Feurbach memelopori filsafat anti tuhan. Sementara itu para pemikir lain mengembangkan sikap agnotisme atau anti agama. Paham humanisme inilah yang disebut dengan Humanisme sekuler, dimana manusia dijauhkan dari nilai – nilai agama.

Dalam islam, Humanisme adalah Humanisme yang tetap tak menjauh dari Sumber islam itu sendiri, yaitu Al Quran dan Sunah Nabi. ISlam selalu mengakui kebebasan, persaudaran dan persamaan sebagai fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Serta yang paling penting adalah Islam tidak mengenal kebebasan yang absolut. Kebebasan tetap ada batasannya.

Nah, berhubung kopi saya sudah diantarkan Mak Ten, bicara Humanisme nya diakhiri saja. Kita lebih baik bicara tentang Manchester United yang gagal menang lawan tim divisi tiga. gimana, setuju nggak sampean? ….

Misi Pantai Sanggar

Pantai Sanggar adalah satu dari sekian pantai indah yang ada di kabupaten Tulungagung. Indah karena memang pantai ini masih natural. Belum ada bangunan modern yang ada di sana. Ya walau kondisi sekarang sudah sedikit banyak terpengaruh pembukaan lahan oleh penduduk. Tapi hijaunya pohon – pohon dikanan kiri bukit masih terasa kok. Tak seratus persen hilang karena ditebang. Selain mata sampean dimanjakan oleh hijaunya perbukitan, telinga sampean juga akan dimanjakan oleh suara – suara burung yang berkicau merdu. Habitat Burung Cucak Ijo masih banyak di Pantai Sanggar. Bagaimana, sampean Tertarik datang nggak? …

???????????????????????????????Untuk mengakses pantai Sanggar, sampean harus melewati jalan setapak. Naik turun perbukitan dan terkadang jalannya licin ketika hujan dan berdebu ketika kemarau. Saran saya, kalau datang ke Sanggar, jangan pas musim hujan seperti bulan – bulan ini. Kecuali sampean suka hiking. ya gakpapa ….kapan pun kesana monggo kerso…

Nah sekarang saya mau sedikit cerita tentang pengalaman kemarin. Minggu Pahing 18/1. Kita anggota pecinta tiwul mau membuat Film Dokumenter tentang misi perjalanan ke Pantai Sanggar. Oh iya.sebelumnya kenalinin dulu nih anggotanya: Saya sendiri Doelzis selaku juru rekam, teman saya Gudel selaku bintang utama, Gendon selaku artis pendukung, Jamel sang produser, Afnan selaku ibu manager, serta Nyoman , Sabung, dan Fauzi sebagai pembantu umum.

Pada awalnya saya nggak punya niatan ikut misi perjalan ini. Lha wong ketika mereka berangkat ke pantai sanggar, saya masih tiduran di rumah. Tapi karena Jamel memaksa, ya apa boleh buat. Saya pun akhirnya ngikut apa kata pak producer.

???????????????????????????????Apes. belum sampai setengah perjalanan. motor yang saya tumpangi bersama Nyoman mengalami bocor ban. Padahal sebelumnya saya sempat bertanya ke dia“man sanu’e bane bocor to?”. Hadeuh ,,,. Apesnya lagi, tempat tambal ban yang saya datangi tutup hari itu. Kita harus berjalan 1 km lagi ke tempat tambal ban yg lain. Dan setelah semuanya beres, Misi perjalanan ini kita lanjutkan kembali. Ini masih satu dari sekian cobaan yang datang saat mengunjungi Pantai Sanggar.

***

Satu jam kemudian, kita sampai di atas bukit, Di atas puthu’an kalau kata orang sana. Disinilah tempat terakhir perjalanan kita menggunakan sepeda montor. Tapi kalau sampean datang dengan mengendari sepeda trail, sampean bisa dengan mudah sampai ke tempat tujuan tanpa harus menitipkan sepeda motor. Dan kalau mau berjalan kaki dari puthu’an, butuh waktu kurang lebih 60 menit untuk sampai ke Pantai Sanggar.

Saat perjalanan menuju ke Pantai Sanggar, kanan kiri mata sampean akan dimanjakan perbukitan gunung yang indah. Apalagi kalau perjalanannya ditemani gadis muda nan cantik jelitah. Pasti tambah nikmat dan indah beneran. Yoo po ra masbroh ?

Nah itulah yang kita alami kemarin, tak sengaja kita bertemu dua gadis muda di tengah perjalanan. Mereka ujug-ujug ada di belakang kita. Melihatnya berjalan hanya berdua, pun mereka sama – sama wanita. Jiwa kelaki – lakian saya keluar. Mana tega sampean membiarkan mereka berjalan berdua ditengah hutan. coba nanti kalau ada apa – apa, kan kasihan mereka. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. (kurang baik apa saya,. Tapi sayangnya orang baik kayak saya, kok ya masih jomblo to. atau memang sekarang ini cewek lebih mudah tertarik sama yang bad boy … bad boy.. gitu ?) behhhhh ……

Lanjut. dan kitapun berjalan berbarengan. Mereka sebenarnya datang tak hanya berdua. temannya yg lain sudah ada di Sanggar sejak pagi tadi. makanya mereka ketinggalan di belakang dan ketemu kita. Kedua gadis muda ini berstatus mahasiswi dari salah satu kampus kesehatan di kota Blitar. Mereka cantik sih, Sayang. sampai akhir perjalanan saya nggak sempat menanyakan nama, alamat atau nomer telephone mereka. Memang saya kurang cepat tanggap kalau urusan awewek gini. Dan kesempatan ketemu jodoh pun hilang. lagi .. lagi dan lagi …

***

Sebentar, ini kenapa jadi bahas awewek to?Mari kita kembalikan cerita ini ke jalur semula. Waktu kita datang kemarin, pantai ini cukup ramai, ramai karena memang akhir pekan. banyak anak sekolah kesini buat menepi. (menepi buat nyari tempat yang sepi, ya mungkin mereka mau belajar) tapi sayangnya saya datang nggak bawa awewek. (lagi – lagi masalah awewek) Karena itu saya merasakan hampah …. !!!

Bayangkan betapa sedihnya, kita hanya bisa selfie, berenang dan mainin pasir. Itulah cara kita menghibur diri. Duh .. nasih – nasib. Nasib jomblo kelas berat.

???????????????????????????????Pantai ini punya pasir yang bersih, putih dan tebal. garis pantainya pun juga lumayan panjang. Kanan kiri garis pantai diapit tebing dan bebatuan yang indah. Pohon dan ranting – ranting banyak tumbuh disekitar pantai. Oleh sebabnya suasana pantai Sanggar sangat cocok kalau dijadikan tempat berkemah.

Sampean kalau berkemah, saya sarankan jangan datang saat musim kemarau. Soalnya, sungainya kering. jadi sampean akan sulit mendapatkan air tawar. Kecuali kalau mau membawa air mineral atau galon sendiri. ya monggo silahkan.

Dan ketika sampean kesulitan bawa barang saat mau berkemah, saya sarankan mintalah bantuan jasa para penduduk kampung disana. Para penduduk kampung akan sangat berterima kasih apabila jasa mereka bisa digunakan. Apapun itu bentuknya. mau suruh bawain montor, bawain galon atau yang lain. Mereka dengan senang hati akan membantu sampean. Sampean nggak usah takut atau khawatir, penduduk disana ramah dan baik kok. Nggak kalah ramah kalau dibanding penduduk kraton kasultanan jogja. Serius saya…

***

Selang beberapa waktu, rintik – rintik hujan datang tanpa permisi. Untungnya di Sanggar ada warung. Warung mbok siapa gitu, saya kok lupa namanya. Dan kitapun bisa berteduh. (perhatian: warung hanya buka disaat liburan datang)

Di warung inilah, kita minum kopi dan makan siaang. Dan yang nggak kalah penting, kita ngobrol banyak dengan bapak ibu pemilik warung. Mereka bercerita banyak tentang asal muasal pantai sanggar. Bercerita mulai dari yang nggak ada hubunganya sama sekali dengan Sanggar sampai cerita korban yang hampir terseret ombak. Satu yang saya ingat dari cerita mbok itu, bahwa wanita sesama wanita dilarang datang mengunjungi pantai yang ada dibaratnya pantai sanggar (duh saya lupa namanya pantai apa). Ya pokoknya nggak boleh aja. Jangan tanya kenapa. soalnya saya sendiri juga nggak tahu, pun pemilik warung itu.

***

Hujan pun sudah reda, kitapun berpamitan dengan bapak ibu pemilik warung. Kemudian pulang dari pantai sanggar. Diujung cerita. Sesudah kita sampai ditempat penitipan sepeda. Afnan kakinya terkena pecahan kaca. Pecahan kaca lampu neon tepatnya. Ia pun menangis bak anak kecil minta otet – otet. (peace nan tapi puas kan sama keindahan pantai sanggar?, hehehe)..

***

Ini sedikit pengalaman saya ketika mengunjungi pantai sanggar, Minggu 18/1 kemarin. Next. rencananya kita akan mengunjungi pantai – pantai yang ada di Kota Pacitan.tungguin ya ceritanya …

Nabi Jokowi, Katanya …

Sampean waktu pilpres kemarin milih siapa, jokowi atau prabowi? . Atau golput nggak milih keduanya. Duh kalau golput mendingan sampean nggak usah ngikut ngoment kebijakan pemerintah, lha wong sampean apatis gitu, hehehe 

Abaikan saja, yang jelas pilpres sudah lewat, dan sekarang jokowi sudah jadi presiden kita bersama. Mari kita dukung dan jangan lupa kritik beliau kalau melenceng dari kebijakan yang seharusnya.

image_t6Akhir – akhir ini saya sering banget dengar istilah pemimpin yang dinabikan akan mematikan nalar. Dan kalimat tersebut sering dikait – kaitkan dengan presiden jokowi. Padahal bagi saya jokowi terpilih jadi presiden bukan dikarenakan ia dianggap nabi oleh pendukungnya.

JOkowi dipilih karena dianggap mampu memimpin dan dianggap bersih. setidaknya itu alasan saya ketika memilihnya waktu pilpres kemarin. bukan karena dia sempurna atau nabi jokowi . hehehe …

Dan sekarang para lawan politik jokowi sedang gencar – gencarnya membuktikan bahwa anggapan jokowi itu boneka, pengkhianat, munafik dll adalah benar. Moment yang paling tepat untuk membuktikan tudingan mereka adalah saat jokowi memilih kapolri. “ Tuh kan jokowi tunduk sama mamak banteng? , Mana keberanian jokowi, mana pengikut jokowi yg biasanya gencar di social media. mana … mana dan mana? dasar pengikut nabi jokowi.Katanya jokowi bersih, tapi kok calon kapolrinya tersangka gratifikasi. hahahaha “ setidaknya pertanyaan dan pernyataan tersebut sering aku jumpai di linimasa akhir – akhir ini. Intinya para pendukung prabowi yang beberapa bulan belakangan ini tidur ngorok akhirnya bangun lagi.

Tapi saya bersyukur, ketika jokowi mengajukan calon kapolri yang terindikasi korupsi, para pendukung setianya yang tergabung dalam jokowiside bisa bersikap cerdas dan genius. Mereka menolak penunjukan tersebut, dan bertekad akan membela KPK mati – matian. Dan ini salah satu bukti kita, bahwa memilih jokowi bukan karena dia tak pernah salah apalagi menganggapnya nabi. Ingat dijaman demokrasi seperti ini orang bisa berbicara apa saja kepada pemimpinnya, jadi sangat nggak mungkin apabila ada pemimpin yang lahir karena dinabikan. Dan nggak tahu juga kalau pemimpin di madura. hehehe…

Jadi, sampean apa masih percaya kalau jokowi dipilih karena dinabikan?. Kalau masih percaya ya gak papa. itu hak sampean. yang jelas saya memilihnya bukan karena itu.

Dan kalau dibilang jokowi sedang berkhianat kepada pendukung dan rakyatnya karena telah mengajukan cakapolri yang diindakasi korup, maka jawabnya mudah “ tunggu dulu dan sabar mari kita lihat endingnya bagaimana… “:) . yang jelas sampai sekarang saya masih beranggapan bahwa jokowi itu cerdik. dan beliau akan bisa keluar dengan mulus dari kepentingan jahat yang datang padanya. itu feeling saya sih.. nggak tahu kalau sampean? 🙂

Ngurus SKCK Itu …

Barusan saya ngurus SKCK buat ngelamar pekerjaan, saya kira kalau sudah presidennya jokowi, ngurus surat semacam itu mudah dan cepat. Setidaknya itu yang saya harapkan. Tapi nyatanya kok nggak ya?. Masak iya. ngurus surat yang menjelaskan apakah kita berkelakuan baik atau tidak harus lewat instasi – instasi yang tak berkaitan. Harusnya ngurus surat seperti SKCK tinggal datang ke kepolisian saja, tak harus datang ke pak kades dulu , ke Danramil segala serta ke pak camat. Buang – buang waktu aja ….

Dizaman yang sudah reformis gini masak iya, Danramil berwenang apakah saya pernah melakukan tindak kriminal atau tidak. Terus ngapain juga saya minta pendapat keterangan mereka? kayak zaman masih dipegang pak harto saja. Udah gitu di target uang rokok segala.. Duh ….

Harusnya ngurus surat SKCK tu simple, kepolisian tinggal buka database mereka. Apa iya nama saya pernah terlibat tindak kriminal atau tidak. Gitu aja kok repot toh ….

Yah harapan saya, nantinya urus – urus surat semacam gitu cukup satu pintu, cukup di instasi kepolisian saja. tak harus bertele – tele kesana – kemari. Buang – buang waktu dan duit saja…

Ketika Tuhan Berkehendak Lain

Pagi itu semua sudah kupersiapkan dengan matang, semua beres seakan planing akan berjalan lancar. Setengah lima pagi bangun lanjut dengan sholat shubuh. Mandi kemudian membaca koran sejenak, ya setidaknya nanti kalau ada wawancara tentang berita yang lagi hits, saya nggak terlihat glaglapan.

PHOTO_20130520_202911Walau sudah ada persiapan begitu matang, nyatanya tak semua hal bisa berjalan dengan harapan kita. Dan benar saja, ketika perjalanan menuju wawancara kerja. Montor yang saya tumpangi ngadat ditengah jalan. Montor tak bisa dihidupkan, padahal bensin masih ada. Kalau mau dibawa ke bengkel, bengkel juga belum buka jam segitu, ya sudah saya putuskan dorong pulang saja. Kemudian ganti dengan meminjam montor teman.

Sayangnya tak sampai setengah jam kemudian, Montor punya temanku juga ikutan bermasalah. Ban belakang bocor di tengah perjalanan. “Ya Tuhan … apa ini yang namanya halangan dan cobaan” Ucapku didalam hati.

Dua kejadian yang datang secara berurutan tersebut membuat saya beranggapan bahwa memang Tuhan tak berkehendak dan tak mengizinkan saya untuk mengikuti wawancara. Dan saya bilang ke teman saya ” ya sudah .. kita balik pulang saja. ” .

Namun. tak selang beberapa waktu, teman saya balik dari arah berlawanan denganku, dan sudah mengendari montornya dengan wajah yang penuh semangat. ” Yo .. sido ra, wes kadong berangkat mosok balik maneh , ban wes tak  ganti anyar. waktu menuju ke tempat wawancara juga masih nuntut kan . “ ujar teman saya saat itu.

Yo wesss … Akhirnya saya urungkan niat balik pulang. Dan akhirnya, saya pun mengikuti wawancara kerja untuk menjadi wartawan di sebuah koran daerah.

***

Beberapa hari kemudian saya dapat sms, bahwa saya diterima kerja di koran tersebut. Dan besoknya disuruh datang untuk mengikuti briefing jurnalistik. Hmmm .. Ini sms kenapa datangnya mendadak sekali. Padahal waktu itu saya sedang berada di surabaya mengikuti job fair. Kalau saya ingin datang ke acara briefing, butuh waktu 4 sampai 5 jam perjalanan dari surabaya. Dilema. itu pasti, namun pada akhirnya briefing tersebut saya hadiri. Ya walau sedikit banyak rasa capek karena lelah perjalanan panjang.

Dan sekarang saya benar – benar sudah menjadi wartawan magang. Dan apakah saya bisa menjalani profesi ini dengan baik. Huwallohhuallam … Karena pekerjaan tersebut akan kujalani mulai senin besok. 🙂

***

Jika Aku Jurnalis …

Menjadi Jurnalis itu mengasikan. Kita akan bertemu hal – hal baru dan orang – orang baru setiap harinya. Kita juga bisa ketemu siapapun yang ingin kita temui. Mau itu artis, pengusaha, gubernur, bupati atau presiden sekalipun. Asalkan mereka ada hubungannya dengan kepentingan publik, kita berhak untuk mendapatkan informasi dari mereka. Karena memang peran jurnalis ada di tengah – tengah segala pemilik kepentingan.

kebebasan-pers1Tapi tak hanya mengasikan saja, Bahwa jurnalis dalam menjalankan tugasnya haruslah dituntut selalu berfikir cerdas, punya rasa ingin tahu lebih, smart, tanggap dan peka dalam kondisi apapun. Jangan sampai masyarakat terutama responden merasa terganggu apalagi alergi terhadap tingkah polah jurnalis. Yah setidaknya itulah yang saya rasakan belakangan ini.  Banyak jurnalis yang kadang tidak bersikap simpatik dan kadang terlihat bodoh.

. Saat mengangkat berita musibah misalnya. Kita sebagai jurnalis hendaknya meminta izin dulu, apakah pihak keluarga mengizinkan kita mengambil gambar atau mewawancarainya. Tak lupa juga mengucapkan rasa berbela sungkawa kepada mereka. Baru kemudian jurnalis menjalankan mengambil perannya yang sebenarnya. Jurnalis yang cerdas tak akan pernah bertanya kepada responden “Bagaimana perasaan saudara sekarang ini?” Apa sebelumnya sudah mendapat firasat mengenai musibah yg akan terjadi?, Padahal kita tahu dan sadar bahwa responden tersebut menangis tersedu-sedu  meratapi musibah yang menimpanya.

Dan lagi, dalam kasus kecelakaan pesawat AirAsia yang terjadi baru – baru ini, Jurnalis hendaknya bertanya yang cerdas, misalnya begini “Apakah keluarga akan mengajukan tuntutan hukum kepada pihak maskapai karena telah dianggap lalai ?. Bukannya malah bertanya“Apakah korban dikenal baik oleh tetangga?. Padahal kita tahu bersama bahwa kecelakaan pesawat tidak punya korelasinya dengan kehidupan korban penumpang pesawat dengan para tetangganya. Ironis memang, ketika kita tahu yang bertanya seperti itu adalah jurnalis televisi nasional. Tapi saya yakin wartawan Radar Tulungagung tak pernah melakukan itu. hehehe.

Selain cerdas, wartawan haruslah punya rasa ingin tahu berlebih. Saya sendiri selaku orang yang mempunyai hobi dalam dunia seni, musik dan photography khususnya. Juga tak lupa mengikuti ikhwal perkembangan dunia politik setiap hari. Yah karena bagi saya informasi tentang perkembangan politik itu penting. Agar kita tidak dianggap apatis terhadap berjalannya sebuah pemerintahan. Jadi, sangatlah beruntung apabila saya bisa terjun di dunia jurnalistik. Karena selain bisa menjalani pekerjaan, kita bisa sambil belajar dan mendapat hal – hal baru setiap hari.

Selain cerdas dan punya rasa ingin tahu, jurnalis juga harus bersikap peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam beberapa kesempatan saya pernah menjumpai teman jurnalis yg bertindak kurang peka terhadap sekitarnya. Pernah dalam perhelatan konser musik, saya melihat beberapa jurnalis foto menghalangi penglihatan penonton dengan mondar – mandir di depan panggung. Sampai – sampai penonton meneriaki jurnalis karena merasa terganggu. Dan tak urung berapa lama, pihak penyelenggara mengusir jurnalis tersebut. Nah, melihat kejadian itu, saya selaku orang yang pernah menekuni dunia bawah panggung merasa malu. Harusnya jurnalis sadar bahwa keberadaan dalam moment tersebut hanyalah cukup sampai meliput acara, tanpa menggagu mereka yang menyelenggarakan acara dan juga yang menikmati acara.