Misi Pantai Sanggar

Pantai Sanggar adalah satu dari sekian pantai indah yang ada di kabupaten Tulungagung. Indah karena memang pantai ini masih natural. Belum ada bangunan modern yang ada di sana. Ya walau kondisi sekarang sudah sedikit banyak terpengaruh pembukaan lahan oleh penduduk. Tapi hijaunya pohon – pohon dikanan kiri bukit masih terasa kok. Tak seratus persen hilang karena ditebang. Selain mata sampean dimanjakan oleh hijaunya perbukitan, telinga sampean juga akan dimanjakan oleh suara – suara burung yang berkicau merdu. Habitat Burung Cucak Ijo masih banyak di Pantai Sanggar. Bagaimana, sampean Tertarik datang nggak? …

???????????????????????????????Untuk mengakses pantai Sanggar, sampean harus melewati jalan setapak. Naik turun perbukitan dan terkadang jalannya licin ketika hujan dan berdebu ketika kemarau. Saran saya, kalau datang ke Sanggar, jangan pas musim hujan seperti bulan – bulan ini. Kecuali sampean suka hiking. ya gakpapa ….kapan pun kesana monggo kerso…

Nah sekarang saya mau sedikit cerita tentang pengalaman kemarin. Minggu Pahing 18/1. Kita anggota pecinta tiwul mau membuat Film Dokumenter tentang misi perjalanan ke Pantai Sanggar. Oh iya.sebelumnya kenalinin dulu nih anggotanya: Saya sendiri Doelzis selaku juru rekam, teman saya Gudel selaku bintang utama, Gendon selaku artis pendukung, Jamel sang produser, Afnan selaku ibu manager, serta Nyoman , Sabung, dan Fauzi sebagai pembantu umum.

Pada awalnya saya nggak punya niatan ikut misi perjalan ini. Lha wong ketika mereka berangkat ke pantai sanggar, saya masih tiduran di rumah. Tapi karena Jamel memaksa, ya apa boleh buat. Saya pun akhirnya ngikut apa kata pak producer.

???????????????????????????????Apes. belum sampai setengah perjalanan. motor yang saya tumpangi bersama Nyoman mengalami bocor ban. Padahal sebelumnya saya sempat bertanya ke dia“man sanu’e bane bocor to?”. Hadeuh ,,,. Apesnya lagi, tempat tambal ban yang saya datangi tutup hari itu. Kita harus berjalan 1 km lagi ke tempat tambal ban yg lain. Dan setelah semuanya beres, Misi perjalanan ini kita lanjutkan kembali. Ini masih satu dari sekian cobaan yang datang saat mengunjungi Pantai Sanggar.

***

Satu jam kemudian, kita sampai di atas bukit, Di atas puthu’an kalau kata orang sana. Disinilah tempat terakhir perjalanan kita menggunakan sepeda montor. Tapi kalau sampean datang dengan mengendari sepeda trail, sampean bisa dengan mudah sampai ke tempat tujuan tanpa harus menitipkan sepeda motor. Dan kalau mau berjalan kaki dari puthu’an, butuh waktu kurang lebih 60 menit untuk sampai ke Pantai Sanggar.

Saat perjalanan menuju ke Pantai Sanggar, kanan kiri mata sampean akan dimanjakan perbukitan gunung yang indah. Apalagi kalau perjalanannya ditemani gadis muda nan cantik jelitah. Pasti tambah nikmat dan indah beneran. Yoo po ra masbroh ?

Nah itulah yang kita alami kemarin, tak sengaja kita bertemu dua gadis muda di tengah perjalanan. Mereka ujug-ujug ada di belakang kita. Melihatnya berjalan hanya berdua, pun mereka sama – sama wanita. Jiwa kelaki – lakian saya keluar. Mana tega sampean membiarkan mereka berjalan berdua ditengah hutan. coba nanti kalau ada apa – apa, kan kasihan mereka. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. (kurang baik apa saya,. Tapi sayangnya orang baik kayak saya, kok ya masih jomblo to. atau memang sekarang ini cewek lebih mudah tertarik sama yang bad boy … bad boy.. gitu ?) behhhhh ……

Lanjut. dan kitapun berjalan berbarengan. Mereka sebenarnya datang tak hanya berdua. temannya yg lain sudah ada di Sanggar sejak pagi tadi. makanya mereka ketinggalan di belakang dan ketemu kita. Kedua gadis muda ini berstatus mahasiswi dari salah satu kampus kesehatan di kota Blitar. Mereka cantik sih, Sayang. sampai akhir perjalanan saya nggak sempat menanyakan nama, alamat atau nomer telephone mereka. Memang saya kurang cepat tanggap kalau urusan awewek gini. Dan kesempatan ketemu jodoh pun hilang. lagi .. lagi dan lagi …

***

Sebentar, ini kenapa jadi bahas awewek to?Mari kita kembalikan cerita ini ke jalur semula. Waktu kita datang kemarin, pantai ini cukup ramai, ramai karena memang akhir pekan. banyak anak sekolah kesini buat menepi. (menepi buat nyari tempat yang sepi, ya mungkin mereka mau belajar) tapi sayangnya saya datang nggak bawa awewek. (lagi – lagi masalah awewek) Karena itu saya merasakan hampah …. !!!

Bayangkan betapa sedihnya, kita hanya bisa selfie, berenang dan mainin pasir. Itulah cara kita menghibur diri. Duh .. nasih – nasib. Nasib jomblo kelas berat.

???????????????????????????????Pantai ini punya pasir yang bersih, putih dan tebal. garis pantainya pun juga lumayan panjang. Kanan kiri garis pantai diapit tebing dan bebatuan yang indah. Pohon dan ranting – ranting banyak tumbuh disekitar pantai. Oleh sebabnya suasana pantai Sanggar sangat cocok kalau dijadikan tempat berkemah.

Sampean kalau berkemah, saya sarankan jangan datang saat musim kemarau. Soalnya, sungainya kering. jadi sampean akan sulit mendapatkan air tawar. Kecuali kalau mau membawa air mineral atau galon sendiri. ya monggo silahkan.

Dan ketika sampean kesulitan bawa barang saat mau berkemah, saya sarankan mintalah bantuan jasa para penduduk kampung disana. Para penduduk kampung akan sangat berterima kasih apabila jasa mereka bisa digunakan. Apapun itu bentuknya. mau suruh bawain montor, bawain galon atau yang lain. Mereka dengan senang hati akan membantu sampean. Sampean nggak usah takut atau khawatir, penduduk disana ramah dan baik kok. Nggak kalah ramah kalau dibanding penduduk kraton kasultanan jogja. Serius saya…

***

Selang beberapa waktu, rintik – rintik hujan datang tanpa permisi. Untungnya di Sanggar ada warung. Warung mbok siapa gitu, saya kok lupa namanya. Dan kitapun bisa berteduh. (perhatian: warung hanya buka disaat liburan datang)

Di warung inilah, kita minum kopi dan makan siaang. Dan yang nggak kalah penting, kita ngobrol banyak dengan bapak ibu pemilik warung. Mereka bercerita banyak tentang asal muasal pantai sanggar. Bercerita mulai dari yang nggak ada hubunganya sama sekali dengan Sanggar sampai cerita korban yang hampir terseret ombak. Satu yang saya ingat dari cerita mbok itu, bahwa wanita sesama wanita dilarang datang mengunjungi pantai yang ada dibaratnya pantai sanggar (duh saya lupa namanya pantai apa). Ya pokoknya nggak boleh aja. Jangan tanya kenapa. soalnya saya sendiri juga nggak tahu, pun pemilik warung itu.

***

Hujan pun sudah reda, kitapun berpamitan dengan bapak ibu pemilik warung. Kemudian pulang dari pantai sanggar. Diujung cerita. Sesudah kita sampai ditempat penitipan sepeda. Afnan kakinya terkena pecahan kaca. Pecahan kaca lampu neon tepatnya. Ia pun menangis bak anak kecil minta otet – otet. (peace nan tapi puas kan sama keindahan pantai sanggar?, hehehe)..

***

Ini sedikit pengalaman saya ketika mengunjungi pantai sanggar, Minggu 18/1 kemarin. Next. rencananya kita akan mengunjungi pantai – pantai yang ada di Kota Pacitan.tungguin ya ceritanya …

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s