Bulan: April 2015

Empu Gandring, Einstein Hingga Steve Jobs

Empu Gandring dulu hidup damai, dilingkungan yang sepi ia tinggal. Tak heran kenapa beliau lebih menggunakan bahasa komunikasi kebatinan ketimbang  teriak – teriak dengan verbal. Ya karena saat itu Empu Gandring terus berhubungan dengan alam, alam selalu mengajarkan tanda-tanda.  Salah satu contohnya berikut ini.  Saat angin bertiup dengan semilir dan disertai udara dingin maka Empu Gandring sudah bisa membaca bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Ini cukup membaca dengan batin suci nya. Baginya tak perlu menunggu konferensi pers dari BMKG agar supaya tahu kalau besok mau hujan.

Tapi sekarang,setelah sekian abad berlalu. Empu tak lagi tinggal di tengah -tengah alam yg dipenuhi pohon – pohon tinggi, angin – angin yang berhembus dengan damai serta pegunungan – pegunungan yang indah.  Sekarang ia tinggal di tengah gedung – gedung tinggi. Ditengah – tengah masyarakat hedon dan modern.  Jadi tak berlaku lagi komunikasi model kebatinan. Karena memang gedung adalah benda mati. Tak mungkin lah benda mati bisa mengajarkan pertanda. Benda ataupun barang disekitarnya penuh dengan  baja, semen, besi dan batu. Itu artinya mereka keras. Batin tak mengenal keras. Ia tak bisa connect dengannya. Oleh sebabnya. Komunikasi harus berubah.

urlhjhjhPun Empu Gandring. Ia harus menuntut dirinya berengkarnasi menjadi manusia baru. Akhirnya lahirlah empu steve jobs. Batin harus kita dudukan ke tempat lebih layak. Kini komunikasi harus segera ditemukan cara nya yang lebih bisa seiring dengan zaman. Olehnya pikiran sekarang cenderung dominan. Hingga akhirnya membawanya menemukan apple yg tak habis dimakan oleh pemilik. Dan sayapun kaget bahwa apple tersebut ternyata sisa gigitan dari Elbert Einstein. Duh beruntungnya kau Steve, memakan sisa Eilbert Einsten yg terkenal memang genius dan Legendaris.

Heuheuheu … ternyata dunia hanya berkutat disitu ~ disitu saja. Einstein juga tak mengira kalau epple habis gigitannya akan dikais orang hebat seperti steve jobs.

Ya…. karena einstein tak mau terus menikmati enaknya rasa apple yg jatuh, hingga dia harus membuangnya setelah satu gigitan saja. Dia tahu bahwa enak harus sekedarnya saja. Karena memang dalam pikirannya bukan tentang enak nggak enak rasa apel. Namun ia berfikir jauh kedepan. Ia berfikir kenapa bisa apple jatuh dari tangkainya. Kenapa? Apa yang menyebabkan? Bagaimana caranya? Dan seribu pertanyaan lainnya menyusul kemudian. Akhirnya ia tahu bahwa ada hal yg bernama gravitasi. Dan itulah yg menyebabkan apple jatuh. heuheu…

Dan sekarang lalu apa yang sampean pikirkan membaca kisah ngawur diatas. Heuheu… sebenarnya ini hanya masalah perubahan. Bahwa reankarnasi harus dilakukan. Harus! Agar kita bisa seiring dengan perjalanan zaman, bahkan bisa di depan zaman itu sendiri. Empu Gandring menciptakan keris hebat pada zamannya, Einstein apalagi, dan Steve Jobs mengajarkan kita bahwa visi kedepan dan imajinasi kelak akan mengalahkan segalanya. :P. Ketiga nya adalah orang – orang gila yang berhasil menunjukan perubahan. 😀