Pandawa Limo Dalam Spektrum Jawa

Untuk tahu cara bagaimana menyampaikan sesuatu, belajarlah ke Wali SOngo. Bagaimana mereka mengubah wayang kulit yang dulunya menjadi identitas kaum hindu berubah menjadi sarana media dakwah.Hebatnya lagi Wali songo mampu memasukan Rukun Islam yang lima itu kedalam jiwa Pandhawa Limo. Nggak percaya??

pandawa_lima_the_movie_by_vegafrizzyPandhawa Lima yang beranggotan Yudhistira, Bima, Arjuna serta Nakula dan Sadewa sangat berhubungan dengan Rukun Islam. Wali songo mampu memasukan Nilai Rukun Islam kedalam karakter Pandhawa Lima. Sebut saja Yudhistira, Karakter dia yang jujur dalam segala ucapan dan perbuatan sangatlah melambangkan Syahadat. Orang yang memegang teguh kalimat thayyibah. Bima adalah lambang Sholat lima waktu, sesuai dengan karakter Bima yang tidak bisa tawar menawar terhadap apapun. Dalam keadaan apapun orang islam diwajibkan untuk mendirikan sholat, dan ini cocok dengan BIma yang kuat, tegas dan memperlakukan orang semua sama, tak suka membeda – bedakan manusia. Kemudia Arjuna, Ia melambangkan rukun islam yang ketiga yaitu Zakat. Zakat mustahil terlaksana apabila kita tidak kaya. Hampir semua orang mendambakan kekayaan. Persis seperti Arjuna yang disukai semua orang. Bahkan sakeng sukanya orang terhadap Arjuna, ia dipandang sebagai Lanang ing Jagad. Nakula dan Sadewa adalah simbol rukon islam yang ke empat dan kelima. Sebagaimana Puasa dan Naik Haji. Yang tidak dikerjakan setiap hari oleh umat islam. Ada persyaratan disana. Karena puasa dan haji, tidak dikerjakan setiap hari. dan ada syaratnya. Maka Nakula dan Sadewa pun tidak sembarang waktu dimunculkan dalam lakon pewayangan.

Arab yang keras, India yang lemah lembut bertemu di Tanah Jawa. Alam Jawa dengan dua kepribadian berbeda. Dan disinilah Islam yang membawa kebenaran serta hindu yang mempunyai sikap toleran. ISlam masuk ke Jawa dengan cara yang begitu elegant, beradap dan akulturasi budaya. Dan nyatanya perkembangan islam disini jauh lebuh maju dibandingkan di negeri dimana Islam diturunkan. Arab yang panas, tandus, air yang langka, tanpa kehijauan pepohonan, tanpa warna-warni bunga, tanpa burung, tanpa kupu-kupu. Sangatlah Gersang. Hanya gerakan unta yang berjalan pelan diujung cakrawala. Alam menguasai tumbuhan, batu cadas, pasir yang panas. Maha kuat, Maha adil, Maha bijaksana.

India yang bersorak sorai dalam tarian dewa – dewi, hijau hutannya, serta manusia bernyanyi dalam semesta. Alam kesatria dan wayang.

Islam tidak melulu kaku dan harus menjadi sebuah arab baru di negeri timur jauh, yaitu di negeri kita Indonesia. Kita bukan orang yang fanatik keblinger. Kita bisa menjadi orang baik – baik, menjalani agama dengan baik sekaligus mencintai budaya yang baik di negeri kita sendiri. Tanpa harus menjadi fanatik. Memang serba susah, karena penyakit fanatik ini konon salah satu wabah yang ikut keluar dari buah kuldi, ketika Hawa digoda Setan.

Kalau sudah demikian, Semar yang diciptakan pujangga lokal, karena tidak pernah ada dalam wayang asli Mahabarata dan Ramayana hanya mesam – mesem. Semar hanya bisa tersenyum walaupun kelihatan matanya barusan menangis. ” Oh …. Ladalah… le.. le… le… Ojo Keblinger…..to …” (IB)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s