Maafkan Kami Turun Ke Jalan …

Mahasiswa ya begitu itu, teriak …. dan teriak. Kalau tidak Nggontok ya bukan mahasiswa. Bicaranya keras, kalau tak keras maka tak dianggap idealis. Maka harap maklum kalau jalan sampean menuju ke kantor merasa terganggu lalinnya, karena adanya teman – teman Mahasiswa turun ke jalanan.

AMenyalurkan aspirasi dengan turun ke jalan sudah ada semenjak negara ini berdiri. Itu kata sejarah loh, bukan kata saya. Dulu kala semenjak negara api belum menyerang, kita mengenal peristiwa malari, kemudian yang masih hangat peristiwa 98 dan masih banyak lagi. Semuanya sama, sama-sama turun ke jalan dan bikin macet orang lewat. Dan sekarang mahasiswa di era serba modern masih menggunakan cara tersebut. Aku kok agak anu ya, soalnya substansi turun kejalan sudah hilang, karena orang umum sudah mengagpnya hal lumrah nan biasa. Adrenalinenya sudah nggak sama seperti era soekarno atauun Mbah Harto.

Nah, kalau orang umum sudah menganggapnya biasa, maka kemudian saya bertanya “terus daya dobraknya dimana?”. Kan niatan turun ke jalan agar aspirasi mereka terkesan mendobrak. Kalau dahulu, turun ke jalan dianggap mendobrak, dan dianggap peristiwa luar biasa. Mengumpulkan orang sebanyak itu dizamannya sangatlah susah, butuh waktu berbulan – bulan emi perencanaan yang matang. Maka peristiwa nya pun juga seheboh yg kita rasakan dalam sejarah. Namun sekarang apa sama seperti itu, TidaBisa mengumpulkan orang sebanyak itu hal gampang dilakukan sekarang ini. Cukup dengan hastag di twitter, besoknya orang sudah berjubel di bundaran HI. Dan dampaknya, banyak diantara mereka tak tahu substansi demo yang dilakukan. Itulah yang terjadi sekarang.

Maka dari itu, saya yang pernah menjadi mahasiswa mau sedikit nimbrung, gimana kalau metode turun ke jalan sekarang ini dirubah. Misalnya dengan cara – cara yang sedikit elegant. menulis pendapat di media massa, bagi yang suka stand up comedy bisa membawakan materi kritik mereka diatas panggung, yang suka musik bisa lewat karya musiknya dan juga bagi yang suka menggambar bisa lewat meme ataupun lukisan. Saya kira kalau orang mau untuk melakukan ini, pemerintah selaku pembuat kebijakan akan berfikir dua kali. karena dampak seperti meme dll bisa sangat masif di era yang serba social media sekarang ini. Ini cuma usul saya pribadi, kalaupun tidak dianggap ya nggak apa – apa. Karena tak ada hukum fardhu disitu. Sekian dan terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s