Bulan: Juni 2015

Dipuncak Kebahagiaan

Pembenaran, itulah klaim dari mereka yg melihat seseorang telah mencapai puncak spiritualitas yg cukup tinggi. Dimana puncak spiritualitas tersebut sudah membumi hanguskan sifat keakuan diri. Tak lagi memikirkan diri sendiri, kehidupannya hanya ditunjukan untuk semesta. Disinilah dia mencapai arti bahwa dirinya adalah khalifah yg sebenar – benarnya.

Keakuan adalah sifat yg masih berurusan dengan nafsu, masih berfikir tentang kemerdekaan dirinya. Jiwa belum mampu keluar untuk berpetualang ke alam yg lebih luas dan tak terbatas.

Jika sudah merdeka tentang dirinya sendiri, orang akan mampu melihat dan menerima hikmah dalam setiap kejadian. Dan disitulah taraf hidup yg paling membahagiakan.

Iklan

Mbakyu, Ngecuprus Aee

Lama tak bersua, Bersua juga setelah 7 tahun berpisah. Itupun via social media. Duh, kangen memang harus ditahan. Biar kelak lepasnya enak.

Ini tentang mbakyu ku. Mbakyu yg hobinya ngecuprus terus. Diam baginya berat, berat sekali. Nggak heran jika setelah lama berpisah. Chatt bersamanya pun isinya penuh “ngecuprusan”. Topiknya beragam, beragama kayak warna kue rainbow. Beuhh…

Kini mbakyu sudah beranak dua. Dua belum tiga. Dan rencananya ingin tambah, tambah dan tambah lagi. Biarkan, mumpung masih muda, Iya kan mbakyu?

Semalam, banyak cerita yg kita bagi. Membicarakan mereka dari belakang. Tapi, bukan untuk menjelekan lhoh. Ini hanya untuk mengulik fakta. Tentang karakter teman – teman kita dari sudut yg berbeda. Tujuannya nggak merendahkan, pun tak menjelekan. Kita hanya sebatas berbagi cerita. Jika ada bumbu yg tak sedap, itu kekhilafan. Maklum manusia memang begitu. Bahkan sudah dari DNA nya.

Menceritakan masa lalu, tak ada habisnya. Seperti nyemil kacang, dimana bisa memulai namun sulit untuk berhenti. #Ngecuprus semalaman memang mengasyikan. Sejenak melepaskan beban pikiran

Hmmm. Seandainya mbakyu berjumpa lebih cepat, mungkin blog ku tak sepadat ini. Karena teman berbagi itu ada. Sayangnya dulu mbakyu menghilang. Ehh… Atau aku yg menghilang ya?.

Tak penting itu, yg terpenting kita sekarang bertemu kembali. Menyambung silaturahmi. Dan bersama menikmati cerita yg sudah lewat. Tetap dengan sembari minum kopi. Heuheuheu…

Filosofi Encit

Heuheuheu …. Aku ngikik, kala di chat blackberry massager, seseorang bilang “encit”. Menyanggah sebuah percakapan.

Sepintas kata tersebut biasa saja. Namun karena di ungkapkannya di groub yg memang membicarakan kenangan masa lalu. Encit menjadi kata yg membawa nilai sejarah.

Lalu sejarahnya dimana, Encit…..

Encit… Adalah kata yg cenderung satir, pun ngentahi. Menyanggah dengan nada mengejek. Halus pun dalam. Encit yg diambil dari sebuah bunyi pompa ketika digunakan. Semakin di pompa semakin asyik. Encit…. Encit….Encit. Neng yo ora mengandung apa – apa. Hanya menghasilkan angin. Tak bisa dilihat, tak bisa dipegang. Hanya bisa dirasakan. Pun lalu begitu saja.

Ketika orang mengucapkan encit di tengah perbincangan, berarti orang tersebut tidak mempercayai apa yg orang lain bicarakan.

Sayangnya, si encit sudah tak lagi populer. Karena orang tak lagi melakukan perbincangan secara tradisional. Saling berhadap muka, sembari minum kopi bersama. Kini, Semua sudah serba social media. Pun perkembangan bahasa menjadi miskin. Dan semuanya tersentris kepada tren dari dunia luar. Yg sebenarnya berbeda dengan dunia kita disini. Semuanya serba ikut trend. Manusia tak sekreatif dulu. Yang menciptakan gaya bahasa sendiri kemudian menciptakan trend sendiri. “Halahhhh…. Embohhhh”.

Beranjak & Kemudian ?

Siapa bisa mengira, berjalannya waktu secepat ini. Satu persatu dari kami telah melangkah, melangkah di kehidupan berikutnya. Bekerja, Menikah dan kemudian berkeluarga. Perasaan baru kemarin. Kopi hitam menemani kita disetiap malam. Malam yg di isi dengan pembahasan tentang manusia lucu di siang hari. Hah… Berasa guyon-guyon masa lalu seperti baru kemarin. Baru… Tak lama, kita terbahak – bahak. Saling mengejek, saling menertawakan bahkan saling nasehat menasehati. Masa itu sudah lewat. Dan satu persatu memberanikan diri untuk beranjak. Hebat kalian, bahkan akupun belum mampu. Tertinggal?. Jelas itu…. Memang sudah sewajarnya. Hidup saling meninggalkan dan ada yg ditinggalkan. Tak semua, harus selalu bersama. Sudah dari dulu begitu.

image

Soekarno dan Hatta siapa yg tak kenal. Orang-orang menyebutnya pasangan sahabat yg hebat. Saling mengisi dan lain sebagainya. Tapi lihatlah di kehidupan berikutnya. Hatta memutuskan untuk beranjak, pergi dan meninggalkan Soekarno. Tapi catat. Meninggalkan disini bukanlah meninggalkan dalam konotasi negatif. Apalagi atas dasar benci.

Manusia bermacam, dan dari setiap macam memiliki cara masing- masing. Untuk beranjak pun demikian. Cara, waktu dan prosesnya pun tak sama. Ada yg beranjak karena ia adalah sang penggerak. Ada juga baru bisa beranjak kalau sudah digerakan dan dipicu orang di luar dirinya. Ya… Begitulah isi dunia. So, jangan disama rata kalau menilai masing-masing individu. Bahkan terhadap anak kembar pun.

Kalau anak kembar saja tak sama, apalagi dua anak manusia yg tak dilahirkan dalam rahim yg sama, pun tak sama latar belakang keluarganya. Jelaskan. jalan hidupnya pun akan beda.Yoopora?

Matahariku Telah Terbenam

Aku ingat betul, kejadian berikut terjadi di hari jum’at. Satu Windu dihitung dari tulisan ini di tulis.

Ia memanggilku “Shin”, dan aku memanggilnya “Matahari”. Kita berdua bersahabat sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama. Persahabatan yg terjalin tanpa diada – ada. Direkayasa… apalagi. Bukan karena harta, materi atau apalah – apalah. Kami bersama untuk saling mengisi. Dan berharap semua akan jadi yang terbaik.

image

Kita bersahabat untuk saling membantu. Dan saling menasehati satu sama lain. Jujur, ketika Ujian Nasional tingkat SMA. Dialah yg mengirim semua kunci jawaban kepadaku. Hasilnya pun terbilang mengejutkan.Nilaiku tertinggi dalam satu sekolah… Heuheu.. Dan anehnya nilaiku justru diatas dia. Padahal aku menyontek jawabannya. Aneh…. Memang.

Disetiap kesulitan ekonomi, yang menimpa anak kos. Ia banyak sekali membantu. Tak jarang aku sering dipinjami uang olehnya. Beruntunglah aku…

Ingat nggak, disaat sepulang dari jogja. Kita sama – sama kena begal di dalam bis. Aku pun sempat ditodong pisau. Dan kamu pun menjerit minta tolong. Beruntungnya Aku bisa lari menghindar dan kamu tak sempat, hilanglah handphone hasil pemberian om mu. Padahal handphone tersebut baru diberikan om mu satu minggu yg lalu.

Di tengah perjalanan. Di toko buah kita singgah. Kamu pun masih menangis dan takut pulang. Berfikir bagaimana nanti harus bercerita kepada ayah ibu tentang kejadian yg menimpa kita.

Dan akupun harus berputar otak. Agar kamu terlihat tenang. Sehingga kamu mau pulang dan tak takut bertemu ortumu.

Akhirnya aku bilang “Sudahlah… Nanti sepulang sampai rumah, handphone yg tadi hilang pastilah akan kembali”. Dan kamupun bertanya “Bagaimana caranya”. “sudahlah itu urusanku” jawabku dengan sedikit menenangkan.

Ia pun mau pulang. Dan aku pun mencari cara, bagaimana caranya handphone yang telah hilang bisa kembali lagi.?

Sesampai Tulungagung. Ia aku titipkan di rumah teman ku Frelly. Disitu dia menunggu handphonenya kembali. Dan aku pun harus pergi mencari handphone yg telah hilang itu.

Terus kemana aku harus mencari?
Ke dukun kah? Ke Polisi kah? Atau ke Premankah?

Bukan. Aku tak mencari ke mereka. Tetapi aku pulang ke rumah. Dan meminjam uang ke pada ayahku. Ayah pun tak tahu untuk apa uang itu. Yg jelas. Aku hanya bercerita Aku butuh uang dan itu darurat. Kemudian ia pun memberikan. Tentu uang ini bukan diberikan, tetapi dipinjamkan. Karena begitulah adat kami di dalam keluarga. Heuheuheu….

Sesampai Tulungagung, aku menelpon temanku Frelly yg bersamanya. “Tolong kesini, sendiri, biarkan dia disitu dulu untuk menunggu handphonenya”. Aku pun meminta tolong Frelly untuk mencarikan Handphone baru dengan tipe dan merek yang sama. Dan akhirnya ia pun terkejut, setelah tahu handphonenya kembali.

Ia pun tak tahu dari mana dan bagaimana handphone itu bisa kembali. Ia hanya bisa tertawa dan sedikit tenang.

Seminggu setelah kejadian, akhirnya ia bertanya. Dari mana kamu dapat hp baru itu?. Akupun bercerita dengan jujur. Sehingga akhirnya ia mengembalikan uangku yg digunakan untuk membeli hp tersebut dengan cicilan 150 ribu perbulan. Ia nampak senang. Dan aku juga ikut senang karena bisa sedikit membantu dan bisa menyelesaikan masalah. Sahabat selayaknya begitu. Saling bantu membantu. Dalam susah dan senang.

Dan kini, kita sudah sama – sama lulus. Dan bersiap untuk melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi. Jogja adalah pilihan kami yg pertama.

Disaat kami sedang melakukan perjalanan menuju kota Jogjakarta, Ia mengeluh tentang suasana batin yg tidak segarusnya ia rasakan. Harusnya semangat yg ia butuhkan, bukan malah beban pikiran.

Lalu beban apa yg ia tanggung sekarang ini. ?

Berikut jawabnya:

Anak mana sih… yg tak terkejut, ketika melihat ibunya berjalan bersama laki-laki lain di depan matanya sendiri. Bahkan, dengan entengnya dan seolah tak bersalah,ibunya sendiri memperkenalkan laki – laki tersebut kepada anaknya. Duh… Nelangsalah anak itu,…

Ibu adalah teladan. Selayaknya begitu. Apalagi mereka sama – sama perempuan. Kasihlah teladan yg baik. Bukannya malah teladan yg nggak bener. Apalagi anakmu sekarang sedang sakit. Sakit hati dan pikiran bu…

Sungguh berat anak semuda itu harus menanggung pikiran yg begitu rumit. Tak heran jika, kerumitan inilah yg memicu penyakitnya sepakin parah. Dan kemudian….

Ya.. Sudahlah.
Ternyata Tuhan lebih menyayangimu. Tuhan tahu mana yg lebih baik daripada hambanya. Setidaknya. Kini rasa sakit itu sudah hilang. Hilang bersama dengan fisikmu yg lebur dan menyatu dengan tanah. Damailah teman. Damailah sahabat.

Aku masih banyak hutang rasa kepadamu.

Maafkan aku. Yg tidak bisa datang ke rumah sakit sehari sebelum kamu tiada. Padahal kamu sendiri yg memintaku. Begitulah manusia. Kadang khilaf. Dan ke khilafan itu yg membuat aku menyesal. Tapi aku yakin kamu disana memaafkan.

Dan kini, Matahari sudah terbenam. Akupun harus kembali melanjutkan perjalanan di tengah malam. Tentu dengan sendiri.