Matahariku Telah Terbenam

Aku ingat betul, kejadian berikut terjadi di hari jum’at. Satu Windu dihitung dari tulisan ini di tulis.

Ia memanggilku “Shin”, dan aku memanggilnya “Matahari”. Kita berdua bersahabat sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama. Persahabatan yg terjalin tanpa diada – ada. Direkayasa… apalagi. Bukan karena harta, materi atau apalah – apalah. Kami bersama untuk saling mengisi. Dan berharap semua akan jadi yang terbaik.

image

Kita bersahabat untuk saling membantu. Dan saling menasehati satu sama lain. Jujur, ketika Ujian Nasional tingkat SMA. Dialah yg mengirim semua kunci jawaban kepadaku. Hasilnya pun terbilang mengejutkan.Nilaiku tertinggi dalam satu sekolah… Heuheu.. Dan anehnya nilaiku justru diatas dia. Padahal aku menyontek jawabannya. Aneh…. Memang.

Disetiap kesulitan ekonomi, yang menimpa anak kos. Ia banyak sekali membantu. Tak jarang aku sering dipinjami uang olehnya. Beruntunglah aku…

Ingat nggak, disaat sepulang dari jogja. Kita sama – sama kena begal di dalam bis. Aku pun sempat ditodong pisau. Dan kamu pun menjerit minta tolong. Beruntungnya Aku bisa lari menghindar dan kamu tak sempat, hilanglah handphone hasil pemberian om mu. Padahal handphone tersebut baru diberikan om mu satu minggu yg lalu.

Di tengah perjalanan. Di toko buah kita singgah. Kamu pun masih menangis dan takut pulang. Berfikir bagaimana nanti harus bercerita kepada ayah ibu tentang kejadian yg menimpa kita.

Dan akupun harus berputar otak. Agar kamu terlihat tenang. Sehingga kamu mau pulang dan tak takut bertemu ortumu.

Akhirnya aku bilang “Sudahlah… Nanti sepulang sampai rumah, handphone yg tadi hilang pastilah akan kembali”. Dan kamupun bertanya “Bagaimana caranya”. “sudahlah itu urusanku” jawabku dengan sedikit menenangkan.

Ia pun mau pulang. Dan aku pun mencari cara, bagaimana caranya handphone yang telah hilang bisa kembali lagi.?

Sesampai Tulungagung. Ia aku titipkan di rumah teman ku Frelly. Disitu dia menunggu handphonenya kembali. Dan aku pun harus pergi mencari handphone yg telah hilang itu.

Terus kemana aku harus mencari?
Ke dukun kah? Ke Polisi kah? Atau ke Premankah?

Bukan. Aku tak mencari ke mereka. Tetapi aku pulang ke rumah. Dan meminjam uang ke pada ayahku. Ayah pun tak tahu untuk apa uang itu. Yg jelas. Aku hanya bercerita Aku butuh uang dan itu darurat. Kemudian ia pun memberikan. Tentu uang ini bukan diberikan, tetapi dipinjamkan. Karena begitulah adat kami di dalam keluarga. Heuheuheu….

Sesampai Tulungagung, aku menelpon temanku Frelly yg bersamanya. “Tolong kesini, sendiri, biarkan dia disitu dulu untuk menunggu handphonenya”. Aku pun meminta tolong Frelly untuk mencarikan Handphone baru dengan tipe dan merek yang sama. Dan akhirnya ia pun terkejut, setelah tahu handphonenya kembali.

Ia pun tak tahu dari mana dan bagaimana handphone itu bisa kembali. Ia hanya bisa tertawa dan sedikit tenang.

Seminggu setelah kejadian, akhirnya ia bertanya. Dari mana kamu dapat hp baru itu?. Akupun bercerita dengan jujur. Sehingga akhirnya ia mengembalikan uangku yg digunakan untuk membeli hp tersebut dengan cicilan 150 ribu perbulan. Ia nampak senang. Dan aku juga ikut senang karena bisa sedikit membantu dan bisa menyelesaikan masalah. Sahabat selayaknya begitu. Saling bantu membantu. Dalam susah dan senang.

Dan kini, kita sudah sama – sama lulus. Dan bersiap untuk melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi. Jogja adalah pilihan kami yg pertama.

Disaat kami sedang melakukan perjalanan menuju kota Jogjakarta, Ia mengeluh tentang suasana batin yg tidak segarusnya ia rasakan. Harusnya semangat yg ia butuhkan, bukan malah beban pikiran.

Lalu beban apa yg ia tanggung sekarang ini. ?

Berikut jawabnya:

Anak mana sih… yg tak terkejut, ketika melihat ibunya berjalan bersama laki-laki lain di depan matanya sendiri. Bahkan, dengan entengnya dan seolah tak bersalah,ibunya sendiri memperkenalkan laki – laki tersebut kepada anaknya. Duh… Nelangsalah anak itu,…

Ibu adalah teladan. Selayaknya begitu. Apalagi mereka sama – sama perempuan. Kasihlah teladan yg baik. Bukannya malah teladan yg nggak bener. Apalagi anakmu sekarang sedang sakit. Sakit hati dan pikiran bu…

Sungguh berat anak semuda itu harus menanggung pikiran yg begitu rumit. Tak heran jika, kerumitan inilah yg memicu penyakitnya sepakin parah. Dan kemudian….

Ya.. Sudahlah.
Ternyata Tuhan lebih menyayangimu. Tuhan tahu mana yg lebih baik daripada hambanya. Setidaknya. Kini rasa sakit itu sudah hilang. Hilang bersama dengan fisikmu yg lebur dan menyatu dengan tanah. Damailah teman. Damailah sahabat.

Aku masih banyak hutang rasa kepadamu.

Maafkan aku. Yg tidak bisa datang ke rumah sakit sehari sebelum kamu tiada. Padahal kamu sendiri yg memintaku. Begitulah manusia. Kadang khilaf. Dan ke khilafan itu yg membuat aku menyesal. Tapi aku yakin kamu disana memaafkan.

Dan kini, Matahari sudah terbenam. Akupun harus kembali melanjutkan perjalanan di tengah malam. Tentu dengan sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s