Bulan: Maret 2016

Jawa Itu Pangerten

Manusia punya instuisi, orang jawa ahlinya dalam hal beginian. Kita sama – sama jawa. Masak iya, semua harus dibicarakan segamblang – gamblangnya. Kita bukan barat, yg ngajakin main ps aja harus berkata”yuk main ps di tempat ini jam segini sampai jam segitu. Kita timur, cukup dengan “cuk” saja kedua belah pihak sudah paham betul. Pangerten kalau jawa bilang. Gitu, tapi semua bisa jadi hanya untuk mengolok – ngolok bahwa apa yg kamu sangkakan benar. Bahwa memang benar nggak bisa dipegang omongannya. Bahwa benar teman saya dusta. Tpi sangkaan itu bisa mentah jika kamu kembali ke pangerten tadi. Bahwa mungkin teman saya begini, karena ada alasannya. Dan apapun alasannya saya akan membenarkan. Karena ia adalah teman. Kepercayaan adalah yg utama. (Blog mbulet ini hanya bisa dimengerti jika yg baca teman saya sendiri). Diluar itu saya sarankan untuk membaca tulisan yg lain, dari pada berprasangka yg nulis ini bodoh dalam berbahasa….. Salam.

Mendung dung.. dung .. dung ….

Kehidupan adalah skenario tuhan dimana kita hanya melangkah, berjalan dan berlari sesuai dengan kehendaknya. Tak setuju, boleh² saja. Lantas saya bertanya, kamu berdiri sekarang ini, diposisi seperti ini murni hasil kerja kerasmu sendiri? Jika kamu jawab “iya”. Maka kamu angkuh dan sombong. Hehehe..yo wes dialusne, saya seperti ini atas campur tangan tuhan. Hehehe memperhalus kata yg sebenarnya masih menyisipkan keangkuhan dan kesombongan diri. Lupakan., coba kita balik. Jika kita berada di sisi sebaliknya. Apakah itu juga jalan tuhan kepada hambanya. Perihal ini masih banyak yg memperdebatkan. Banyak dari kita tak berani berkata demikian. Baginya, Tuhan adalah kesempurnaan. Mana mungkin kegagalan adalah jalan tuhan. Heuheu…. Kemudian saya bertanya di depan kopi ini? Kamu disini ditugaskan untuk menyampaikan apa?Mukjizat, Musibah atau Anugerah?  Rahasia apalagi dibalik hitamnya kopi ini? Esok …. Ya esokkk ia berjanji menjawabnya. Lantas kopi membentak. ” Ojo kakean bacot, karek nyruput ae kok kakean cangkem”….. Heuheu….

Motif Batik atau Garis? Curigaan melulu … 

Motif memang selalu ada dalam sebuah tindakan. Tak bisa dipungkiri, sekecil apapun itu. Kebaikan yg dilakukan dengan rasa ikhlas yg mendalampun masih tetap saja mengandung motif. Tapi tak semua motif itu buruk sehingga harua dicurigai.

Semisal saya ketika membantu sesama. Motif saya bukan surga, bukan untuk dipuji, atau untuk bisa dianggap ini itu. Simple kok, saya cuman ingin bermanfaat bagi orang lain. Lewat apa yg saya punya dan yang saya tahu serta mengerti. Jadi patokannya bukan hanya harta benda. Memiliki pengetahuan tentang sesuatu kadang bermanfaat bagi orang lain yg belum tahu. Nah… Kl punya ilmu saja bisa dibagikan apalagi punya yg lain, yg berwujud misalnya. Heuheu…. Intinya satu, saya cukup senang ketika keberadaan saya dianggap memberi manfaat pada orang disekitar saya.

Itulah yg saya yakini. Kok bisa gitu? Ya… Karena saya sudah merasakan bagaiaman rasanya diabaikan orang lain. Bagaimana rasanya di injak-injak harga diri oleh teman sendiri. Bagaimana rasanya dilukakai kepercayaan. Bagaimana rasanya dibantu orang. Ditolong orang lain ketika butuh. Bahkan direndahkan di depan umum pun… Dan itu sedikit banyak yg memberi pengaruh kepada prinsip hidup saya.

Dulu, ketika pulang sekolah tak dpat angkutan untuk pulang, lalu ditebengi orang yg kagak dikenal. Itu rasanya seneng bukan main…Waktu itu saya masih umur 12 tahun. Jarak sekolah dg rumah hmpir 27 km. Heuheuheu so  bagi kamu yg merasakan hal aneh karena bantuan saya. Nggak usah dipikiri panjang – panjang. Nikmati saja…. Dan percayalah saya tak punya maksud apa-apa. Kecuali berusaha memberi manfaat tadi. Bahkan pernah saya pun rela bawa montor bolak balik malang-surabaya-malang-tulungangung- ke malang lagi dalam waktu sehari hanya untuk apa? Untuk meminjami kamera yg saya punya kepada teman dekat. Toh itupun masih dicela, difitnah dan diburuk²in segala. Tapi saya tetap biasa – biasa saja dan enjoy. …