Bulan: November 2016

#Mbulet (dot) com

​Yang jago berpidato, biasanya ilmu hitungnya buruk. Pun sebaliknya, ketika orang menguasi ilmu eksak maka ilmu bahasanya biasanya juga buruk. Anggapan yang salah tersebut sudah bertahun – tahun melekat di benak saya. Maklum, sebagai penggemar matematika saya merasakan hal tersebut. Setiap ujian, bagi saya tak susah mendapatkan nilai matematika 10. Ketika UAN SD sampai SMA, Nilai matematika selalu sempurna. Cuma SMP saja yang 9,8. (Inipun terjadi karena ada satu soal yang tidak dikerjakan.). Saya pun juga sering mewakili olimpiade Fisika dan Matematika. di sekolah, dan  beberapa kompetisi sempat Juara satu. Yang terakhir kalau tak salah sampai ke tingkat provinsi dan lolos sampai semifinalis. Cukup membanggakan kan prestasi saya Hehehe… *Mumpung ada yang disombongkan., 

Namun sayangnya, pemahamanku dalam mempelajari matematika tak berlaku sama ketika harus dihadapkan dengan ilmu bahasa. Ibarat kata، Bumi langitlah… Saya mengakui bodoh dalam hal ini. Maka tak heran punya anggapan “Bahasa dan matematika adalah dua ilmu yang susah dikuasi oleh satu orang yang sama. Konon letaknyapun ada di bagian otak yang berbeda. Satunya otak kanan, satunya lagi ada di otak kiri. Padahal kalau di baca lagi, literasi yang mengulas otak tersebut masih lemah dan masih bisa diperdebatkan. 
Nah, berawal dari anggapan itulah, saya merasa bahwa ilmu bahasa tidaklah penting. Baik itu bahasa Jawa, Indonesia, English maupun Arab. Keempat bahasa yang pernah saya pelajari ketika sekolah. Pun saya menganggapnya fardhu kifayah, jadi jika beberapa orang sudah menguasai ilmu bahasa, maka gugur sudah kewajibanku. Akupun Jadi ingat, ketika masih pelajar, tak pernah sekalipun aku mendapat nilai diatas rata – rata, kecuali kalau pas ujian nyontek. Dan sepertinya, kebiasaan nyontek sudah menjadi rutinitas ketika ujian bahasa digelar.

Belajar Bahasa sangat susah. Masih lebih mudah ngerjain soal matematika daripada ngerjain bahasa arab. Sakeng bodohnya dalam mempelajari bahasa, saya pernah mempunyai cerita memalukan saat test praktek mata pelajaran bahasa arab. Waktu itu, Semua murid berada diluar kelas dan menunggu giliran namanya dipanggil. Pengujinya Bu Miftah. Guru yang kebetulan juga wali kelas. Modal saya ikut ujian cuma “Pasrah”, ditanya Fi’il mudhorik atau apalah namanya, pastilah saya tak paham sama sekali. Dan benar saja, sewaktu giliran tiba, Bu mif langsung tanya soal ini itu. Berhubung dia wali kelas, maka ilmu diplomasi aku terapkan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan dari bu mif. Ilmu diplomasi yang saya maksud adalah tentang bagaimana harus meyakinkan Bu Mif agar memberikan nilai yang cukup kepada saya. Dan tanpa harus menjawab soal ujian yang diberikan. “Bu… Jujur, sampai sekarang saya masih belum juga paham dengan pelajaran bahasa arab. Jadi berapapun ibu kasih nilai, saya sudah pasrah aja.”, bermodalkan pernyataan jujur dan tulus diatas, Bu Mif mungkin merasa iba. Dan Alhamdulilah nilai yang diberikannya sudah cukup mengantarkan ke syarat kelulusan Ebtanas.

Dalam berbahasa jawapun, saya kadang heran. kok bisa – bisanya saya masih gagu dalam bertutur kata, terutama kalau sudah menyangkat bahasa jawa halus. Padahal, ayah saya seorang “Pranoto Acoro” atau istilah bahasa indonesianya MC. Dakwah – dakwahnya pun juga banyakan pakai bahasa jawa kawi (Sebuah bahasa jawa kuno, yang sayapun roming ketika mendengarkannya). Beliau juga pernah sekolah Dalang. Namun, anehnya sama sekali saya tak meniru beliau khususnya dalam menguasi bahasa jawa halus / kromo inggil. 

Apalagi bahasa inggris, sudah pastilah kurang…, Selama masa studi, english adalah momok bagiku. Lebih baik membisu daripada harus berpidato english di depan kelas. Tak heran jika mata kuliah ENglish waktu kuliah harus ngulang sampai tiga kali. Itupun harus nambah di semester pendek.  

Jadi tak perlu heran. Ketika anda membaca blog “catatan abdul”,  merasakan mbulet yang begitu akut. Karena pada kenyataannya, penulisnya memang lemah dalam menyusun kata. Buruk berbahasa. Dan Jujur saya mengakui itu. 

***

Hingga datang suatu waktu, ketika seorang “Ki Dalang Edan Sudjiwotedjo” berbicara di dalam sebuah seminar anak muda. Kata – kata sudjiwotedjo lah yang mengubah pandanganku terhadap ilmu bahasa. Menurutnya, Matematika dan bahasa adalah sama. Matematika ialah Bahasa dalam bentuk lain. Mungkin, kalau saya tak salah tangkap, menurutnya matematika adalah bahasa angka , nalar dan logika dalam mempermudah memahami sebuah fenomena. 

Berawal dari sinilah, aku mulai mencoba menyukai bahasa. Mencoba belajar bahasa inggris kembali, mencoba belajar menulis dan membiasakan membaca buku. Untuk belajar bahasa inggris, aku lebih sering mendengarkan lagu – lagu english dan memainkannya dengan guitar akustik favorit saya, juga menggunakan subtitle english ketika menonton film. Untuk belajar menulis, aku aktifkan kembali blogku yang telah lama vakum. Dan untuk membiasakan budaya membaca maka aku sering meminjam buku novel dan romansa dari temen saya. 

Terakhir, sayapun berusaha mempelajari bahasa korea. Sebuah bahasa yang mempunyai banyak kemiripan dengan bahasa jawa. Dimana ada tatanan kesopanan dalam menggunakannya. Di korea mengenal Banmal, dijawa mengenal ngoko. Di korean ada Bahasa Formal, sedangkan di Jawa mengenal Bahasa Kromo Alus. Penerapannya hampir sama, Banmal dan Ngoko boleh digunakan kepada lawan bicara yang seusia atau dibawahnya. Sedangkan Formal dan Kromo alus diterapkan ketika lawan bicara berusia lebih tua dibanding kita. 

Itulah cerita pendek saya, Yang dulunya benci sekarang cinta. Ya… benci dan cinta kepada Bahasa. Dan itulah kenapa, aku mulai tertarik dengan dunia literasi. Dunia yang mengajarkan Menulis dan Membaca. Dunia yang kini mulai ditinggalkan sebagian besar orang. Dibeberapa kesempatan saya sering mendengar, bahwa bangsa ini sedang krisis literasi. Indikasinya adalah masyarakat mudah sekali kemakan isu, mudah meyakini berita hoax.. Karena mereka tak paham literasi, tak membiasakan budaya cek dan ricek. 

Oleh sebabnya, sayapun mengajak sampean – sampean untuk menyukai dunia ini. Dunia Membaca dan menulis, Menyukai Dunia Literasi untuk peradaban yang kebih baik. Ingat peradaban sebuah bangsa bisa dilihat dari kekayaan bahasanya.

Dan Betapa ruginya, jika punya ide dan gagasan hanya ditulis di medsos saja, mendingan di tulis di blog kan…. Ya Siapa tahu anak cucu kita kelak akan membacanya. Dimana saat fisik sudah kembali menjadi tanah, maka tulisanlah yang kan bercerita dan mendongeng kepada mereka. 

(Waroeng Kopi Songot 22 November 2016, 23.00) 

Kebenaran fana, Obyektifitas Semu. Sedikit Tulisan Rakyat Yang Serba Tak Tahu

​Assalamualaikum Wr.Wb…

“Selamat pagi Adihan,..

Gimana minggu pagi ini, baik kan? “

Insyaallah

Jadi gini, berhubung semalam kamu kirim tautan blog tentang ulasan 4/11 dan Mr.Ahok dari sudut pandang seorang Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari kampus UI. Maka ijinkan saya untuk merespon tulisan tersebut, tentu dengan kacamata saya sebagai warga negara bukan sebagai akademisi, politi, ataupun kader parpol.

Sekali lagi maaf, kalau tulisan ini nantinya tak cukup Obyektif, Netral ataupun dengan kaidah keilmuan seperti tulisan Doktor Arief tersebut. Maklumilah saya ini hanya orang dan rakyat biasa yang tinggal di pelosok desa nun jauh disana. 

Kira – kira inti dari Tulisan Doktor Arief yang kamu kirim semalam begini,

Bahwa Ahok ini penuh dengan kegilaan kalau bicara, tak heran banyak memancing reaksi publik. Dan hingga suatu ketika Ahok terpeleset dengan Surat Al Maidah 51, yang kemudian di respon masyarakat muslim dengan gerakan 4/11. Faktanya kini Ahok sudah Tersangka, lantas kenapa Penegak Hukum tak menahan ?”. 

Baiklah…

Menurut saya, melihatnya nggak sesimple itu,..

Mari Doktor Arief aku ajak kembali ke 4 atau 5 tahun ke belakang. Tujuannya satu, kalau istilah agama namanya “Asbabul Nuzul“, Dan “Asbabul Nuzul” Ini kita gunakan sebagai metode pendekatan untuk mempermudah, mengetahui dan menafsirkan sebuah kejadian. (Walau sebenarnya istilah yang saya gunakan tak tepat sama sekali. Cuman saya mau mengatakan begini, kalau bahasa jawanya -nyapo kok sampai sebesar itu fenomena ahok”

Pertama, Apa benar sih Ahok segila itu kalau bicara?

Sebagian orang mungkin berkata “Gilaaaa banget“., ada juga yang menganggap  “Biasaa aja,”, ada juga yang  bilang “No Comment,ngurusin kreditan montor aja belum lunas, ngapain mikirin ahok“., Bahkan ada juga yang bilang”Sukaaaaa banget,”. Asal doktor arief tahu, sampai saat ini aku belum pernah melakukan Survei dan penelitian mengenai Respon publik terhadap gaya bicara ahok. Maka semua itu ku tulis serba kemungkinan. 

Dalam kaitan Surat Al Maidah 51 misalnya, responku  begini:

“Ngapains sih hok, nyinggung – nyinggung Surat tersebut. Sudah tahu kamu Nasrani. kok ya bicara urusan rumah tangga orang lain, ini namanya Offside hok” .  Coba saja waktu itu tak nyinggung ayat, mungkin kita – kita sudah rame bicara program – program yang ditawarkan saat kampanye. Iya to hok…. kamu sih Offide segala, ngasih peluang orang untuk lagi – lagi bicara wilayah SARA”… 

Masak iya respond saya, se simple itu”?, ini Ahok menyinggung Ayat Suci loh… harusnya kamu siap mati membela agamamu. Yok opo sih zis ? *ekstrem kanan di kepala saya mengatakan begini. Maklumlah DNA saya ini masih sedikit banyak, tercampur DNA Masyumi. (Partai Islam Awal Kemerdekaan). dan Kebetulan bapak saya juga Bag. Seksi Dakwah di MUI pun sebagai Seksi Dakwah di Ormas Muhammadiyah di kampung saya. Kakak jg mantan Ketua IPM dan HMI Kab Tulungagung. jadi wajar saya punya garis keturunan untuk punya pikiran kayak diatas. Bahwa ekstrim kanan di kepala saya terus berkata “Hendaknya kita jihad untuk melawan penista agama”. Allahu Akbar…… .

Namun,….

Sesaat kemudian, Ekstrim Kiri di kepala saya lantas sedikit beragumen:
Gini loh, Masak gitu aja kamu anggap menista?,  kalaupun menista pastilah ahok digebukin rame – rame di pulau seribu saat itu juga, sudah tahu kan mayoritas yang datang umat muslim semua. Tapi kan nyatanya disana senyum – senyum aja. Masak kamu berani bilang, Audience di Pulau seribu Nggak ngerti Agama sama sekali. Atau mungkin cuman sekedar audience bayaran yang pura – pura muslim sehingga diam mendengar sebuah penyataan penistaan, berani kami beranggapan begini”. – Jujur saya tak berani menilai… orang – orang itu.

“Kita sudah sepakat hidup berdemokrasi, maka harusnya Ahok bebas dong berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama, pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan. “

“Pasal penistaan ini memang pasal karet, sudah saatnya dibenahi. Kok bisa?

Ya bisalah… 

Lha wong faktanya, Patung Budha dipaksa diturunkan, Muslim masih saja ada yang mengolok nasrani dg Yesus dan Tuhan Bapaknya, Kejawen di katain Musrik dan syirik. dan masih banyak lagi. Yang begitu – begitu apa tak termasuk penistaan sebuah keyakinan. Jangan cuman kita merasa mayoritas, seenaknya saja semua hal dilihat dari kacamata kita sendiri dan kemudian memaksakan pandangannya ke orang lain. Apa penistaan berlaku cuman kepada mereka yang non muslim. ? * 

Duh, itulah pikiran ekstrim kiri di kepala saya. Dan pada akhirnya kedua sisi kepala saya baik yang kanan maupun kiri saling gontok – gontokan dan bully membully hingga pada akhirnya saya merasa lapar…(Maka saya memutuskan untuk makan siang sebentar, Dengan menu ikan pe sambel trasi sayur kacang panjang ala masakan dewe).

***

Mendengar kedua sisi pandangan di kepala saya bertempur beradu argumen, lantas jiwa yang sok bijak di kepala saya menengahi. Maklum juga… karena gua ini berzodiak Libra. maka semua – semua harus ditimbang dulu. Sesuai dengan Lambangnya yang Timbangan itu. …

Yuk mari lihat dengan seksama, bukan masalah menista atau bukan, bukan masalah pakai atau tidakpakai, bukan masalah tafsirnya bukan pula tentang kaidah berbahasa. Cuma ini tentang bagaimana kita semua melihat Ahok”.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tentang bagaimana manusia melihat sebuah kejadian, kira – kira begini kalimatnya: 

Bahwa yang terlihat oleh mata manusia hanyalah apa yang diinginkannya untuk  dilihat”. Sekali lagi, “Hanya apa yang di inginkan untuk dilihat”

Dalam kaitannya Ahok..

Maka munculah anggapan ahok “Gila” ,”Dibekingi“, “Pro Pengembang“,”Dajjal” dll.. karena pada dasarnya kita hanya mau melihat apa yang kita ingin lihat saja. Ketika misalnya ada “Ibu – ibu tua mengeluh datang pagi – pagi ke Balai kota, buat mengeluh tanahnya disrobot mafia tanah, Kemudian ahok meresponnya dengan cepat dan menginstruksikan anak buahnya menyelesaikan masalah tersebut, kita nggak cukup tertarik “Melihat” hal tersebut sebagai realitas. Ketika, Ahok berhasil menata sungai, trotoar dan fasilitas publik lainnya di Jakarta, kita hanya melihat “Itu duit pengembang, “, bukan melihatnya sebagai manfaatnya ada nggak buat masyarakat. Ketika Ahok berhasil membuat Transparansi di gedung birokrat pemda, kita hanya mau melihat “Itu hanya pencitraan dia buat nyapres di musim pilpres berikutnya”, ketika Ahok datang malam – malam buat nyarikan Nenek Tua Rumah di Rumah Susun yang kala itu nenek tersebut dikerjain mafia rusun, Kita melihat “Ahok sedang sok jagoan karena sok – sok an nantangin Mafia Rusun”, dan masih banyak ketika – ketika yang lain. 

Ya… memang manusia pada dasarnya melihat, apa yang mereka mau lihat”.

Jangankan kok Ahok,

Aku saja ketika bicara kepada teman saya untuk menonton film atau series korean, temenku langsung bilang “Alay loh“, “Nggak suka berbau korea“, dll.. tahu nggak kenapa dia bilang begitu?, ternyata teman saya melihat Korean tu ya dari kacamata “Boy Band” yang katanya nggak laki banget. Lantas iapun ogah ketika aku kasih dramkor – dramkor yang padahal cukup asyik dinikmati. 

Ya itulah manusia, mereka melihat apa yang mereka mau/inginkan lihat.

Sama saja ketika aku bilang begini ke kakak kandung saya “Ahok itu orang baikloh,” , Maka kakak kandung saya langsung merespon “Korban pencitraan lohh, nggak tahu apa yang dibelakangnya siapa”. hehehe….

Jadi kembali ke ujung persoalan , 

Apakah Gaya bicara Ahok itu “Gila” , “Penista Agama” dll ya tergantung kamu mau melihatnya bagaimana.  yang jelas di dunia ini gak ada tuh Obyektifitas, percaya deh. Kebenaran di dunia itu nilainya Subyektif. 

Bahkan ayat suci al qur’an itu dalam memahaminya perlu ilmu tafsir, dimana tafsir dan Al Qur’an itu dua hal yang berbeda. Tafsir muncul dari hasil berfikir manusia guna memahami sebuah ayat. “Jan – jane karepe piye ayat suci itu turun, manusia hanya menerka dengan keterbatasannya, dan cuma Allah lah yang tahu”, bahkan sampai sekarang beberapa Ayat, Manusia tak sanggup menafsirkan, salah satu contohnya : “Alif lam Min“… 

Itulah kita manusia, yang serba terbatas.

Kebenaran tuh begini kira – kira :

***

Dan kalau ditanya kenapa Ahok tak ditahan sama pihak kepolisian, jawabku simple:
“Penahanan itu dilakukan kalau seorang tersangka, ditakuti bisa menghilangkan Barang Bukti, dan juga berpeluang melarikan diri”,

Dan dalam kasus dugaan penistaan tersebut, agak gemes emang.

“Lha wong kita semua tahu, barang bukti yang dimaksud adalah Video yang di posting di youtube, dimana semua orang sudah pada ngeh. Apanya yang mau dihilangkan, toh sekarang sudah ditangan kepolisian. Lhoh… lha nanti kalau kabur gimana? * ya harusnya seneng kan, calon petarung pilkada hilang satu… hehehe…. 

Jan – jane maunya apa?“. *pertanyaan ini nggak perlu dijawab. cukup di renungkan sambil minum kopi saja. Toh MUI juga sudah mengambil jarak dengan Gerakan Pembela Fatwa yg dipelopori FPI. Muhammadiyah dan NU pun juga sudah sepakat menyerahkannya kepada proses hukum.

 Sedangkan yang masih ngotot, Yaaa orang – orangnya itu – itu aja kok. Coba deh cari motif mereka yang ngotot itu apa sebenarnya, Kalau mau mencari Insyaalah ketahuan kok. Sekarang mah gampang. Dizaman yang serba mudah mendapatkan informasi, tak susah kok untuk melihat latar belakang seseorang. Cukup masalahnya mau atau nggak…. 

heuheuheu…. 😂

Dalam masyarakat hukum, semuanya ada tata aturannya, jangan suka memaksakan kehendak. Bukankah kehendak kalian terhadap Ahok sudah lama kalian paksakan, hingga suatu ketika bikin “Gubernur Tandingan“, eh… itu FPI sih, dan FPI bukan menggambarkan “Wajah Mayoritas Muslim di Indonesia” ya kan, heuheu….. 

Tenang aja, Toh aktifis – aktifis HMI yang dulunya ditahan sudah di bebaskan kok, semuanya dibebeskan sampai berkas penyidikan selesai dan dilimpahkan ke kejaksaan. kalau nggak salah, istilah yang kayak gini namanya P21. kalau salah mohon di ralat ya. Dan kemudian kita berharap kelak sampai persidangan sidang akan dibuka kayak kasus sianida jessica. Biar kenapa,? biar kita semua tahu, apa saja motif dari kejadian ahok ini. Murni penistaan, politik atau hanya “Game” dari mereka – mereka yang sedang berebut kekuasaan. 

Kita nikmati saja, sambil nyrumput kopi dan nonton Badminton Tournament China Open di minggu siang ini. hehehe 

Itulah Han sedikit persfektif saya,…

Semoga memberikan sisi lain dalam melihat dan menilai sebuah kejadian. dan inget “Obyektifitas” itu nggak ada sama sekali di dunia. percaya deh…. hehehe..

Pun termasuk tulisan saya… 

Wassalamualikum wr.wb.

Bullyan Tak Tau Diri !!!

​Inikah kita, masyarakat yang tidak siap dengan kemajuan teknologi. Berawal dari minimnya literasi, akibatnya dg mudah mengeluarkan caci maki… duh masyarakat yg alay berpegang bully.

Miris, lihat mereka.
Iya.. mereka yang suka menuding orang. Suka mengkafirkan orang, Suka memunafikan orang, Suka meliberalkan orang.

Hanya karena tak sama dalam suatu pendapat.

***


ILC kelar,

Bullyan menyasar.
Teman saya yang alay ini. 

Memang tak tahu diri.

Tambah lagi.

Dipanas – panasi Uni yang senang provokasi.

Ancensuu… “

Penuh Heran saya, 

Temanku ini kaum mana sebenarnya???

Mbokyaooo ngaca sana, Sok – sokan ngajari Buya segala, Hadeuh dasar kaum tak kenal TPA”* ( TPA menurut Oke Google adalah Singkatan dari Taman Pendidikan Alqur’an, sebuah pendidikan agama yang di lakukan di surau – surau atau mushola dan masjid, siswanya kebanyakan balita dan diatasnya. Disini kita diajarkan alif ba’ ta’ sa’ jim dst) dan saya termasuk lulusan TPA. 

Lanjut….

Mereka.. adalah 

“Kaum yg kenal agama, baru kemarin sore saja, langsung petentang – penteng di social media. Gitu ya kok masih Pede teriak – teriak Khilafah Solusinya….

Yakin saya, Kebanyakan dari mereka, tahu agama tak sedari TPA, melainkan baru kemarin sore waktu duduk semester dua.

***

Ketika kalian kaum intoleran teriak khilafah, Buya sudah mulai lebih dulu lakukan itu. Bahkan tak cuman di negeri sendiri, Noh, sampai di negeri Donald Trump. Dosen – Dosen dari penjuru dunia ia tantang berdebat berdiskusi. Dengan lantang dan penuh keyakinan. 

Kapan itu???

Yang jelas, saat kalian masih dalam bentuk embrio atau bahkan air mani, Buya sudah kesana – kemari mencari lawan diskusi. Ia Tokoh HMI yang terkenal pandai Orasi. Anak negeri yang lahir dari daerah terpencil di ujung barat negeri ini, dan besar sebagai Penduduk Jogja sini.

Dan masih banyak lagi, tentang Buya. Bahkan tak akan ada habisnya diceritakan dalam satu malam saja. 

Jadi jelas kan,

Buya Tak seperti kalian, 

Yang Dikala diajak diskusi 

Melungker seperti Cacing..

***

Sampai disini paham?

Tidak????

Jan kebangetan….

Buya Nggak cemen kayak kalian. yang teriak – teriak lewat jempol ataupun poster.Buya lebih suka berdebat, berdiskusi untuk mengukur Ide yang ia yakini benar. Walau sendiri dan melawan arus dan badai. Ia tetaplah Buya yang berani…

Makanya Bacaaaaa…….

Ingatlah Ayat Suci kalian itu, 

Perintah pertamanya. Iqra‘…. 

Bukanlah Bully, atau juga Bukan petentang – petenteng di social media. 

Agar kalian – kalian ini nggak bahlul ataupun mudah dibahluliii…. mudah dibohongi. Entah ada kata Pakai atau Tak Pakai….

*Sampai disini paham kan? 

Nggak paham Lagi????

“Hadeuh”

Sini belajar bareng…

Sambil tak camno kopi sembari nunggu emyu main.. #GGMU 

*penulis ialah Fans Setan Merah.

Ia fans setan merah. Jadi nggak usah susah – susah berdoa “Agar supaya diberi hidayah” 

 Cukup saja, do’akan Emyu Juara…

Wassalamualaikum… Wr.Wb.

Sekian….