#Mbulet (dot) com

​Yang jago berpidato, biasanya ilmu hitungnya buruk. Pun sebaliknya, ketika orang menguasi ilmu eksak maka ilmu bahasanya biasanya juga buruk. Anggapan yang salah tersebut sudah bertahun – tahun melekat di benak saya. Maklum, sebagai penggemar matematika saya merasakan hal tersebut. Setiap ujian, bagi saya tak susah mendapatkan nilai matematika 10. Ketika UAN SD sampai SMA, Nilai matematika selalu sempurna. Cuma SMP saja yang 9,8. (Inipun terjadi karena ada satu soal yang tidak dikerjakan.). Saya pun juga sering mewakili olimpiade Fisika dan Matematika. di sekolah, dan  beberapa kompetisi sempat Juara satu. Yang terakhir kalau tak salah sampai ke tingkat provinsi dan lolos sampai semifinalis. Cukup membanggakan kan prestasi saya Hehehe… *Mumpung ada yang disombongkan., 

Namun sayangnya, pemahamanku dalam mempelajari matematika tak berlaku sama ketika harus dihadapkan dengan ilmu bahasa. Ibarat kata، Bumi langitlah… Saya mengakui bodoh dalam hal ini. Maka tak heran punya anggapan “Bahasa dan matematika adalah dua ilmu yang susah dikuasi oleh satu orang yang sama. Konon letaknyapun ada di bagian otak yang berbeda. Satunya otak kanan, satunya lagi ada di otak kiri. Padahal kalau di baca lagi, literasi yang mengulas otak tersebut masih lemah dan masih bisa diperdebatkan. 
Nah, berawal dari anggapan itulah, saya merasa bahwa ilmu bahasa tidaklah penting. Baik itu bahasa Jawa, Indonesia, English maupun Arab. Keempat bahasa yang pernah saya pelajari ketika sekolah. Pun saya menganggapnya fardhu kifayah, jadi jika beberapa orang sudah menguasai ilmu bahasa, maka gugur sudah kewajibanku. Akupun Jadi ingat, ketika masih pelajar, tak pernah sekalipun aku mendapat nilai diatas rata – rata, kecuali kalau pas ujian nyontek. Dan sepertinya, kebiasaan nyontek sudah menjadi rutinitas ketika ujian bahasa digelar.

Belajar Bahasa sangat susah. Masih lebih mudah ngerjain soal matematika daripada ngerjain bahasa arab. Sakeng bodohnya dalam mempelajari bahasa, saya pernah mempunyai cerita memalukan saat test praktek mata pelajaran bahasa arab. Waktu itu, Semua murid berada diluar kelas dan menunggu giliran namanya dipanggil. Pengujinya Bu Miftah. Guru yang kebetulan juga wali kelas. Modal saya ikut ujian cuma “Pasrah”, ditanya Fi’il mudhorik atau apalah namanya, pastilah saya tak paham sama sekali. Dan benar saja, sewaktu giliran tiba, Bu mif langsung tanya soal ini itu. Berhubung dia wali kelas, maka ilmu diplomasi aku terapkan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan dari bu mif. Ilmu diplomasi yang saya maksud adalah tentang bagaimana harus meyakinkan Bu Mif agar memberikan nilai yang cukup kepada saya. Dan tanpa harus menjawab soal ujian yang diberikan. “Bu… Jujur, sampai sekarang saya masih belum juga paham dengan pelajaran bahasa arab. Jadi berapapun ibu kasih nilai, saya sudah pasrah aja.”, bermodalkan pernyataan jujur dan tulus diatas, Bu Mif mungkin merasa iba. Dan Alhamdulilah nilai yang diberikannya sudah cukup mengantarkan ke syarat kelulusan Ebtanas.

Dalam berbahasa jawapun, saya kadang heran. kok bisa – bisanya saya masih gagu dalam bertutur kata, terutama kalau sudah menyangkat bahasa jawa halus. Padahal, ayah saya seorang “Pranoto Acoro” atau istilah bahasa indonesianya MC. Dakwah – dakwahnya pun juga banyakan pakai bahasa jawa kawi (Sebuah bahasa jawa kuno, yang sayapun roming ketika mendengarkannya). Beliau juga pernah sekolah Dalang. Namun, anehnya sama sekali saya tak meniru beliau khususnya dalam menguasi bahasa jawa halus / kromo inggil. 

Apalagi bahasa inggris, sudah pastilah kurang…, Selama masa studi, english adalah momok bagiku. Lebih baik membisu daripada harus berpidato english di depan kelas. Tak heran jika mata kuliah ENglish waktu kuliah harus ngulang sampai tiga kali. Itupun harus nambah di semester pendek.  

Jadi tak perlu heran. Ketika anda membaca blog “catatan abdul”,  merasakan mbulet yang begitu akut. Karena pada kenyataannya, penulisnya memang lemah dalam menyusun kata. Buruk berbahasa. Dan Jujur saya mengakui itu. 

***

Hingga datang suatu waktu, ketika seorang “Ki Dalang Edan Sudjiwotedjo” berbicara di dalam sebuah seminar anak muda. Kata – kata sudjiwotedjo lah yang mengubah pandanganku terhadap ilmu bahasa. Menurutnya, Matematika dan bahasa adalah sama. Matematika ialah Bahasa dalam bentuk lain. Mungkin, kalau saya tak salah tangkap, menurutnya matematika adalah bahasa angka , nalar dan logika dalam mempermudah memahami sebuah fenomena. 

Berawal dari sinilah, aku mulai mencoba menyukai bahasa. Mencoba belajar bahasa inggris kembali, mencoba belajar menulis dan membiasakan membaca buku. Untuk belajar bahasa inggris, aku lebih sering mendengarkan lagu – lagu english dan memainkannya dengan guitar akustik favorit saya, juga menggunakan subtitle english ketika menonton film. Untuk belajar menulis, aku aktifkan kembali blogku yang telah lama vakum. Dan untuk membiasakan budaya membaca maka aku sering meminjam buku novel dan romansa dari temen saya. 

Terakhir, sayapun berusaha mempelajari bahasa korea. Sebuah bahasa yang mempunyai banyak kemiripan dengan bahasa jawa. Dimana ada tatanan kesopanan dalam menggunakannya. Di korea mengenal Banmal, dijawa mengenal ngoko. Di korean ada Bahasa Formal, sedangkan di Jawa mengenal Bahasa Kromo Alus. Penerapannya hampir sama, Banmal dan Ngoko boleh digunakan kepada lawan bicara yang seusia atau dibawahnya. Sedangkan Formal dan Kromo alus diterapkan ketika lawan bicara berusia lebih tua dibanding kita. 

Itulah cerita pendek saya, Yang dulunya benci sekarang cinta. Ya… benci dan cinta kepada Bahasa. Dan itulah kenapa, aku mulai tertarik dengan dunia literasi. Dunia yang mengajarkan Menulis dan Membaca. Dunia yang kini mulai ditinggalkan sebagian besar orang. Dibeberapa kesempatan saya sering mendengar, bahwa bangsa ini sedang krisis literasi. Indikasinya adalah masyarakat mudah sekali kemakan isu, mudah meyakini berita hoax.. Karena mereka tak paham literasi, tak membiasakan budaya cek dan ricek. 

Oleh sebabnya, sayapun mengajak sampean – sampean untuk menyukai dunia ini. Dunia Membaca dan menulis, Menyukai Dunia Literasi untuk peradaban yang kebih baik. Ingat peradaban sebuah bangsa bisa dilihat dari kekayaan bahasanya.

Dan Betapa ruginya, jika punya ide dan gagasan hanya ditulis di medsos saja, mendingan di tulis di blog kan…. Ya Siapa tahu anak cucu kita kelak akan membacanya. Dimana saat fisik sudah kembali menjadi tanah, maka tulisanlah yang kan bercerita dan mendongeng kepada mereka. 

(Waroeng Kopi Songot 22 November 2016, 23.00) 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s