Suka – Suka

Kebenaran fana, Obyektifitas Semu. Sedikit Tulisan Rakyat Yang Serba Tak Tahu

​Assalamualaikum Wr.Wb…

“Selamat pagi Adihan,..

Gimana minggu pagi ini, baik kan? “

Insyaallah

Jadi gini, berhubung semalam kamu kirim tautan blog tentang ulasan 4/11 dan Mr.Ahok dari sudut pandang seorang Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari kampus UI. Maka ijinkan saya untuk merespon tulisan tersebut, tentu dengan kacamata saya sebagai warga negara bukan sebagai akademisi, politi, ataupun kader parpol.

Sekali lagi maaf, kalau tulisan ini nantinya tak cukup Obyektif, Netral ataupun dengan kaidah keilmuan seperti tulisan Doktor Arief tersebut. Maklumilah saya ini hanya orang dan rakyat biasa yang tinggal di pelosok desa nun jauh disana. 

Kira – kira inti dari Tulisan Doktor Arief yang kamu kirim semalam begini,

Bahwa Ahok ini penuh dengan kegilaan kalau bicara, tak heran banyak memancing reaksi publik. Dan hingga suatu ketika Ahok terpeleset dengan Surat Al Maidah 51, yang kemudian di respon masyarakat muslim dengan gerakan 4/11. Faktanya kini Ahok sudah Tersangka, lantas kenapa Penegak Hukum tak menahan ?”. 

Baiklah…

Menurut saya, melihatnya nggak sesimple itu,..

Mari Doktor Arief aku ajak kembali ke 4 atau 5 tahun ke belakang. Tujuannya satu, kalau istilah agama namanya “Asbabul Nuzul“, Dan “Asbabul Nuzul” Ini kita gunakan sebagai metode pendekatan untuk mempermudah, mengetahui dan menafsirkan sebuah kejadian. (Walau sebenarnya istilah yang saya gunakan tak tepat sama sekali. Cuman saya mau mengatakan begini, kalau bahasa jawanya -nyapo kok sampai sebesar itu fenomena ahok”

Pertama, Apa benar sih Ahok segila itu kalau bicara?

Sebagian orang mungkin berkata “Gilaaaa banget“., ada juga yang menganggap  “Biasaa aja,”, ada juga yang  bilang “No Comment,ngurusin kreditan montor aja belum lunas, ngapain mikirin ahok“., Bahkan ada juga yang bilang”Sukaaaaa banget,”. Asal doktor arief tahu, sampai saat ini aku belum pernah melakukan Survei dan penelitian mengenai Respon publik terhadap gaya bicara ahok. Maka semua itu ku tulis serba kemungkinan. 

Dalam kaitan Surat Al Maidah 51 misalnya, responku  begini:

“Ngapains sih hok, nyinggung – nyinggung Surat tersebut. Sudah tahu kamu Nasrani. kok ya bicara urusan rumah tangga orang lain, ini namanya Offside hok” .  Coba saja waktu itu tak nyinggung ayat, mungkin kita – kita sudah rame bicara program – program yang ditawarkan saat kampanye. Iya to hok…. kamu sih Offide segala, ngasih peluang orang untuk lagi – lagi bicara wilayah SARA”… 

Masak iya respond saya, se simple itu”?, ini Ahok menyinggung Ayat Suci loh… harusnya kamu siap mati membela agamamu. Yok opo sih zis ? *ekstrem kanan di kepala saya mengatakan begini. Maklumlah DNA saya ini masih sedikit banyak, tercampur DNA Masyumi. (Partai Islam Awal Kemerdekaan). dan Kebetulan bapak saya juga Bag. Seksi Dakwah di MUI pun sebagai Seksi Dakwah di Ormas Muhammadiyah di kampung saya. Kakak jg mantan Ketua IPM dan HMI Kab Tulungagung. jadi wajar saya punya garis keturunan untuk punya pikiran kayak diatas. Bahwa ekstrim kanan di kepala saya terus berkata “Hendaknya kita jihad untuk melawan penista agama”. Allahu Akbar…… .

Namun,….

Sesaat kemudian, Ekstrim Kiri di kepala saya lantas sedikit beragumen:
Gini loh, Masak gitu aja kamu anggap menista?,  kalaupun menista pastilah ahok digebukin rame – rame di pulau seribu saat itu juga, sudah tahu kan mayoritas yang datang umat muslim semua. Tapi kan nyatanya disana senyum – senyum aja. Masak kamu berani bilang, Audience di Pulau seribu Nggak ngerti Agama sama sekali. Atau mungkin cuman sekedar audience bayaran yang pura – pura muslim sehingga diam mendengar sebuah penyataan penistaan, berani kami beranggapan begini”. – Jujur saya tak berani menilai… orang – orang itu.

“Kita sudah sepakat hidup berdemokrasi, maka harusnya Ahok bebas dong berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama, pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan. “

“Pasal penistaan ini memang pasal karet, sudah saatnya dibenahi. Kok bisa?

Ya bisalah… 

Lha wong faktanya, Patung Budha dipaksa diturunkan, Muslim masih saja ada yang mengolok nasrani dg Yesus dan Tuhan Bapaknya, Kejawen di katain Musrik dan syirik. dan masih banyak lagi. Yang begitu – begitu apa tak termasuk penistaan sebuah keyakinan. Jangan cuman kita merasa mayoritas, seenaknya saja semua hal dilihat dari kacamata kita sendiri dan kemudian memaksakan pandangannya ke orang lain. Apa penistaan berlaku cuman kepada mereka yang non muslim. ? * 

Duh, itulah pikiran ekstrim kiri di kepala saya. Dan pada akhirnya kedua sisi kepala saya baik yang kanan maupun kiri saling gontok – gontokan dan bully membully hingga pada akhirnya saya merasa lapar…(Maka saya memutuskan untuk makan siang sebentar, Dengan menu ikan pe sambel trasi sayur kacang panjang ala masakan dewe).

***

Mendengar kedua sisi pandangan di kepala saya bertempur beradu argumen, lantas jiwa yang sok bijak di kepala saya menengahi. Maklum juga… karena gua ini berzodiak Libra. maka semua – semua harus ditimbang dulu. Sesuai dengan Lambangnya yang Timbangan itu. …

Yuk mari lihat dengan seksama, bukan masalah menista atau bukan, bukan masalah pakai atau tidakpakai, bukan masalah tafsirnya bukan pula tentang kaidah berbahasa. Cuma ini tentang bagaimana kita semua melihat Ahok”.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tentang bagaimana manusia melihat sebuah kejadian, kira – kira begini kalimatnya: 

Bahwa yang terlihat oleh mata manusia hanyalah apa yang diinginkannya untuk  dilihat”. Sekali lagi, “Hanya apa yang di inginkan untuk dilihat”

Dalam kaitannya Ahok..

Maka munculah anggapan ahok “Gila” ,”Dibekingi“, “Pro Pengembang“,”Dajjal” dll.. karena pada dasarnya kita hanya mau melihat apa yang kita ingin lihat saja. Ketika misalnya ada “Ibu – ibu tua mengeluh datang pagi – pagi ke Balai kota, buat mengeluh tanahnya disrobot mafia tanah, Kemudian ahok meresponnya dengan cepat dan menginstruksikan anak buahnya menyelesaikan masalah tersebut, kita nggak cukup tertarik “Melihat” hal tersebut sebagai realitas. Ketika, Ahok berhasil menata sungai, trotoar dan fasilitas publik lainnya di Jakarta, kita hanya melihat “Itu duit pengembang, “, bukan melihatnya sebagai manfaatnya ada nggak buat masyarakat. Ketika Ahok berhasil membuat Transparansi di gedung birokrat pemda, kita hanya mau melihat “Itu hanya pencitraan dia buat nyapres di musim pilpres berikutnya”, ketika Ahok datang malam – malam buat nyarikan Nenek Tua Rumah di Rumah Susun yang kala itu nenek tersebut dikerjain mafia rusun, Kita melihat “Ahok sedang sok jagoan karena sok – sok an nantangin Mafia Rusun”, dan masih banyak ketika – ketika yang lain. 

Ya… memang manusia pada dasarnya melihat, apa yang mereka mau lihat”.

Jangankan kok Ahok,

Aku saja ketika bicara kepada teman saya untuk menonton film atau series korean, temenku langsung bilang “Alay loh“, “Nggak suka berbau korea“, dll.. tahu nggak kenapa dia bilang begitu?, ternyata teman saya melihat Korean tu ya dari kacamata “Boy Band” yang katanya nggak laki banget. Lantas iapun ogah ketika aku kasih dramkor – dramkor yang padahal cukup asyik dinikmati. 

Ya itulah manusia, mereka melihat apa yang mereka mau/inginkan lihat.

Sama saja ketika aku bilang begini ke kakak kandung saya “Ahok itu orang baikloh,” , Maka kakak kandung saya langsung merespon “Korban pencitraan lohh, nggak tahu apa yang dibelakangnya siapa”. hehehe….

Jadi kembali ke ujung persoalan , 

Apakah Gaya bicara Ahok itu “Gila” , “Penista Agama” dll ya tergantung kamu mau melihatnya bagaimana.  yang jelas di dunia ini gak ada tuh Obyektifitas, percaya deh. Kebenaran di dunia itu nilainya Subyektif. 

Bahkan ayat suci al qur’an itu dalam memahaminya perlu ilmu tafsir, dimana tafsir dan Al Qur’an itu dua hal yang berbeda. Tafsir muncul dari hasil berfikir manusia guna memahami sebuah ayat. “Jan – jane karepe piye ayat suci itu turun, manusia hanya menerka dengan keterbatasannya, dan cuma Allah lah yang tahu”, bahkan sampai sekarang beberapa Ayat, Manusia tak sanggup menafsirkan, salah satu contohnya : “Alif lam Min“… 

Itulah kita manusia, yang serba terbatas.

Kebenaran tuh begini kira – kira :

***

Dan kalau ditanya kenapa Ahok tak ditahan sama pihak kepolisian, jawabku simple:
“Penahanan itu dilakukan kalau seorang tersangka, ditakuti bisa menghilangkan Barang Bukti, dan juga berpeluang melarikan diri”,

Dan dalam kasus dugaan penistaan tersebut, agak gemes emang.

“Lha wong kita semua tahu, barang bukti yang dimaksud adalah Video yang di posting di youtube, dimana semua orang sudah pada ngeh. Apanya yang mau dihilangkan, toh sekarang sudah ditangan kepolisian. Lhoh… lha nanti kalau kabur gimana? * ya harusnya seneng kan, calon petarung pilkada hilang satu… hehehe…. 

Jan – jane maunya apa?“. *pertanyaan ini nggak perlu dijawab. cukup di renungkan sambil minum kopi saja. Toh MUI juga sudah mengambil jarak dengan Gerakan Pembela Fatwa yg dipelopori FPI. Muhammadiyah dan NU pun juga sudah sepakat menyerahkannya kepada proses hukum.

 Sedangkan yang masih ngotot, Yaaa orang – orangnya itu – itu aja kok. Coba deh cari motif mereka yang ngotot itu apa sebenarnya, Kalau mau mencari Insyaalah ketahuan kok. Sekarang mah gampang. Dizaman yang serba mudah mendapatkan informasi, tak susah kok untuk melihat latar belakang seseorang. Cukup masalahnya mau atau nggak…. 

heuheuheu…. 😂

Dalam masyarakat hukum, semuanya ada tata aturannya, jangan suka memaksakan kehendak. Bukankah kehendak kalian terhadap Ahok sudah lama kalian paksakan, hingga suatu ketika bikin “Gubernur Tandingan“, eh… itu FPI sih, dan FPI bukan menggambarkan “Wajah Mayoritas Muslim di Indonesia” ya kan, heuheu….. 

Tenang aja, Toh aktifis – aktifis HMI yang dulunya ditahan sudah di bebaskan kok, semuanya dibebeskan sampai berkas penyidikan selesai dan dilimpahkan ke kejaksaan. kalau nggak salah, istilah yang kayak gini namanya P21. kalau salah mohon di ralat ya. Dan kemudian kita berharap kelak sampai persidangan sidang akan dibuka kayak kasus sianida jessica. Biar kenapa,? biar kita semua tahu, apa saja motif dari kejadian ahok ini. Murni penistaan, politik atau hanya “Game” dari mereka – mereka yang sedang berebut kekuasaan. 

Kita nikmati saja, sambil nyrumput kopi dan nonton Badminton Tournament China Open di minggu siang ini. hehehe 

Itulah Han sedikit persfektif saya,…

Semoga memberikan sisi lain dalam melihat dan menilai sebuah kejadian. dan inget “Obyektifitas” itu nggak ada sama sekali di dunia. percaya deh…. hehehe..

Pun termasuk tulisan saya… 

Wassalamualikum wr.wb.

Bullyan Tak Tau Diri !!!

​Inikah kita, masyarakat yang tidak siap dengan kemajuan teknologi. Berawal dari minimnya literasi, akibatnya dg mudah mengeluarkan caci maki… duh masyarakat yg alay berpegang bully.

Miris, lihat mereka.
Iya.. mereka yang suka menuding orang. Suka mengkafirkan orang, Suka memunafikan orang, Suka meliberalkan orang.

Hanya karena tak sama dalam suatu pendapat.

***


ILC kelar,

Bullyan menyasar.
Teman saya yang alay ini. 

Memang tak tahu diri.

Tambah lagi.

Dipanas – panasi Uni yang senang provokasi.

Ancensuu… “

Penuh Heran saya, 

Temanku ini kaum mana sebenarnya???

Mbokyaooo ngaca sana, Sok – sokan ngajari Buya segala, Hadeuh dasar kaum tak kenal TPA”* ( TPA menurut Oke Google adalah Singkatan dari Taman Pendidikan Alqur’an, sebuah pendidikan agama yang di lakukan di surau – surau atau mushola dan masjid, siswanya kebanyakan balita dan diatasnya. Disini kita diajarkan alif ba’ ta’ sa’ jim dst) dan saya termasuk lulusan TPA. 

Lanjut….

Mereka.. adalah 

“Kaum yg kenal agama, baru kemarin sore saja, langsung petentang – penteng di social media. Gitu ya kok masih Pede teriak – teriak Khilafah Solusinya….

Yakin saya, Kebanyakan dari mereka, tahu agama tak sedari TPA, melainkan baru kemarin sore waktu duduk semester dua.

***

Ketika kalian kaum intoleran teriak khilafah, Buya sudah mulai lebih dulu lakukan itu. Bahkan tak cuman di negeri sendiri, Noh, sampai di negeri Donald Trump. Dosen – Dosen dari penjuru dunia ia tantang berdebat berdiskusi. Dengan lantang dan penuh keyakinan. 

Kapan itu???

Yang jelas, saat kalian masih dalam bentuk embrio atau bahkan air mani, Buya sudah kesana – kemari mencari lawan diskusi. Ia Tokoh HMI yang terkenal pandai Orasi. Anak negeri yang lahir dari daerah terpencil di ujung barat negeri ini, dan besar sebagai Penduduk Jogja sini.

Dan masih banyak lagi, tentang Buya. Bahkan tak akan ada habisnya diceritakan dalam satu malam saja. 

Jadi jelas kan,

Buya Tak seperti kalian, 

Yang Dikala diajak diskusi 

Melungker seperti Cacing..

***

Sampai disini paham?

Tidak????

Jan kebangetan….

Buya Nggak cemen kayak kalian. yang teriak – teriak lewat jempol ataupun poster.Buya lebih suka berdebat, berdiskusi untuk mengukur Ide yang ia yakini benar. Walau sendiri dan melawan arus dan badai. Ia tetaplah Buya yang berani…

Makanya Bacaaaaa…….

Ingatlah Ayat Suci kalian itu, 

Perintah pertamanya. Iqra‘…. 

Bukanlah Bully, atau juga Bukan petentang – petenteng di social media. 

Agar kalian – kalian ini nggak bahlul ataupun mudah dibahluliii…. mudah dibohongi. Entah ada kata Pakai atau Tak Pakai….

*Sampai disini paham kan? 

Nggak paham Lagi????

“Hadeuh”

Sini belajar bareng…

Sambil tak camno kopi sembari nunggu emyu main.. #GGMU 

*penulis ialah Fans Setan Merah.

Ia fans setan merah. Jadi nggak usah susah – susah berdoa “Agar supaya diberi hidayah” 

 Cukup saja, do’akan Emyu Juara…

Wassalamualaikum… Wr.Wb.

Sekian….

Steak Acak Adut …

Sore tadi iseng – iseng buat steak ala cheaf awud – awudan. Dan pada akhirnya “Rasa Tak kalah jauh” sama steak yg dijual di warung warna kuning – kuning itu. heuheuheu… , Dengan berbekal alat masak yg sederhana yakni lemper batu di kolaborasi dengan tungku plus kayu bakar. Steak pun siap tuk dibuat 

Daging 5 iris gua pukul – pukul kemudian direndam sama bumbu – bumbu rahasia. 

Yeahhh…. 

Dan beginilah wujud steak tersebut. setelah abis direndam sama bumbu rahasia saya.  Ini kusebut “Steak ala wong ndeso seng lagi keluen”

Dan inilah bumbu saos kecap yg lagi dipersiapkan : 

Dari sinilah bencana muncul, cabe yg gua masukan lebih dari 15 . Al hasil Rasa pedese suanggarrrr….Merah gann. Bagi kalian yg gak seneng pedes dijamin toilet akan siap menemanimu tiap detik. Tapi, ini tak berlaku bagi saya, yg sedari kecil sudah akrab dengan rasa pedes.

Dan Alhamdulilah. nyatanya sampai sekarang perut saya tak bermasalah setelah makan steak ala kadarnya ini. 

PR nya sekarang difreezer masih ada 5 kantong plastik daging kurban yg belum keolah.mau diapakan? di rendang? Taulah.. Resiko tinggal serumah sama babe doang ya gini. serba repot kalau dah ketemu urusan dapur. Tahu gini, hambok sampean bantu saya nyarikan jodoh. heuheuheu..   😂😂😂

(September, 15)

Series “W / Two World” 

Sudah 7 Episode gue lihat nih series, Dan sudah mencapai titik klimaks alias eneg mau nerusin sampai tamat. Plot ceritanya berkutat di masalah itu -itu saja. Dari dunia A menuju ke dunia B. Pun sebaliknya. Jadi inget Film Hollywod “Instertelar“, Seorang astronot yg berpetualang ke luar angkasa kemudian masuk ke dimensi lain. Inget pula Formulasi Einstein di dunia fisika. Di dunia A kita tinggal 5 menit, di dunia B sama dengan 1 hari. Dst. Seseorang yg mampu bergerak menyamai kecepatan cahaya, waktu akan menuju masa depan, jika melebihinya maka waktu akan mundur. Itu formulanya einstein. Dan itu pulalah yg sebenarnya di adopsi Series W. Tentu dengan modifikasi yg banyak fiksinya. Kemudian.

Kang Chul yg mencoba bunuh diri dengan meloncat ke sungai han, diambil dari mbah google image.

Series ini membawa saya untuk menerka – nerka kehidupan masa akan datang, dimana manusia mampu menembus dimensi lain dengan teknologi mereka. Dimensi yg sebelumnya terlihat tidak nyata menjadi nyata. Seperti halnya fenomena blackhole. Fenomena ruang dan waktu. Yg sampai sekarang masih belum juga terpecahkan. Manusia kelak bisa ber-teleportasi. Mungkinkah? 
Jawab saya sangat mungkin. Lha wong akal manusia itu terus berkembang, pun dengan jagat raya yang kita huni ini.

Dan kembali lagi ke series W, akupun menyudahinya sampai episode 7, mending gue baca buku – buku fisika. Daripada lihat series w ini. Tapi juga, gua gak rela nglepasin asisten pribadinya kang chul yg cewek itu. Cantik sih. Pun gede bookkk…. Heuheu…

Sayang dianya diabaikan oleh si pemeran utama yg lebih memilih anak si pembuat webtoon. Akupun berandai – andai dan mengajukan solusi. Mending dia pindah kedunia gue. Lalu kita jadian. Heuheu…

Tapi.. Ah sudahlah, intinya series ini tak lebih bagus dari series-series sebelumnya sebut saja doctor atau uncontrollaby fond. Sains dan fiksinya nanggung. Kurang greget gan….

Sekian. Lanjut nyari pokemon kita .

Snorlax … Tunggu…. !!!

Malam minggu..isinya ngePes melulu. kelar sudah lanjut nyari nasi bantingan di angkringanku. Eh… belum nyampek tujuan ketemu snorlax di pinggir kali. Dah gua kasih stroberry pun juga gua lempar pakek ultra ball. Sayang kabur brai. Nyesek bukan main.

Masih ditempat yg sama. baru dua hari yg lalu, abis nongkrong di angkringan juga ketemu pikachu. Sayangnya juga sama, kabur pula. Ni tempat kayaknya penuh dengan pokemon jenis yg susah dicari. Apa perlu gua semedi di pinggir kali ini. Sambil nunggu bupati bikin RPTH jadi. Konon juga untuk bikin RPTH,pemerintah sampai menganggarkan 11M dari ApBn. Mong-ngomong itu berapa ya yg bocor. ? Secara pilkadal bentar lagi digelar… 

Entahlah.

Yang jelas, Es Beras kencur gua dah jadi.

Sudah saatnya gua cicipi nih

Aigoo Generasi (Y)

Aigoo …

Suara drama korea terdengar dari dalam kamar sebelah. Sosok pria berkumis tipis berambut gondrong nampak santai sedang menikmati series bergenre drama komedi berjudul “Beautiful Gong Shim”. Aigooo pri macam mana pula ini, tontonan kok korean drama. Suram… . Jelas ini tanda  – tanda akhir jaman. kan seharusnya yang seneng drama tuh cewek – cewek generasi (Y). Yakni generasi yang ketika ketemu Lee Min Hoo nongol di iklan white coffe akan jingkrak – jingkrak kayak ulut bulu kebakar api. Klegot – klegot.

Eh bentar, yang pria berkumis tipis tadi juga mesam – mesem kok kalau lihat acting gemesin ala -ala Park Min Young gitu, jadi sebenarnya suka  nggak suka korean drama itu bukan tergantung masalah genre loh.“Yoo Po Ora ….?” 

park_min_young_png_by_milenaho-d79o417

Foto Ilustrasi : Park Min Young (Sumber : Google Image)

Terus yang dimaksud generasi (Y) itu generasi yang gimana sih?, mari pelan – pelan saya utarakan. Generasi (Y) ini generasi yang dimana ketika ditanya siapa Cut Nyak Dien, bakalah garuk – garuk kepala. Tahu kan maksudnya? Jangan – jangan kamu juga termasuk generasi yang saya maksud ini.

Segitunya mereka mengidolaan K PoP, sampai kencing – kencing mungkin, jika lihat Soo Jong Ki nongol dihadapan mereka. Aigooo ………

Generasi (Y) ini menarik perhatian saya, udah tahu ini bulan ada perhelatan hari raya sepak bola, yakni EURO 2016. Tapi, bagi mereka perhelatan tersebut tak ada artina sama sekali. Malahan asyik nongkrong – nongkrong di cafe – cefe yang kagak nyiarin bola.

Kalau generasi saya, pun sebelum saya. Bola adalah sesuatu yang bisa dikata wajib untuk Tahu. minimal Event Piala Dunia dan Euro. Kalau liga mah boleh saja kagak ngikuti, tapi kalau 2 Event besar itu ibarat Idul Fitri dan Idul Adhanya Sepakbola. Siapapun mereka wajiblah nikmati euforianya. Terus esok mau gimana, kalau generasi penerus kita tak ada yang suka Bola, Berabe lah …. Suram. Aigoooooooooo. 

Tulisan ini ditulis ketika perhelatan Euro 2016 digelar yang sebelumnya di tulis di account saya di Steller.co/javanese

 

Hantu di Gedung 3,5 Unmuh Malang

Ini cerita, benar adanya… tak dibuat – buat apalagi fantasi atau fiktif. Tentang saya yang hobi banget berselancar malam alias Downloading dan Browsing.

Hotspotan Tengah Malam

Ini terjadi tahun 2008. Saya masih semester 3 yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Malam, itu sudah kesekian kalinya saya ngenet hotspotan di kampus. karena kos berada tepat di belakang kampus, ngenet tengah malam adalah hal yang trend kala itu, sampai – sampai warnet di malang selalu penuh kala paket malam dibuka. Biasa mereka biasanya downlod bokep sama main mirc dan juga editit layout friendster. Kantong mahasiswa pasti ngambil paket malam, karena memang murah adanya. 10 ribu ngenet ngampek pagi.

Kembali ke pokok cerita, Jam menunjukan waktu 01.00 dini hari, saya pun bersama teman kos namanya ayonk. Berangkat ke kampus. Dengan menenteng peralatan lengkap, dan siap untuk download film – film yang lagi nge hits.

Sejam berlalu, situasi kondisi masih terkendali. Aman ayem tentrem mulyo lan tinoto. Ayunk damai, karena ia masih menikmati bokep tanpa silent. Senang dia.

Saya hanya buka – buka friendster dan facebook, sesekali download MP3. Ya sambil nge blog dan baca – baca forum. Jaman itu belum ada modem, seingatku selang setahun kemudian IM2 rilis ke publik malang. Telkom juga masih telkomnet instanbelu speedy apalagi indohome. Dan waktu itu tarifnya masih mahal.

Android apalagi…

Warnet paket malam masih berjibun. Asyik pokoknya.

Karena internet waktu itu hal baru dan menyenangkan.

Gedung unmuh yang besar itu, kami berada di gedung 3 setengah. Kalau siang lokasi saya berada ini adalah kantin, tempat nongkrong yang tersedia wifi. Wifi yang bisa login dengan account NIM mahasiswa Unmuh.

Saya hanya berdua malam itu. Dan benar kejadian aneh mulai terasa. Ketika ayunk masih menikmati bokepna, terdengar gedung belakang kami seperti tempat yang riuh bergemuruh dan ramai. Ramai banyak orang yang sedang melakukan aktifitas. Mirip – mirip suasana pasar, padahal ini waktu, sudah tengah malam. Dan tempat yang aku maksud ini adalah Gedung GKB 3. Anak unmuh tahulah…

Mendengar suara – suara aneh tersebut kami acuh pada mulanya. Tapi lama – kelamaan suara semakin menggangu. Dan benar saja. Puncaknya kami mendengar suara “srek…..srek…srek” seperti kaki yang jalan terseret. Dan Suaranya semakin mendekat ke posisi kita duduk.

Spontan kami pun langsung beranjak dari tempat duduk, Lari terbirit seribu langkah. Mak Wussssss…….. Eh bukannya balik ke kos, tapi cuman beberapa meter posisi semula, kami masuk masuk ke mushola. Pintu kami tutup rapat – rapat. Dengan harapan barang aneh diluar sana tak mendekat ke kami.

Dalam suasana seperti itu, ayunk masih saja melanjutkan download bokepnya. Heran saya. Sayangnya suara tak kunjung menghilang. Suasana yang kami alami waktu itu mirip – mirip suasana film horor di hollywod.

Kami pun masih diam di dalam mushola. mau keluar tak berani, bayangan kita  di luar sana hantu sedang menunggu kami. Lantas, tak lama kemudian saya menelpon teman saya yang keberadaannya ada di kos. namanya Fajar,

“Jar ndang mrene, nek kampus mburi lantai 3.5, gawakno aku kabel ooran nde ngecas laptop”, Ini cara saya biar fajar cepet datang. hauhau…

Tak butuh lama, ia pun datang ke lokasi.

Alhamdulilah, ada temen datang.

Temen yang nyalinya gede. tak takut hantu apalagi cewek.

heueheu…

Selepas kejadian itu, setiap kami mau ngenet ke kampus malam – malam, pastilah tak lupa mengajak fajar. Biar kami bisa tenang. Karena kalau ada hantu muncul lagi, pastilah hantunya yang giliran diketawain sama dia.