Televisi

Kebenaran fana, Obyektifitas Semu. Sedikit Tulisan Rakyat Yang Serba Tak Tahu

​Assalamualaikum Wr.Wb…

“Selamat pagi Adihan,..

Gimana minggu pagi ini, baik kan? “

Insyaallah

Jadi gini, berhubung semalam kamu kirim tautan blog tentang ulasan 4/11 dan Mr.Ahok dari sudut pandang seorang Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari kampus UI. Maka ijinkan saya untuk merespon tulisan tersebut, tentu dengan kacamata saya sebagai warga negara bukan sebagai akademisi, politi, ataupun kader parpol.

Sekali lagi maaf, kalau tulisan ini nantinya tak cukup Obyektif, Netral ataupun dengan kaidah keilmuan seperti tulisan Doktor Arief tersebut. Maklumilah saya ini hanya orang dan rakyat biasa yang tinggal di pelosok desa nun jauh disana. 

Kira – kira inti dari Tulisan Doktor Arief yang kamu kirim semalam begini,

Bahwa Ahok ini penuh dengan kegilaan kalau bicara, tak heran banyak memancing reaksi publik. Dan hingga suatu ketika Ahok terpeleset dengan Surat Al Maidah 51, yang kemudian di respon masyarakat muslim dengan gerakan 4/11. Faktanya kini Ahok sudah Tersangka, lantas kenapa Penegak Hukum tak menahan ?”. 

Baiklah…

Menurut saya, melihatnya nggak sesimple itu,..

Mari Doktor Arief aku ajak kembali ke 4 atau 5 tahun ke belakang. Tujuannya satu, kalau istilah agama namanya “Asbabul Nuzul“, Dan “Asbabul Nuzul” Ini kita gunakan sebagai metode pendekatan untuk mempermudah, mengetahui dan menafsirkan sebuah kejadian. (Walau sebenarnya istilah yang saya gunakan tak tepat sama sekali. Cuman saya mau mengatakan begini, kalau bahasa jawanya -nyapo kok sampai sebesar itu fenomena ahok”

Pertama, Apa benar sih Ahok segila itu kalau bicara?

Sebagian orang mungkin berkata “Gilaaaa banget“., ada juga yang menganggap  “Biasaa aja,”, ada juga yang  bilang “No Comment,ngurusin kreditan montor aja belum lunas, ngapain mikirin ahok“., Bahkan ada juga yang bilang”Sukaaaaa banget,”. Asal doktor arief tahu, sampai saat ini aku belum pernah melakukan Survei dan penelitian mengenai Respon publik terhadap gaya bicara ahok. Maka semua itu ku tulis serba kemungkinan. 

Dalam kaitan Surat Al Maidah 51 misalnya, responku  begini:

“Ngapains sih hok, nyinggung – nyinggung Surat tersebut. Sudah tahu kamu Nasrani. kok ya bicara urusan rumah tangga orang lain, ini namanya Offside hok” .  Coba saja waktu itu tak nyinggung ayat, mungkin kita – kita sudah rame bicara program – program yang ditawarkan saat kampanye. Iya to hok…. kamu sih Offide segala, ngasih peluang orang untuk lagi – lagi bicara wilayah SARA”… 

Masak iya respond saya, se simple itu”?, ini Ahok menyinggung Ayat Suci loh… harusnya kamu siap mati membela agamamu. Yok opo sih zis ? *ekstrem kanan di kepala saya mengatakan begini. Maklumlah DNA saya ini masih sedikit banyak, tercampur DNA Masyumi. (Partai Islam Awal Kemerdekaan). dan Kebetulan bapak saya juga Bag. Seksi Dakwah di MUI pun sebagai Seksi Dakwah di Ormas Muhammadiyah di kampung saya. Kakak jg mantan Ketua IPM dan HMI Kab Tulungagung. jadi wajar saya punya garis keturunan untuk punya pikiran kayak diatas. Bahwa ekstrim kanan di kepala saya terus berkata “Hendaknya kita jihad untuk melawan penista agama”. Allahu Akbar…… .

Namun,….

Sesaat kemudian, Ekstrim Kiri di kepala saya lantas sedikit beragumen:
Gini loh, Masak gitu aja kamu anggap menista?,  kalaupun menista pastilah ahok digebukin rame – rame di pulau seribu saat itu juga, sudah tahu kan mayoritas yang datang umat muslim semua. Tapi kan nyatanya disana senyum – senyum aja. Masak kamu berani bilang, Audience di Pulau seribu Nggak ngerti Agama sama sekali. Atau mungkin cuman sekedar audience bayaran yang pura – pura muslim sehingga diam mendengar sebuah penyataan penistaan, berani kami beranggapan begini”. – Jujur saya tak berani menilai… orang – orang itu.

“Kita sudah sepakat hidup berdemokrasi, maka harusnya Ahok bebas dong berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama, pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan. “

“Pasal penistaan ini memang pasal karet, sudah saatnya dibenahi. Kok bisa?

Ya bisalah… 

Lha wong faktanya, Patung Budha dipaksa diturunkan, Muslim masih saja ada yang mengolok nasrani dg Yesus dan Tuhan Bapaknya, Kejawen di katain Musrik dan syirik. dan masih banyak lagi. Yang begitu – begitu apa tak termasuk penistaan sebuah keyakinan. Jangan cuman kita merasa mayoritas, seenaknya saja semua hal dilihat dari kacamata kita sendiri dan kemudian memaksakan pandangannya ke orang lain. Apa penistaan berlaku cuman kepada mereka yang non muslim. ? * 

Duh, itulah pikiran ekstrim kiri di kepala saya. Dan pada akhirnya kedua sisi kepala saya baik yang kanan maupun kiri saling gontok – gontokan dan bully membully hingga pada akhirnya saya merasa lapar…(Maka saya memutuskan untuk makan siang sebentar, Dengan menu ikan pe sambel trasi sayur kacang panjang ala masakan dewe).

***

Mendengar kedua sisi pandangan di kepala saya bertempur beradu argumen, lantas jiwa yang sok bijak di kepala saya menengahi. Maklum juga… karena gua ini berzodiak Libra. maka semua – semua harus ditimbang dulu. Sesuai dengan Lambangnya yang Timbangan itu. …

Yuk mari lihat dengan seksama, bukan masalah menista atau bukan, bukan masalah pakai atau tidakpakai, bukan masalah tafsirnya bukan pula tentang kaidah berbahasa. Cuma ini tentang bagaimana kita semua melihat Ahok”.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tentang bagaimana manusia melihat sebuah kejadian, kira – kira begini kalimatnya: 

Bahwa yang terlihat oleh mata manusia hanyalah apa yang diinginkannya untuk  dilihat”. Sekali lagi, “Hanya apa yang di inginkan untuk dilihat”

Dalam kaitannya Ahok..

Maka munculah anggapan ahok “Gila” ,”Dibekingi“, “Pro Pengembang“,”Dajjal” dll.. karena pada dasarnya kita hanya mau melihat apa yang kita ingin lihat saja. Ketika misalnya ada “Ibu – ibu tua mengeluh datang pagi – pagi ke Balai kota, buat mengeluh tanahnya disrobot mafia tanah, Kemudian ahok meresponnya dengan cepat dan menginstruksikan anak buahnya menyelesaikan masalah tersebut, kita nggak cukup tertarik “Melihat” hal tersebut sebagai realitas. Ketika, Ahok berhasil menata sungai, trotoar dan fasilitas publik lainnya di Jakarta, kita hanya melihat “Itu duit pengembang, “, bukan melihatnya sebagai manfaatnya ada nggak buat masyarakat. Ketika Ahok berhasil membuat Transparansi di gedung birokrat pemda, kita hanya mau melihat “Itu hanya pencitraan dia buat nyapres di musim pilpres berikutnya”, ketika Ahok datang malam – malam buat nyarikan Nenek Tua Rumah di Rumah Susun yang kala itu nenek tersebut dikerjain mafia rusun, Kita melihat “Ahok sedang sok jagoan karena sok – sok an nantangin Mafia Rusun”, dan masih banyak ketika – ketika yang lain. 

Ya… memang manusia pada dasarnya melihat, apa yang mereka mau lihat”.

Jangankan kok Ahok,

Aku saja ketika bicara kepada teman saya untuk menonton film atau series korean, temenku langsung bilang “Alay loh“, “Nggak suka berbau korea“, dll.. tahu nggak kenapa dia bilang begitu?, ternyata teman saya melihat Korean tu ya dari kacamata “Boy Band” yang katanya nggak laki banget. Lantas iapun ogah ketika aku kasih dramkor – dramkor yang padahal cukup asyik dinikmati. 

Ya itulah manusia, mereka melihat apa yang mereka mau/inginkan lihat.

Sama saja ketika aku bilang begini ke kakak kandung saya “Ahok itu orang baikloh,” , Maka kakak kandung saya langsung merespon “Korban pencitraan lohh, nggak tahu apa yang dibelakangnya siapa”. hehehe….

Jadi kembali ke ujung persoalan , 

Apakah Gaya bicara Ahok itu “Gila” , “Penista Agama” dll ya tergantung kamu mau melihatnya bagaimana.  yang jelas di dunia ini gak ada tuh Obyektifitas, percaya deh. Kebenaran di dunia itu nilainya Subyektif. 

Bahkan ayat suci al qur’an itu dalam memahaminya perlu ilmu tafsir, dimana tafsir dan Al Qur’an itu dua hal yang berbeda. Tafsir muncul dari hasil berfikir manusia guna memahami sebuah ayat. “Jan – jane karepe piye ayat suci itu turun, manusia hanya menerka dengan keterbatasannya, dan cuma Allah lah yang tahu”, bahkan sampai sekarang beberapa Ayat, Manusia tak sanggup menafsirkan, salah satu contohnya : “Alif lam Min“… 

Itulah kita manusia, yang serba terbatas.

Kebenaran tuh begini kira – kira :

***

Dan kalau ditanya kenapa Ahok tak ditahan sama pihak kepolisian, jawabku simple:
“Penahanan itu dilakukan kalau seorang tersangka, ditakuti bisa menghilangkan Barang Bukti, dan juga berpeluang melarikan diri”,

Dan dalam kasus dugaan penistaan tersebut, agak gemes emang.

“Lha wong kita semua tahu, barang bukti yang dimaksud adalah Video yang di posting di youtube, dimana semua orang sudah pada ngeh. Apanya yang mau dihilangkan, toh sekarang sudah ditangan kepolisian. Lhoh… lha nanti kalau kabur gimana? * ya harusnya seneng kan, calon petarung pilkada hilang satu… hehehe…. 

Jan – jane maunya apa?“. *pertanyaan ini nggak perlu dijawab. cukup di renungkan sambil minum kopi saja. Toh MUI juga sudah mengambil jarak dengan Gerakan Pembela Fatwa yg dipelopori FPI. Muhammadiyah dan NU pun juga sudah sepakat menyerahkannya kepada proses hukum.

 Sedangkan yang masih ngotot, Yaaa orang – orangnya itu – itu aja kok. Coba deh cari motif mereka yang ngotot itu apa sebenarnya, Kalau mau mencari Insyaalah ketahuan kok. Sekarang mah gampang. Dizaman yang serba mudah mendapatkan informasi, tak susah kok untuk melihat latar belakang seseorang. Cukup masalahnya mau atau nggak…. 

heuheuheu…. 😂

Dalam masyarakat hukum, semuanya ada tata aturannya, jangan suka memaksakan kehendak. Bukankah kehendak kalian terhadap Ahok sudah lama kalian paksakan, hingga suatu ketika bikin “Gubernur Tandingan“, eh… itu FPI sih, dan FPI bukan menggambarkan “Wajah Mayoritas Muslim di Indonesia” ya kan, heuheu….. 

Tenang aja, Toh aktifis – aktifis HMI yang dulunya ditahan sudah di bebaskan kok, semuanya dibebeskan sampai berkas penyidikan selesai dan dilimpahkan ke kejaksaan. kalau nggak salah, istilah yang kayak gini namanya P21. kalau salah mohon di ralat ya. Dan kemudian kita berharap kelak sampai persidangan sidang akan dibuka kayak kasus sianida jessica. Biar kenapa,? biar kita semua tahu, apa saja motif dari kejadian ahok ini. Murni penistaan, politik atau hanya “Game” dari mereka – mereka yang sedang berebut kekuasaan. 

Kita nikmati saja, sambil nyrumput kopi dan nonton Badminton Tournament China Open di minggu siang ini. hehehe 

Itulah Han sedikit persfektif saya,…

Semoga memberikan sisi lain dalam melihat dan menilai sebuah kejadian. dan inget “Obyektifitas” itu nggak ada sama sekali di dunia. percaya deh…. hehehe..

Pun termasuk tulisan saya… 

Wassalamualikum wr.wb.

Bullyan Tak Tau Diri !!!

​Inikah kita, masyarakat yang tidak siap dengan kemajuan teknologi. Berawal dari minimnya literasi, akibatnya dg mudah mengeluarkan caci maki… duh masyarakat yg alay berpegang bully.

Miris, lihat mereka.
Iya.. mereka yang suka menuding orang. Suka mengkafirkan orang, Suka memunafikan orang, Suka meliberalkan orang.

Hanya karena tak sama dalam suatu pendapat.

***


ILC kelar,

Bullyan menyasar.
Teman saya yang alay ini. 

Memang tak tahu diri.

Tambah lagi.

Dipanas – panasi Uni yang senang provokasi.

Ancensuu… “

Penuh Heran saya, 

Temanku ini kaum mana sebenarnya???

Mbokyaooo ngaca sana, Sok – sokan ngajari Buya segala, Hadeuh dasar kaum tak kenal TPA”* ( TPA menurut Oke Google adalah Singkatan dari Taman Pendidikan Alqur’an, sebuah pendidikan agama yang di lakukan di surau – surau atau mushola dan masjid, siswanya kebanyakan balita dan diatasnya. Disini kita diajarkan alif ba’ ta’ sa’ jim dst) dan saya termasuk lulusan TPA. 

Lanjut….

Mereka.. adalah 

“Kaum yg kenal agama, baru kemarin sore saja, langsung petentang – penteng di social media. Gitu ya kok masih Pede teriak – teriak Khilafah Solusinya….

Yakin saya, Kebanyakan dari mereka, tahu agama tak sedari TPA, melainkan baru kemarin sore waktu duduk semester dua.

***

Ketika kalian kaum intoleran teriak khilafah, Buya sudah mulai lebih dulu lakukan itu. Bahkan tak cuman di negeri sendiri, Noh, sampai di negeri Donald Trump. Dosen – Dosen dari penjuru dunia ia tantang berdebat berdiskusi. Dengan lantang dan penuh keyakinan. 

Kapan itu???

Yang jelas, saat kalian masih dalam bentuk embrio atau bahkan air mani, Buya sudah kesana – kemari mencari lawan diskusi. Ia Tokoh HMI yang terkenal pandai Orasi. Anak negeri yang lahir dari daerah terpencil di ujung barat negeri ini, dan besar sebagai Penduduk Jogja sini.

Dan masih banyak lagi, tentang Buya. Bahkan tak akan ada habisnya diceritakan dalam satu malam saja. 

Jadi jelas kan,

Buya Tak seperti kalian, 

Yang Dikala diajak diskusi 

Melungker seperti Cacing..

***

Sampai disini paham?

Tidak????

Jan kebangetan….

Buya Nggak cemen kayak kalian. yang teriak – teriak lewat jempol ataupun poster.Buya lebih suka berdebat, berdiskusi untuk mengukur Ide yang ia yakini benar. Walau sendiri dan melawan arus dan badai. Ia tetaplah Buya yang berani…

Makanya Bacaaaaa…….

Ingatlah Ayat Suci kalian itu, 

Perintah pertamanya. Iqra‘…. 

Bukanlah Bully, atau juga Bukan petentang – petenteng di social media. 

Agar kalian – kalian ini nggak bahlul ataupun mudah dibahluliii…. mudah dibohongi. Entah ada kata Pakai atau Tak Pakai….

*Sampai disini paham kan? 

Nggak paham Lagi????

“Hadeuh”

Sini belajar bareng…

Sambil tak camno kopi sembari nunggu emyu main.. #GGMU 

*penulis ialah Fans Setan Merah.

Ia fans setan merah. Jadi nggak usah susah – susah berdoa “Agar supaya diberi hidayah” 

 Cukup saja, do’akan Emyu Juara…

Wassalamualaikum… Wr.Wb.

Sekian….

NgReview “Train To Busan” 

Simple aja ni film. Bercerita tentang Gimana menyelematkam diri dari serangan zombie yg satu gerbong dengan kita. Jadi hal yg membuat film ini meledak di beberapa negara, mungkin karena effect yg dibuat. Zombie terkesan hidup. Dan ekspresif sekali. Lagi, Train To Busan berlatar belakang siang hari. Mungkin pembuat mencoba mengatakan bahwa “Serem tak selalu berlatang malam hari”. Secara umum, film ini belum bisa dikata “Keren”, saya seperti melihat film pendek. Terlalu simple.Harusnya masalah yg dipecahkan oleh pemain utama, ada.Darimana virus itu muncul, gimana menghentikannya, konsporasi apa yg ingin dibuat dg virus tersebut dll.  Kalau Train To Busan kan kagak. Cuman gimana caranya menghindari dari serangan zombie yg ikut dalam rombongan penumpang KTX dari kota seoul menuju kota busan. Ya gitu aja sih. sesampai di busan film kelar. Jadi penonton cuma disuguhkan semacam cosplay zombie. Tak butuh muter otak jika melihat Train To Busan. Jika saya disuruh menilai, maka akan ku beri rating 3 dari total bintang 6. Aigoooo. 

Rachel oh Rachel…

Ketika moment besar datang, namun tak bisa kamu bagi kepada orang terdekatmu. Itu Rasanya “nyesek” sek..sek…sek. dan itulah yg saya ikut rasakan ketika melihat audition Rachel di The Voice kids Indonesia kemarin. Klimaksnya disitu. Ya ketika ia bercerita ke pada juri tentang kenapa ia hanya dianter nenek bukannya ayah dan ibunya.

Rachel diambil dari koleksi foto mbah google

Dengan diawali suara yg merdu pun ekspresi para juri yg takjub itu sudah mengingatkan moment – moment fatin audisi x-factor beberapa tahun silam. yaps.. ini anak sesuatu banget. Bahkan 99 persen mirip dengan moment fatin dulu. Mulai hijab, mungil. imut maupun lucu. entah itu dah di setting dibelakang panggung atau bukan tak jadi masalah.
Yg jelas suara dan cerita rachel yg sedari kecil ditinggal kedua orang tuanya yg lebih dulu meninggal telah berhasil membuat saya “mbrebes mili malam ini”. Kenapa? 

Seketika gua langsung teringat ibu.

(alm) ibu lebih tepatnya…

Series “W / Two World” 

Sudah 7 Episode gue lihat nih series, Dan sudah mencapai titik klimaks alias eneg mau nerusin sampai tamat. Plot ceritanya berkutat di masalah itu -itu saja. Dari dunia A menuju ke dunia B. Pun sebaliknya. Jadi inget Film Hollywod “Instertelar“, Seorang astronot yg berpetualang ke luar angkasa kemudian masuk ke dimensi lain. Inget pula Formulasi Einstein di dunia fisika. Di dunia A kita tinggal 5 menit, di dunia B sama dengan 1 hari. Dst. Seseorang yg mampu bergerak menyamai kecepatan cahaya, waktu akan menuju masa depan, jika melebihinya maka waktu akan mundur. Itu formulanya einstein. Dan itu pulalah yg sebenarnya di adopsi Series W. Tentu dengan modifikasi yg banyak fiksinya. Kemudian.

Kang Chul yg mencoba bunuh diri dengan meloncat ke sungai han, diambil dari mbah google image.

Series ini membawa saya untuk menerka – nerka kehidupan masa akan datang, dimana manusia mampu menembus dimensi lain dengan teknologi mereka. Dimensi yg sebelumnya terlihat tidak nyata menjadi nyata. Seperti halnya fenomena blackhole. Fenomena ruang dan waktu. Yg sampai sekarang masih belum juga terpecahkan. Manusia kelak bisa ber-teleportasi. Mungkinkah? 
Jawab saya sangat mungkin. Lha wong akal manusia itu terus berkembang, pun dengan jagat raya yang kita huni ini.

Dan kembali lagi ke series W, akupun menyudahinya sampai episode 7, mending gue baca buku – buku fisika. Daripada lihat series w ini. Tapi juga, gua gak rela nglepasin asisten pribadinya kang chul yg cewek itu. Cantik sih. Pun gede bookkk…. Heuheu…

Sayang dianya diabaikan oleh si pemeran utama yg lebih memilih anak si pembuat webtoon. Akupun berandai – andai dan mengajukan solusi. Mending dia pindah kedunia gue. Lalu kita jadian. Heuheu…

Tapi.. Ah sudahlah, intinya series ini tak lebih bagus dari series-series sebelumnya sebut saja doctor atau uncontrollaby fond. Sains dan fiksinya nanggung. Kurang greget gan….

Sekian. Lanjut nyari pokemon kita .

씨스타 SISTAR ,

Sistar , Yapzz … gara – gara Running Man Episode yang entahlah keberapa itu, gua jadi suka musiknya. Pun para personelnya yang berisi, dibandingkan dengan girl band pada umumnya di Korean. Awal mula lihat Hyorin yang goyang sama si Garry. Seksi bener gan. Suaranya pun juga oke – oke aja ketika tak nyanyi lypscyng, I Like That, ialah judul lagi Sistar yang berhasil membuat gue suka pada mereka.

sistar-1

Foto Sistar , yang diambil dari Mbah Google 

Dengerin musiknya, kalian pasti sedikit ngerasa beda dan unik kalau dibandingkan dengan Girls Generation ataupun Groubnya Suzi itu. Memacu spirit gitu dan ini cocok kalau didengerin pas pagi – pagi sambil nyetir.

Yah itulah ulasan saya hari ini, sambil nunggu instalan path di smartphone selesai, gua sempat – sempatin mampir di blog. 🙂

Jika Aku Jurnalis …

Menjadi Jurnalis itu mengasikan. Kita akan bertemu hal – hal baru dan orang – orang baru setiap harinya. Kita juga bisa ketemu siapapun yang ingin kita temui. Mau itu artis, pengusaha, gubernur, bupati atau presiden sekalipun. Asalkan mereka ada hubungannya dengan kepentingan publik, kita berhak untuk mendapatkan informasi dari mereka. Karena memang peran jurnalis ada di tengah – tengah segala pemilik kepentingan.

kebebasan-pers1Tapi tak hanya mengasikan saja, Bahwa jurnalis dalam menjalankan tugasnya haruslah dituntut selalu berfikir cerdas, punya rasa ingin tahu lebih, smart, tanggap dan peka dalam kondisi apapun. Jangan sampai masyarakat terutama responden merasa terganggu apalagi alergi terhadap tingkah polah jurnalis. Yah setidaknya itulah yang saya rasakan belakangan ini.  Banyak jurnalis yang kadang tidak bersikap simpatik dan kadang terlihat bodoh.

. Saat mengangkat berita musibah misalnya. Kita sebagai jurnalis hendaknya meminta izin dulu, apakah pihak keluarga mengizinkan kita mengambil gambar atau mewawancarainya. Tak lupa juga mengucapkan rasa berbela sungkawa kepada mereka. Baru kemudian jurnalis menjalankan mengambil perannya yang sebenarnya. Jurnalis yang cerdas tak akan pernah bertanya kepada responden “Bagaimana perasaan saudara sekarang ini?” Apa sebelumnya sudah mendapat firasat mengenai musibah yg akan terjadi?, Padahal kita tahu dan sadar bahwa responden tersebut menangis tersedu-sedu  meratapi musibah yang menimpanya.

Dan lagi, dalam kasus kecelakaan pesawat AirAsia yang terjadi baru – baru ini, Jurnalis hendaknya bertanya yang cerdas, misalnya begini “Apakah keluarga akan mengajukan tuntutan hukum kepada pihak maskapai karena telah dianggap lalai ?. Bukannya malah bertanya“Apakah korban dikenal baik oleh tetangga?. Padahal kita tahu bersama bahwa kecelakaan pesawat tidak punya korelasinya dengan kehidupan korban penumpang pesawat dengan para tetangganya. Ironis memang, ketika kita tahu yang bertanya seperti itu adalah jurnalis televisi nasional. Tapi saya yakin wartawan Radar Tulungagung tak pernah melakukan itu. hehehe.

Selain cerdas, wartawan haruslah punya rasa ingin tahu berlebih. Saya sendiri selaku orang yang mempunyai hobi dalam dunia seni, musik dan photography khususnya. Juga tak lupa mengikuti ikhwal perkembangan dunia politik setiap hari. Yah karena bagi saya informasi tentang perkembangan politik itu penting. Agar kita tidak dianggap apatis terhadap berjalannya sebuah pemerintahan. Jadi, sangatlah beruntung apabila saya bisa terjun di dunia jurnalistik. Karena selain bisa menjalani pekerjaan, kita bisa sambil belajar dan mendapat hal – hal baru setiap hari.

Selain cerdas dan punya rasa ingin tahu, jurnalis juga harus bersikap peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam beberapa kesempatan saya pernah menjumpai teman jurnalis yg bertindak kurang peka terhadap sekitarnya. Pernah dalam perhelatan konser musik, saya melihat beberapa jurnalis foto menghalangi penglihatan penonton dengan mondar – mandir di depan panggung. Sampai – sampai penonton meneriaki jurnalis karena merasa terganggu. Dan tak urung berapa lama, pihak penyelenggara mengusir jurnalis tersebut. Nah, melihat kejadian itu, saya selaku orang yang pernah menekuni dunia bawah panggung merasa malu. Harusnya jurnalis sadar bahwa keberadaan dalam moment tersebut hanyalah cukup sampai meliput acara, tanpa menggagu mereka yang menyelenggarakan acara dan juga yang menikmati acara.