abdul azis hasan

Kebenaran fana, Obyektifitas Semu. Sedikit Tulisan Rakyat Yang Serba Tak Tahu

​Assalamualaikum Wr.Wb…

“Selamat pagi Adihan,..

Gimana minggu pagi ini, baik kan? “

Insyaallah

Jadi gini, berhubung semalam kamu kirim tautan blog tentang ulasan 4/11 dan Mr.Ahok dari sudut pandang seorang Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari kampus UI. Maka ijinkan saya untuk merespon tulisan tersebut, tentu dengan kacamata saya sebagai warga negara bukan sebagai akademisi, politi, ataupun kader parpol.

Sekali lagi maaf, kalau tulisan ini nantinya tak cukup Obyektif, Netral ataupun dengan kaidah keilmuan seperti tulisan Doktor Arief tersebut. Maklumilah saya ini hanya orang dan rakyat biasa yang tinggal di pelosok desa nun jauh disana. 

Kira – kira inti dari Tulisan Doktor Arief yang kamu kirim semalam begini,

Bahwa Ahok ini penuh dengan kegilaan kalau bicara, tak heran banyak memancing reaksi publik. Dan hingga suatu ketika Ahok terpeleset dengan Surat Al Maidah 51, yang kemudian di respon masyarakat muslim dengan gerakan 4/11. Faktanya kini Ahok sudah Tersangka, lantas kenapa Penegak Hukum tak menahan ?”. 

Baiklah…

Menurut saya, melihatnya nggak sesimple itu,..

Mari Doktor Arief aku ajak kembali ke 4 atau 5 tahun ke belakang. Tujuannya satu, kalau istilah agama namanya “Asbabul Nuzul“, Dan “Asbabul Nuzul” Ini kita gunakan sebagai metode pendekatan untuk mempermudah, mengetahui dan menafsirkan sebuah kejadian. (Walau sebenarnya istilah yang saya gunakan tak tepat sama sekali. Cuman saya mau mengatakan begini, kalau bahasa jawanya -nyapo kok sampai sebesar itu fenomena ahok”

Pertama, Apa benar sih Ahok segila itu kalau bicara?

Sebagian orang mungkin berkata “Gilaaaa banget“., ada juga yang menganggap  “Biasaa aja,”, ada juga yang  bilang “No Comment,ngurusin kreditan montor aja belum lunas, ngapain mikirin ahok“., Bahkan ada juga yang bilang”Sukaaaaa banget,”. Asal doktor arief tahu, sampai saat ini aku belum pernah melakukan Survei dan penelitian mengenai Respon publik terhadap gaya bicara ahok. Maka semua itu ku tulis serba kemungkinan. 

Dalam kaitan Surat Al Maidah 51 misalnya, responku  begini:

“Ngapains sih hok, nyinggung – nyinggung Surat tersebut. Sudah tahu kamu Nasrani. kok ya bicara urusan rumah tangga orang lain, ini namanya Offside hok” .  Coba saja waktu itu tak nyinggung ayat, mungkin kita – kita sudah rame bicara program – program yang ditawarkan saat kampanye. Iya to hok…. kamu sih Offide segala, ngasih peluang orang untuk lagi – lagi bicara wilayah SARA”… 

Masak iya respond saya, se simple itu”?, ini Ahok menyinggung Ayat Suci loh… harusnya kamu siap mati membela agamamu. Yok opo sih zis ? *ekstrem kanan di kepala saya mengatakan begini. Maklumlah DNA saya ini masih sedikit banyak, tercampur DNA Masyumi. (Partai Islam Awal Kemerdekaan). dan Kebetulan bapak saya juga Bag. Seksi Dakwah di MUI pun sebagai Seksi Dakwah di Ormas Muhammadiyah di kampung saya. Kakak jg mantan Ketua IPM dan HMI Kab Tulungagung. jadi wajar saya punya garis keturunan untuk punya pikiran kayak diatas. Bahwa ekstrim kanan di kepala saya terus berkata “Hendaknya kita jihad untuk melawan penista agama”. Allahu Akbar…… .

Namun,….

Sesaat kemudian, Ekstrim Kiri di kepala saya lantas sedikit beragumen:
Gini loh, Masak gitu aja kamu anggap menista?,  kalaupun menista pastilah ahok digebukin rame – rame di pulau seribu saat itu juga, sudah tahu kan mayoritas yang datang umat muslim semua. Tapi kan nyatanya disana senyum – senyum aja. Masak kamu berani bilang, Audience di Pulau seribu Nggak ngerti Agama sama sekali. Atau mungkin cuman sekedar audience bayaran yang pura – pura muslim sehingga diam mendengar sebuah penyataan penistaan, berani kami beranggapan begini”. – Jujur saya tak berani menilai… orang – orang itu.

“Kita sudah sepakat hidup berdemokrasi, maka harusnya Ahok bebas dong berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama, pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan. “

“Pasal penistaan ini memang pasal karet, sudah saatnya dibenahi. Kok bisa?

Ya bisalah… 

Lha wong faktanya, Patung Budha dipaksa diturunkan, Muslim masih saja ada yang mengolok nasrani dg Yesus dan Tuhan Bapaknya, Kejawen di katain Musrik dan syirik. dan masih banyak lagi. Yang begitu – begitu apa tak termasuk penistaan sebuah keyakinan. Jangan cuman kita merasa mayoritas, seenaknya saja semua hal dilihat dari kacamata kita sendiri dan kemudian memaksakan pandangannya ke orang lain. Apa penistaan berlaku cuman kepada mereka yang non muslim. ? * 

Duh, itulah pikiran ekstrim kiri di kepala saya. Dan pada akhirnya kedua sisi kepala saya baik yang kanan maupun kiri saling gontok – gontokan dan bully membully hingga pada akhirnya saya merasa lapar…(Maka saya memutuskan untuk makan siang sebentar, Dengan menu ikan pe sambel trasi sayur kacang panjang ala masakan dewe).

***

Mendengar kedua sisi pandangan di kepala saya bertempur beradu argumen, lantas jiwa yang sok bijak di kepala saya menengahi. Maklum juga… karena gua ini berzodiak Libra. maka semua – semua harus ditimbang dulu. Sesuai dengan Lambangnya yang Timbangan itu. …

Yuk mari lihat dengan seksama, bukan masalah menista atau bukan, bukan masalah pakai atau tidakpakai, bukan masalah tafsirnya bukan pula tentang kaidah berbahasa. Cuma ini tentang bagaimana kita semua melihat Ahok”.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tentang bagaimana manusia melihat sebuah kejadian, kira – kira begini kalimatnya: 

Bahwa yang terlihat oleh mata manusia hanyalah apa yang diinginkannya untuk  dilihat”. Sekali lagi, “Hanya apa yang di inginkan untuk dilihat”

Dalam kaitannya Ahok..

Maka munculah anggapan ahok “Gila” ,”Dibekingi“, “Pro Pengembang“,”Dajjal” dll.. karena pada dasarnya kita hanya mau melihat apa yang kita ingin lihat saja. Ketika misalnya ada “Ibu – ibu tua mengeluh datang pagi – pagi ke Balai kota, buat mengeluh tanahnya disrobot mafia tanah, Kemudian ahok meresponnya dengan cepat dan menginstruksikan anak buahnya menyelesaikan masalah tersebut, kita nggak cukup tertarik “Melihat” hal tersebut sebagai realitas. Ketika, Ahok berhasil menata sungai, trotoar dan fasilitas publik lainnya di Jakarta, kita hanya melihat “Itu duit pengembang, “, bukan melihatnya sebagai manfaatnya ada nggak buat masyarakat. Ketika Ahok berhasil membuat Transparansi di gedung birokrat pemda, kita hanya mau melihat “Itu hanya pencitraan dia buat nyapres di musim pilpres berikutnya”, ketika Ahok datang malam – malam buat nyarikan Nenek Tua Rumah di Rumah Susun yang kala itu nenek tersebut dikerjain mafia rusun, Kita melihat “Ahok sedang sok jagoan karena sok – sok an nantangin Mafia Rusun”, dan masih banyak ketika – ketika yang lain. 

Ya… memang manusia pada dasarnya melihat, apa yang mereka mau lihat”.

Jangankan kok Ahok,

Aku saja ketika bicara kepada teman saya untuk menonton film atau series korean, temenku langsung bilang “Alay loh“, “Nggak suka berbau korea“, dll.. tahu nggak kenapa dia bilang begitu?, ternyata teman saya melihat Korean tu ya dari kacamata “Boy Band” yang katanya nggak laki banget. Lantas iapun ogah ketika aku kasih dramkor – dramkor yang padahal cukup asyik dinikmati. 

Ya itulah manusia, mereka melihat apa yang mereka mau/inginkan lihat.

Sama saja ketika aku bilang begini ke kakak kandung saya “Ahok itu orang baikloh,” , Maka kakak kandung saya langsung merespon “Korban pencitraan lohh, nggak tahu apa yang dibelakangnya siapa”. hehehe….

Jadi kembali ke ujung persoalan , 

Apakah Gaya bicara Ahok itu “Gila” , “Penista Agama” dll ya tergantung kamu mau melihatnya bagaimana.  yang jelas di dunia ini gak ada tuh Obyektifitas, percaya deh. Kebenaran di dunia itu nilainya Subyektif. 

Bahkan ayat suci al qur’an itu dalam memahaminya perlu ilmu tafsir, dimana tafsir dan Al Qur’an itu dua hal yang berbeda. Tafsir muncul dari hasil berfikir manusia guna memahami sebuah ayat. “Jan – jane karepe piye ayat suci itu turun, manusia hanya menerka dengan keterbatasannya, dan cuma Allah lah yang tahu”, bahkan sampai sekarang beberapa Ayat, Manusia tak sanggup menafsirkan, salah satu contohnya : “Alif lam Min“… 

Itulah kita manusia, yang serba terbatas.

Kebenaran tuh begini kira – kira :

***

Dan kalau ditanya kenapa Ahok tak ditahan sama pihak kepolisian, jawabku simple:
“Penahanan itu dilakukan kalau seorang tersangka, ditakuti bisa menghilangkan Barang Bukti, dan juga berpeluang melarikan diri”,

Dan dalam kasus dugaan penistaan tersebut, agak gemes emang.

“Lha wong kita semua tahu, barang bukti yang dimaksud adalah Video yang di posting di youtube, dimana semua orang sudah pada ngeh. Apanya yang mau dihilangkan, toh sekarang sudah ditangan kepolisian. Lhoh… lha nanti kalau kabur gimana? * ya harusnya seneng kan, calon petarung pilkada hilang satu… hehehe…. 

Jan – jane maunya apa?“. *pertanyaan ini nggak perlu dijawab. cukup di renungkan sambil minum kopi saja. Toh MUI juga sudah mengambil jarak dengan Gerakan Pembela Fatwa yg dipelopori FPI. Muhammadiyah dan NU pun juga sudah sepakat menyerahkannya kepada proses hukum.

 Sedangkan yang masih ngotot, Yaaa orang – orangnya itu – itu aja kok. Coba deh cari motif mereka yang ngotot itu apa sebenarnya, Kalau mau mencari Insyaalah ketahuan kok. Sekarang mah gampang. Dizaman yang serba mudah mendapatkan informasi, tak susah kok untuk melihat latar belakang seseorang. Cukup masalahnya mau atau nggak…. 

heuheuheu…. 😂

Dalam masyarakat hukum, semuanya ada tata aturannya, jangan suka memaksakan kehendak. Bukankah kehendak kalian terhadap Ahok sudah lama kalian paksakan, hingga suatu ketika bikin “Gubernur Tandingan“, eh… itu FPI sih, dan FPI bukan menggambarkan “Wajah Mayoritas Muslim di Indonesia” ya kan, heuheu….. 

Tenang aja, Toh aktifis – aktifis HMI yang dulunya ditahan sudah di bebaskan kok, semuanya dibebeskan sampai berkas penyidikan selesai dan dilimpahkan ke kejaksaan. kalau nggak salah, istilah yang kayak gini namanya P21. kalau salah mohon di ralat ya. Dan kemudian kita berharap kelak sampai persidangan sidang akan dibuka kayak kasus sianida jessica. Biar kenapa,? biar kita semua tahu, apa saja motif dari kejadian ahok ini. Murni penistaan, politik atau hanya “Game” dari mereka – mereka yang sedang berebut kekuasaan. 

Kita nikmati saja, sambil nyrumput kopi dan nonton Badminton Tournament China Open di minggu siang ini. hehehe 

Itulah Han sedikit persfektif saya,…

Semoga memberikan sisi lain dalam melihat dan menilai sebuah kejadian. dan inget “Obyektifitas” itu nggak ada sama sekali di dunia. percaya deh…. hehehe..

Pun termasuk tulisan saya… 

Wassalamualikum wr.wb.

Iklan

Lanjutan Cerita Kawah Ijen

Jadi setelah beberapa menit kami berada di puncak ijen, kami pun lekas turun. Nah dalam perjalanan itu kami menemukan beberapa cerita yang menyentuh. Diantaranya adalah Para penambang belerang yang penuh semangat mengangkut beban berat demi sesuap nasi buat keluarga mereka. Ada yang dengan kreatifitasnya juga mengolah belerang menjadi pernak – pernik accesoris yang cukup unik. Ada lagi cerita yang menakutkan kami, yakni cerita tentang jatuhnya bule yang sedang foto selfie di puncak. Ada lagi seorang bule yang turun dengan menggunakan kendaraan kuda kemudian kudanya jatuh kejurang. Dan oleh sebabnya sekarang kuda tidak digunakan oleh warga dalam pendakian ijen.Di tengah perjalanan menuju turun kebawah, sayapun menyempatkan diri untuk santai sejenak di warung kopi yang ada di tengah perjalan.

4

3

Kawah ijen juga menyediakan tempat sampah di tengah  tengah perjalanan. Ini menarik karena demi menjaga kebersihan lingkungan, para wisatawan yang datang di tuntut agar tidak membuang sampah sembarangan.

56

Setelah sampai di bawah, kamipun bersantai denganmeminum kopi sembari ngobrol sana – sini. Driver, daet dan tamu berkumpul jadi satu. Menceritakan kehidupan masing – masing. Dan dari pembahasan tersebut, pembahasan yang paling menarik dan terkesan dekat adalah pembahasan bola. Yapz… tamu saya suka Arsenal dan Chelsea, sedangkan saya adalah fans sejati setan merah. Pembahasan pun tak jauh – jauhdari bursa transfer. hehehe…  Sekian cerita pendek saya di blog ku yang sederhana ini. Sampai ketemu di cerita – cerita berikutnya…

Maafkan Kami Turun Ke Jalan …

Mahasiswa ya begitu itu, teriak …. dan teriak. Kalau tidak Nggontok ya bukan mahasiswa. Bicaranya keras, kalau tak keras maka tak dianggap idealis. Maka harap maklum kalau jalan sampean menuju ke kantor merasa terganggu lalinnya, karena adanya teman – teman Mahasiswa turun ke jalanan.

AMenyalurkan aspirasi dengan turun ke jalan sudah ada semenjak negara ini berdiri. Itu kata sejarah loh, bukan kata saya. Dulu kala semenjak negara api belum menyerang, kita mengenal peristiwa malari, kemudian yang masih hangat peristiwa 98 dan masih banyak lagi. Semuanya sama, sama-sama turun ke jalan dan bikin macet orang lewat. Dan sekarang mahasiswa di era serba modern masih menggunakan cara tersebut. Aku kok agak anu ya, soalnya substansi turun kejalan sudah hilang, karena orang umum sudah mengagpnya hal lumrah nan biasa. Adrenalinenya sudah nggak sama seperti era soekarno atauun Mbah Harto.

Nah, kalau orang umum sudah menganggapnya biasa, maka kemudian saya bertanya “terus daya dobraknya dimana?”. Kan niatan turun ke jalan agar aspirasi mereka terkesan mendobrak. Kalau dahulu, turun ke jalan dianggap mendobrak, dan dianggap peristiwa luar biasa. Mengumpulkan orang sebanyak itu dizamannya sangatlah susah, butuh waktu berbulan – bulan emi perencanaan yang matang. Maka peristiwa nya pun juga seheboh yg kita rasakan dalam sejarah. Namun sekarang apa sama seperti itu, TidaBisa mengumpulkan orang sebanyak itu hal gampang dilakukan sekarang ini. Cukup dengan hastag di twitter, besoknya orang sudah berjubel di bundaran HI. Dan dampaknya, banyak diantara mereka tak tahu substansi demo yang dilakukan. Itulah yang terjadi sekarang.

Maka dari itu, saya yang pernah menjadi mahasiswa mau sedikit nimbrung, gimana kalau metode turun ke jalan sekarang ini dirubah. Misalnya dengan cara – cara yang sedikit elegant. menulis pendapat di media massa, bagi yang suka stand up comedy bisa membawakan materi kritik mereka diatas panggung, yang suka musik bisa lewat karya musiknya dan juga bagi yang suka menggambar bisa lewat meme ataupun lukisan. Saya kira kalau orang mau untuk melakukan ini, pemerintah selaku pembuat kebijakan akan berfikir dua kali. karena dampak seperti meme dll bisa sangat masif di era yang serba social media sekarang ini. Ini cuma usul saya pribadi, kalaupun tidak dianggap ya nggak apa – apa. Karena tak ada hukum fardhu disitu. Sekian dan terima kasih.

Humanisme Dalam Secangkir Kopi

8114d“Mak … , Kopinya satu. Gulanya sedikit. “

Diponrantos mas, sekedap”, Jawab Mak Ten dengan bahasa jawa halus.

Minum kopi itu selalu nikmat, sebari mengobrol dan berbincang hal – hal yang nggak penting. Asal gak mengandung Ghibah, ya boleh – boleh saja to. Nah sambil menunggu kopi pesananku datang, izinkan saya berbagi sedikit tentang tulisan yg barusan saya baca dalam kolom suara muhammadiyah barusan.

Tahukan sampean apa itu humanisme?, kalau saya sendiri mengenal humanisme ada dua sisi. Sisi pertama dari sudut pandang Sekulerisme dan kedua dari sudut pandang Islam (agama saya). Pemikiran humanisme melahirkan doktrin trinitas, yaitu Kebebasan (liberty), persaudaraan (fathernity), dan persamaan (equality). Humanisme pada awalnya lahir di italia abad ke 14. Humanisme lahir dengan tujuan untuk mendobrak kebekuan dalam hegemoni gereja yang memasung kebebasan, kreativitas, dan nalar manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan ROmawi dan Yunani. Humanisme mengembangkan antroposentrisme, yang artinya bahwa paham yang mendewakan manusia melawan teotrisme (paham serba tuhan).

Auguste Comte memperkenalkan kepada kita tentang filsafat positivisme sebagai era baru pasca alam pikiran mitos dan metafisika, yang memperkenalkan “religion humanitarian” atau agama kemanusiaan. Sedangkan, Nietshzhe dan Ludwig van Feurbach memelopori filsafat anti tuhan. Sementara itu para pemikir lain mengembangkan sikap agnotisme atau anti agama. Paham humanisme inilah yang disebut dengan Humanisme sekuler, dimana manusia dijauhkan dari nilai – nilai agama.

Dalam islam, Humanisme adalah Humanisme yang tetap tak menjauh dari Sumber islam itu sendiri, yaitu Al Quran dan Sunah Nabi. ISlam selalu mengakui kebebasan, persaudaran dan persamaan sebagai fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Serta yang paling penting adalah Islam tidak mengenal kebebasan yang absolut. Kebebasan tetap ada batasannya.

Nah, berhubung kopi saya sudah diantarkan Mak Ten, bicara Humanisme nya diakhiri saja. Kita lebih baik bicara tentang Manchester United yang gagal menang lawan tim divisi tiga. gimana, setuju nggak sampean? ….

Ngurus SKCK Itu …

Barusan saya ngurus SKCK buat ngelamar pekerjaan, saya kira kalau sudah presidennya jokowi, ngurus surat semacam itu mudah dan cepat. Setidaknya itu yang saya harapkan. Tapi nyatanya kok nggak ya?. Masak iya. ngurus surat yang menjelaskan apakah kita berkelakuan baik atau tidak harus lewat instasi – instasi yang tak berkaitan. Harusnya ngurus surat seperti SKCK tinggal datang ke kepolisian saja, tak harus datang ke pak kades dulu , ke Danramil segala serta ke pak camat. Buang – buang waktu aja ….

Dizaman yang sudah reformis gini masak iya, Danramil berwenang apakah saya pernah melakukan tindak kriminal atau tidak. Terus ngapain juga saya minta pendapat keterangan mereka? kayak zaman masih dipegang pak harto saja. Udah gitu di target uang rokok segala.. Duh ….

Harusnya ngurus surat SKCK tu simple, kepolisian tinggal buka database mereka. Apa iya nama saya pernah terlibat tindak kriminal atau tidak. Gitu aja kok repot toh ….

Yah harapan saya, nantinya urus – urus surat semacam gitu cukup satu pintu, cukup di instasi kepolisian saja. tak harus bertele – tele kesana – kemari. Buang – buang waktu dan duit saja…

Jika Aku Jurnalis …

Menjadi Jurnalis itu mengasikan. Kita akan bertemu hal – hal baru dan orang – orang baru setiap harinya. Kita juga bisa ketemu siapapun yang ingin kita temui. Mau itu artis, pengusaha, gubernur, bupati atau presiden sekalipun. Asalkan mereka ada hubungannya dengan kepentingan publik, kita berhak untuk mendapatkan informasi dari mereka. Karena memang peran jurnalis ada di tengah – tengah segala pemilik kepentingan.

kebebasan-pers1Tapi tak hanya mengasikan saja, Bahwa jurnalis dalam menjalankan tugasnya haruslah dituntut selalu berfikir cerdas, punya rasa ingin tahu lebih, smart, tanggap dan peka dalam kondisi apapun. Jangan sampai masyarakat terutama responden merasa terganggu apalagi alergi terhadap tingkah polah jurnalis. Yah setidaknya itulah yang saya rasakan belakangan ini.  Banyak jurnalis yang kadang tidak bersikap simpatik dan kadang terlihat bodoh.

. Saat mengangkat berita musibah misalnya. Kita sebagai jurnalis hendaknya meminta izin dulu, apakah pihak keluarga mengizinkan kita mengambil gambar atau mewawancarainya. Tak lupa juga mengucapkan rasa berbela sungkawa kepada mereka. Baru kemudian jurnalis menjalankan mengambil perannya yang sebenarnya. Jurnalis yang cerdas tak akan pernah bertanya kepada responden “Bagaimana perasaan saudara sekarang ini?” Apa sebelumnya sudah mendapat firasat mengenai musibah yg akan terjadi?, Padahal kita tahu dan sadar bahwa responden tersebut menangis tersedu-sedu  meratapi musibah yang menimpanya.

Dan lagi, dalam kasus kecelakaan pesawat AirAsia yang terjadi baru – baru ini, Jurnalis hendaknya bertanya yang cerdas, misalnya begini “Apakah keluarga akan mengajukan tuntutan hukum kepada pihak maskapai karena telah dianggap lalai ?. Bukannya malah bertanya“Apakah korban dikenal baik oleh tetangga?. Padahal kita tahu bersama bahwa kecelakaan pesawat tidak punya korelasinya dengan kehidupan korban penumpang pesawat dengan para tetangganya. Ironis memang, ketika kita tahu yang bertanya seperti itu adalah jurnalis televisi nasional. Tapi saya yakin wartawan Radar Tulungagung tak pernah melakukan itu. hehehe.

Selain cerdas, wartawan haruslah punya rasa ingin tahu berlebih. Saya sendiri selaku orang yang mempunyai hobi dalam dunia seni, musik dan photography khususnya. Juga tak lupa mengikuti ikhwal perkembangan dunia politik setiap hari. Yah karena bagi saya informasi tentang perkembangan politik itu penting. Agar kita tidak dianggap apatis terhadap berjalannya sebuah pemerintahan. Jadi, sangatlah beruntung apabila saya bisa terjun di dunia jurnalistik. Karena selain bisa menjalani pekerjaan, kita bisa sambil belajar dan mendapat hal – hal baru setiap hari.

Selain cerdas dan punya rasa ingin tahu, jurnalis juga harus bersikap peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam beberapa kesempatan saya pernah menjumpai teman jurnalis yg bertindak kurang peka terhadap sekitarnya. Pernah dalam perhelatan konser musik, saya melihat beberapa jurnalis foto menghalangi penglihatan penonton dengan mondar – mandir di depan panggung. Sampai – sampai penonton meneriaki jurnalis karena merasa terganggu. Dan tak urung berapa lama, pihak penyelenggara mengusir jurnalis tersebut. Nah, melihat kejadian itu, saya selaku orang yang pernah menekuni dunia bawah panggung merasa malu. Harusnya jurnalis sadar bahwa keberadaan dalam moment tersebut hanyalah cukup sampai meliput acara, tanpa menggagu mereka yang menyelenggarakan acara dan juga yang menikmati acara.

Ndilalah Kersane Allah

Suka MU …? pasti tahu dong “ chicarito hernandez “ . Iya … chicarito terkenal dengan goal – goal alamiah. Ia selalu mencetak goal dengan gaya khasnya. Mau dari kepala menukik atau dengan kaki kepleset. Banyak orang menyebutnya hoki / ngecak / kebetulan atau juga ndilalah. Angkatan 90’an juga mengenal sosok F.Inzaghi yang terkenal dengan goal – goal kebetulannya.

foto unik lukisanLalu apa benar goal tersebut tercipta karena kebetulan. Bukannya pemain mempunyai niat dan tujuan untuk mencetak goal sebelum bertanding, Bukannya pemain juga diajarkan mencari posisi yang tepat, Bukannya juga pemain mencetak goal dengan gerakan kaki atau kepala yang dihasilkan dari olah pikiran dan hatinya saat itu.

Inilah yang rancu selama ini, istilah “kebetulan” dengan “kebenaran” selalu diartikan berbeda. Kebetulan yang dalam bahasa inggrisnya “blessing in disguise”, bahasa arabnya “min haitsu la yahtasib” dan bahasa awamnya “ndilalah”. Dipakai untuk menjelaskan nasib baik yang tak disengaja.

Sedangkan “kebenaran” sama juga dengan “the thruth” atau “al-haq”. yang biasanya dipakai untuk menjelaskan ayat-ayat tuhan,hukum dan sebagainya. Pertanyaan kita kembali apakah kebetulan dan kebenaran benar – benar tak serupa? apa iya …? Coba renungkan sejenak. (abdul azis hasan )