Penistaan Agama

Kebenaran fana, Obyektifitas Semu. Sedikit Tulisan Rakyat Yang Serba Tak Tahu

​Assalamualaikum Wr.Wb…

“Selamat pagi Adihan,..

Gimana minggu pagi ini, baik kan? “

Insyaallah

Jadi gini, berhubung semalam kamu kirim tautan blog tentang ulasan 4/11 dan Mr.Ahok dari sudut pandang seorang Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari kampus UI. Maka ijinkan saya untuk merespon tulisan tersebut, tentu dengan kacamata saya sebagai warga negara bukan sebagai akademisi, politi, ataupun kader parpol.

Sekali lagi maaf, kalau tulisan ini nantinya tak cukup Obyektif, Netral ataupun dengan kaidah keilmuan seperti tulisan Doktor Arief tersebut. Maklumilah saya ini hanya orang dan rakyat biasa yang tinggal di pelosok desa nun jauh disana. 

Kira – kira inti dari Tulisan Doktor Arief yang kamu kirim semalam begini,

Bahwa Ahok ini penuh dengan kegilaan kalau bicara, tak heran banyak memancing reaksi publik. Dan hingga suatu ketika Ahok terpeleset dengan Surat Al Maidah 51, yang kemudian di respon masyarakat muslim dengan gerakan 4/11. Faktanya kini Ahok sudah Tersangka, lantas kenapa Penegak Hukum tak menahan ?”. 

Baiklah…

Menurut saya, melihatnya nggak sesimple itu,..

Mari Doktor Arief aku ajak kembali ke 4 atau 5 tahun ke belakang. Tujuannya satu, kalau istilah agama namanya “Asbabul Nuzul“, Dan “Asbabul Nuzul” Ini kita gunakan sebagai metode pendekatan untuk mempermudah, mengetahui dan menafsirkan sebuah kejadian. (Walau sebenarnya istilah yang saya gunakan tak tepat sama sekali. Cuman saya mau mengatakan begini, kalau bahasa jawanya -nyapo kok sampai sebesar itu fenomena ahok”

Pertama, Apa benar sih Ahok segila itu kalau bicara?

Sebagian orang mungkin berkata “Gilaaaa banget“., ada juga yang menganggap  “Biasaa aja,”, ada juga yang  bilang “No Comment,ngurusin kreditan montor aja belum lunas, ngapain mikirin ahok“., Bahkan ada juga yang bilang”Sukaaaaa banget,”. Asal doktor arief tahu, sampai saat ini aku belum pernah melakukan Survei dan penelitian mengenai Respon publik terhadap gaya bicara ahok. Maka semua itu ku tulis serba kemungkinan. 

Dalam kaitan Surat Al Maidah 51 misalnya, responku  begini:

“Ngapains sih hok, nyinggung – nyinggung Surat tersebut. Sudah tahu kamu Nasrani. kok ya bicara urusan rumah tangga orang lain, ini namanya Offside hok” .  Coba saja waktu itu tak nyinggung ayat, mungkin kita – kita sudah rame bicara program – program yang ditawarkan saat kampanye. Iya to hok…. kamu sih Offide segala, ngasih peluang orang untuk lagi – lagi bicara wilayah SARA”… 

Masak iya respond saya, se simple itu”?, ini Ahok menyinggung Ayat Suci loh… harusnya kamu siap mati membela agamamu. Yok opo sih zis ? *ekstrem kanan di kepala saya mengatakan begini. Maklumlah DNA saya ini masih sedikit banyak, tercampur DNA Masyumi. (Partai Islam Awal Kemerdekaan). dan Kebetulan bapak saya juga Bag. Seksi Dakwah di MUI pun sebagai Seksi Dakwah di Ormas Muhammadiyah di kampung saya. Kakak jg mantan Ketua IPM dan HMI Kab Tulungagung. jadi wajar saya punya garis keturunan untuk punya pikiran kayak diatas. Bahwa ekstrim kanan di kepala saya terus berkata “Hendaknya kita jihad untuk melawan penista agama”. Allahu Akbar…… .

Namun,….

Sesaat kemudian, Ekstrim Kiri di kepala saya lantas sedikit beragumen:
Gini loh, Masak gitu aja kamu anggap menista?,  kalaupun menista pastilah ahok digebukin rame – rame di pulau seribu saat itu juga, sudah tahu kan mayoritas yang datang umat muslim semua. Tapi kan nyatanya disana senyum – senyum aja. Masak kamu berani bilang, Audience di Pulau seribu Nggak ngerti Agama sama sekali. Atau mungkin cuman sekedar audience bayaran yang pura – pura muslim sehingga diam mendengar sebuah penyataan penistaan, berani kami beranggapan begini”. – Jujur saya tak berani menilai… orang – orang itu.

“Kita sudah sepakat hidup berdemokrasi, maka harusnya Ahok bebas dong berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama, pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan. “

“Pasal penistaan ini memang pasal karet, sudah saatnya dibenahi. Kok bisa?

Ya bisalah… 

Lha wong faktanya, Patung Budha dipaksa diturunkan, Muslim masih saja ada yang mengolok nasrani dg Yesus dan Tuhan Bapaknya, Kejawen di katain Musrik dan syirik. dan masih banyak lagi. Yang begitu – begitu apa tak termasuk penistaan sebuah keyakinan. Jangan cuman kita merasa mayoritas, seenaknya saja semua hal dilihat dari kacamata kita sendiri dan kemudian memaksakan pandangannya ke orang lain. Apa penistaan berlaku cuman kepada mereka yang non muslim. ? * 

Duh, itulah pikiran ekstrim kiri di kepala saya. Dan pada akhirnya kedua sisi kepala saya baik yang kanan maupun kiri saling gontok – gontokan dan bully membully hingga pada akhirnya saya merasa lapar…(Maka saya memutuskan untuk makan siang sebentar, Dengan menu ikan pe sambel trasi sayur kacang panjang ala masakan dewe).

***

Mendengar kedua sisi pandangan di kepala saya bertempur beradu argumen, lantas jiwa yang sok bijak di kepala saya menengahi. Maklum juga… karena gua ini berzodiak Libra. maka semua – semua harus ditimbang dulu. Sesuai dengan Lambangnya yang Timbangan itu. …

Yuk mari lihat dengan seksama, bukan masalah menista atau bukan, bukan masalah pakai atau tidakpakai, bukan masalah tafsirnya bukan pula tentang kaidah berbahasa. Cuma ini tentang bagaimana kita semua melihat Ahok”.

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tentang bagaimana manusia melihat sebuah kejadian, kira – kira begini kalimatnya: 

Bahwa yang terlihat oleh mata manusia hanyalah apa yang diinginkannya untuk  dilihat”. Sekali lagi, “Hanya apa yang di inginkan untuk dilihat”

Dalam kaitannya Ahok..

Maka munculah anggapan ahok “Gila” ,”Dibekingi“, “Pro Pengembang“,”Dajjal” dll.. karena pada dasarnya kita hanya mau melihat apa yang kita ingin lihat saja. Ketika misalnya ada “Ibu – ibu tua mengeluh datang pagi – pagi ke Balai kota, buat mengeluh tanahnya disrobot mafia tanah, Kemudian ahok meresponnya dengan cepat dan menginstruksikan anak buahnya menyelesaikan masalah tersebut, kita nggak cukup tertarik “Melihat” hal tersebut sebagai realitas. Ketika, Ahok berhasil menata sungai, trotoar dan fasilitas publik lainnya di Jakarta, kita hanya melihat “Itu duit pengembang, “, bukan melihatnya sebagai manfaatnya ada nggak buat masyarakat. Ketika Ahok berhasil membuat Transparansi di gedung birokrat pemda, kita hanya mau melihat “Itu hanya pencitraan dia buat nyapres di musim pilpres berikutnya”, ketika Ahok datang malam – malam buat nyarikan Nenek Tua Rumah di Rumah Susun yang kala itu nenek tersebut dikerjain mafia rusun, Kita melihat “Ahok sedang sok jagoan karena sok – sok an nantangin Mafia Rusun”, dan masih banyak ketika – ketika yang lain. 

Ya… memang manusia pada dasarnya melihat, apa yang mereka mau lihat”.

Jangankan kok Ahok,

Aku saja ketika bicara kepada teman saya untuk menonton film atau series korean, temenku langsung bilang “Alay loh“, “Nggak suka berbau korea“, dll.. tahu nggak kenapa dia bilang begitu?, ternyata teman saya melihat Korean tu ya dari kacamata “Boy Band” yang katanya nggak laki banget. Lantas iapun ogah ketika aku kasih dramkor – dramkor yang padahal cukup asyik dinikmati. 

Ya itulah manusia, mereka melihat apa yang mereka mau/inginkan lihat.

Sama saja ketika aku bilang begini ke kakak kandung saya “Ahok itu orang baikloh,” , Maka kakak kandung saya langsung merespon “Korban pencitraan lohh, nggak tahu apa yang dibelakangnya siapa”. hehehe….

Jadi kembali ke ujung persoalan , 

Apakah Gaya bicara Ahok itu “Gila” , “Penista Agama” dll ya tergantung kamu mau melihatnya bagaimana.  yang jelas di dunia ini gak ada tuh Obyektifitas, percaya deh. Kebenaran di dunia itu nilainya Subyektif. 

Bahkan ayat suci al qur’an itu dalam memahaminya perlu ilmu tafsir, dimana tafsir dan Al Qur’an itu dua hal yang berbeda. Tafsir muncul dari hasil berfikir manusia guna memahami sebuah ayat. “Jan – jane karepe piye ayat suci itu turun, manusia hanya menerka dengan keterbatasannya, dan cuma Allah lah yang tahu”, bahkan sampai sekarang beberapa Ayat, Manusia tak sanggup menafsirkan, salah satu contohnya : “Alif lam Min“… 

Itulah kita manusia, yang serba terbatas.

Kebenaran tuh begini kira – kira :

***

Dan kalau ditanya kenapa Ahok tak ditahan sama pihak kepolisian, jawabku simple:
“Penahanan itu dilakukan kalau seorang tersangka, ditakuti bisa menghilangkan Barang Bukti, dan juga berpeluang melarikan diri”,

Dan dalam kasus dugaan penistaan tersebut, agak gemes emang.

“Lha wong kita semua tahu, barang bukti yang dimaksud adalah Video yang di posting di youtube, dimana semua orang sudah pada ngeh. Apanya yang mau dihilangkan, toh sekarang sudah ditangan kepolisian. Lhoh… lha nanti kalau kabur gimana? * ya harusnya seneng kan, calon petarung pilkada hilang satu… hehehe…. 

Jan – jane maunya apa?“. *pertanyaan ini nggak perlu dijawab. cukup di renungkan sambil minum kopi saja. Toh MUI juga sudah mengambil jarak dengan Gerakan Pembela Fatwa yg dipelopori FPI. Muhammadiyah dan NU pun juga sudah sepakat menyerahkannya kepada proses hukum.

 Sedangkan yang masih ngotot, Yaaa orang – orangnya itu – itu aja kok. Coba deh cari motif mereka yang ngotot itu apa sebenarnya, Kalau mau mencari Insyaalah ketahuan kok. Sekarang mah gampang. Dizaman yang serba mudah mendapatkan informasi, tak susah kok untuk melihat latar belakang seseorang. Cukup masalahnya mau atau nggak…. 

heuheuheu…. 😂

Dalam masyarakat hukum, semuanya ada tata aturannya, jangan suka memaksakan kehendak. Bukankah kehendak kalian terhadap Ahok sudah lama kalian paksakan, hingga suatu ketika bikin “Gubernur Tandingan“, eh… itu FPI sih, dan FPI bukan menggambarkan “Wajah Mayoritas Muslim di Indonesia” ya kan, heuheu….. 

Tenang aja, Toh aktifis – aktifis HMI yang dulunya ditahan sudah di bebaskan kok, semuanya dibebeskan sampai berkas penyidikan selesai dan dilimpahkan ke kejaksaan. kalau nggak salah, istilah yang kayak gini namanya P21. kalau salah mohon di ralat ya. Dan kemudian kita berharap kelak sampai persidangan sidang akan dibuka kayak kasus sianida jessica. Biar kenapa,? biar kita semua tahu, apa saja motif dari kejadian ahok ini. Murni penistaan, politik atau hanya “Game” dari mereka – mereka yang sedang berebut kekuasaan. 

Kita nikmati saja, sambil nyrumput kopi dan nonton Badminton Tournament China Open di minggu siang ini. hehehe 

Itulah Han sedikit persfektif saya,…

Semoga memberikan sisi lain dalam melihat dan menilai sebuah kejadian. dan inget “Obyektifitas” itu nggak ada sama sekali di dunia. percaya deh…. hehehe..

Pun termasuk tulisan saya… 

Wassalamualikum wr.wb.